Seruan Boikot Menggema di Media Sosial, Saham Bank Mandiri Langsung Turun

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat melemah 0,47% atau terkoreksi 20 poin ke level Rp4.200,00 per lembar pada penutupan perdagangan Selasa (25/8/2026). (Foto: Istimewa-portaljtv.com)
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat melemah 0,47% atau terkoreksi 20 poin ke level Rp4.200,00 per lembar pada penutupan perdagangan Selasa (25/8/2026). (Foto: Istimewa-portaljtv.com)

RADAR BANYUWANGI – Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI melemah 0,47 persen menjadi Rp4.200 per saham pada penutupan perdagangan Selasa (25/8/2026), ketika polemik pembatasan transaksi rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Mas Botok, terus memantik sorotan publik. Namun, koreksi saham tersebut tidak bisa secara langsung disimpulkan sebagai dampak polemik rekening, karena pergerakan harga saham dipengaruhi banyak faktor.

Saham Bank Mandiri bergerak dalam tekanan sepanjang perdagangan. BMRI sempat menyentuh level terendah Rp4.170 per saham, sementara volume transaksi tercatat sekitar 86,05 juta saham.

Koreksi tersebut terjadi ketika nama Bank Mandiri menjadi perbincangan luas di media sosial menyusul kabar penundaan transaksi rekening Supriyono yang disebut menampung dana sekitar Rp80,9 juta.

Dana tersebut dihimpun dari dana pribadi dan donasi masyarakat untuk menunjang kebutuhan akomodasi serta logistik warga Pati yang berencana menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta.

Polemik Rekening Menjadi Sorotan

Persoalan bermula dari pembatasan transaksi rekening milik Supriyono. Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai dasar dan prosedur penundaan transaksi rekening.

Bank Mandiri telah menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan bahwa pembatasan transaksi dilakukan berdasarkan permintaan resmi aparat penegak hukum sesuai prosedur yang berlaku.

Di sisi lain, Polda Metro Jaya memberikan penjelasan bahwa tindakan tersebut bukan pemblokiran mutlak. Aparat menyebut telah mengajukan surat permintaan penundaan transaksi untuk kepentingan penyelidikan aliran dana.

Perbedaan istilah tersebut menjadi salah satu titik penting dalam polemik yang berkembang di ruang publik.

Sebab, bagi masyarakat, pembatasan akses terhadap rekening bukan hanya persoalan teknis perbankan. Ketika rekening digunakan untuk menampung dana masyarakat, keputusan penundaan transaksi dapat dengan cepat berkembang menjadi isu kepercayaan.

Saham BMRI Turun, tetapi Jangan Terjebak Kesimpulan

Koreksi saham BMRI pada perdagangan 25 Agustus memang terjadi bersamaan dengan memanasnya polemik.

Namun, hubungan antara keduanya perlu ditempatkan secara hati-hati.

Saham perbankan dapat bergerak karena berbagai faktor, mulai dari kondisi pasar secara keseluruhan, sentimen investor, aksi jual-beli, kinerja perusahaan, prospek sektor keuangan, hingga kondisi ekonomi.

Karena itu, penurunan BMRI sebesar 20 poin atau 0,47 persen belum cukup untuk membuktikan bahwa sentimen polemik rekening Supriyono menjadi penyebab langsung koreksi saham.

Yang lebih terlihat jelas adalah meningkatnya eksposur negatif Bank Mandiri di ruang digital.

Seruan Boikot Menggema di Media Sosial

Di media sosial, respons publik berkembang lebih jauh.

Sejumlah warganet menyerukan aksi boikot terhadap Bank Mandiri sebagai bentuk protes atas pembatasan transaksi rekening Supriyono.

Salah satu unggahan yang ramai dibicarakan bahkan memperlihatkan kartu ATM Bank Mandiri yang telah digunting.

Pemilik akun X @putriy04_ menulis ajakan agar saldo rekening ditarik dan kartu ATM dihancurkan sebagai bentuk protes.

Unggahan semacam itu menunjukkan bagaimana persoalan yang awalnya berkaitan dengan transaksi sebuah rekening dapat berubah menjadi sentimen publik terhadap sebuah merek perbankan.

Meski demikian, seruan boikot di media sosial juga tidak dapat disamakan dengan dampak nyata terhadap kinerja bisnis Bank Mandiri.

Dari Persoalan Rekening Menjadi Isu Kepercayaan

Kasus Supriyono memperlihatkan satu hal penting: persoalan rekening dapat memiliki dampak komunikasi yang jauh lebih besar dibanding nilai dana yang dipersoalkan.

Saldo sekitar Rp80,9 juta mungkin relatif kecil dibandingkan skala bisnis Bank Mandiri. Namun, ketika rekening tersebut dikaitkan dengan dana donasi masyarakat dan aksi unjuk rasa, persoalannya berubah menjadi isu yang sensitif.

Publik kemudian tidak hanya mempertanyakan mengapa transaksi ditunda, tetapi juga bagaimana bank menjalankan prosedur ketika berhadapan dengan rekening yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat.

Di titik inilah komunikasi menjadi sangat penting.

Penjelasan mengenai dasar hukum, permintaan aparat, mekanisme penundaan transaksi, serta proses pemulihan akses rekening menjadi informasi yang dapat menentukan persepsi publik.

Apa Dampaknya bagi Bank Mandiri?

Untuk jangka pendek, polemik tersebut berpotensi meningkatkan tekanan reputasi terhadap Bank Mandiri, terutama di media sosial.

Namun, untuk menyimpulkan adanya dampak material terhadap kinerja keuangan atau harga saham BMRI, dibutuhkan indikator yang jauh lebih kuat.

Investor akan melihat laporan keuangan, pertumbuhan kredit, kualitas aset, profitabilitas, kondisi likuiditas, kebijakan moneter, hingga sentimen pasar secara keseluruhan.

Dengan demikian, penurunan BMRI pada perdagangan Selasa lebih tepat dibaca sebagai pergerakan pasar yang berlangsung ketika sentimen negatif terhadap Bank Mandiri sedang ramai, bukan sebagai bukti tunggal bahwa polemik rekening menyebabkan saham anjlok.

Bagi Bank Mandiri, tantangan terbesar justru berada di luar layar perdagangan saham: bagaimana mengembalikan kepercayaan publik setelah isu pembatasan rekening tersebut berkembang menjadi seruan boikot.

Pada akhirnya, polemik ini bukan hanya soal saham yang turun 0,47 persen. Ini juga tentang bagaimana sebuah keputusan administratif perbankan dapat berubah menjadi isu reputasi ketika masuk ke ruang digital.

Dan selama penjelasan mengenai kasus Supriyono masih menjadi perhatian publik, Bank Mandiri harus menghadapi dua medan sekaligus: menjaga sentimen investor di pasar modal dan memulihkan kepercayaan nasabah di ruang publik. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : portaljtv.com
rekening Supriyono Saham BMRI Polemik Bank Mandiri Boikot Bank Mandiri bank mandiri