RADAR BANYUWANGI – Jakarta segera memiliki jalan tol layang bertingkat dengan ketinggian mencapai 38 meter, hampir 2,5 kali lebih tinggi dari Tol Layang MBZ. Jalan Tol Harbour Road II (HBR II) ruas Ancol Timur–Pluit kini memasuki progres pembangunan 44,12 persen dan ditargetkan rampung pada 2028 untuk mengurai kemacetan sekaligus memperkuat konektivitas logistik Jakarta Utara.
Tol Harbour Road II memiliki konsep yang tidak biasa. Jalan tol sepanjang 9,7 kilometer itu dibangun di atas Jalan Tol Sedyatmo yang sudah beroperasi, sehingga membentuk struktur jalan layang bertingkat atau double decker.
Proyek tersebut menjadi salah satu infrastruktur jalan paling ambisius di Jakarta karena dibangun di kawasan dengan lalu lintas yang sangat padat, terutama jalur yang menghubungkan kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Ancol, Pluit, hingga akses menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Setinggi 38 Meter, Kalahkan Tol Layang MBZ
Keunikan paling mencolok Tol Harbour Road II terletak pada ketinggiannya.
Struktur jalan layang HBR II dirancang mencapai 38 meter. Angka tersebut membuatnya menjadi jalan tol elevated tertinggi di Jakarta dan melampaui Tol Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed (MBZ) yang memiliki ketinggian sekitar 15 meter.
Dengan desain tersebut, HBR II bukan sekadar membangun jalan baru, tetapi menambah lapisan infrastruktur di atas jaringan tol yang sudah ada.
Konfigurasi jalan dirancang 2×3 lajur dengan kecepatan rencana mencapai 80 kilometer per jam. Total panjang ruas yang dibangun mencapai 9,7 kilometer.
Model konstruksi bertingkat itu menjadi solusi untuk menghadirkan kapasitas jalan tambahan tanpa harus sepenuhnya mengambil koridor baru di kawasan perkotaan yang sudah sangat padat.
Progres Konstruksi Sudah 44,12 Persen
Pembangunan Tol Harbour Road II kini terus dikebut.
Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk Arief Budhy Hardono mengatakan progres fisik proyek telah mencapai 44,12 persen. Sementara itu, ketersediaan lahan yang sudah melalui proses UGK disebut telah mencapai sekitar 77 persen.
"Progres kami ini 44,12 persen dengan availability dari tanah yang sudah UGK infonya sudah 77 persen," kata Arief dikutip dari Instagram CMNP @official.cmnp, Minggu (23/8/2026).
Menurut dia, area yang saat ini sudah tersedia dan dapat dikerjakan kontraktor mencapai 81,55 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pengerjaan proyek tetap berjalan, mengingat pembangunan dilakukan di koridor perkotaan yang sudah dipenuhi aktivitas kendaraan dan infrastruktur eksisting.
Habiskan Rp15,08 Triliun, Ditargetkan Rampung 2028
Pembangunan Tol Harbour Road II membutuhkan investasi sekitar Rp15,08 triliun.
Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2028. Kehadirannya diharapkan menjadi alternatif bagi kendaraan yang selama ini mengandalkan Tol Harbour Road I dan jaringan jalan di sisi utara Jakarta.
Masalah yang hendak diurai bukan hanya kemacetan kendaraan pribadi.
Koridor tersebut juga menjadi jalur penting bagi pergerakan logistik dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Tingginya aktivitas kendaraan angkutan barang membuat kapasitas jalan menjadi persoalan penting bagi konektivitas kawasan industri dan distribusi barang.
Dengan hadirnya HBR II, arus kendaraan diharapkan dapat terbagi sehingga beban Jalan Martadinata dan koridor menuju Pluit tidak semakin berat.
Jadi Jalur Baru dari Tanjung Priok ke Pluit
Salah satu manfaat strategis HBR II adalah memperkuat konektivitas kawasan utara Jakarta.
Jalur Ancol Timur–Pluit akan memberikan alternatif bagi pergerakan kendaraan yang berasal dari kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Arus kendaraan logistik yang selama ini bertumpu pada koridor Martadinata diharapkan dapat lebih terurai.
Konektivitas tersebut juga berkaitan dengan akses menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Dengan demikian, proyek HBR II tidak hanya berfungsi sebagai jalan tol baru, tetapi juga bagian dari upaya memperbaiki rantai konektivitas transportasi dan logistik di kawasan Jabodetabek.
Diklaim Tahan Gempa hingga 1.000 Tahun
Selain desain bertingkat, proyek ini juga membawa klaim mengenai ketahanan struktur terhadap gempa.
Dewan Penasihat PT CMNP Tbk Jusuf Hamka menyebut struktur Tol Harbour Road II dirancang dengan teknologi yang diklaim mampu menghadapi ancaman gempa dalam jangka panjang.
Ia bahkan menyebut kemampuan ketahanan struktur tersebut dapat mencapai hingga 1.000 tahun.
"Kalau dulu single-decker sekarang double decker," ujar Jusuf Hamka.
Ia juga menegaskan proyek tersebut dibangun menggunakan teknologi dan tenaga anak bangsa serta tidak menggunakan APBN.
"Ini dibangun oleh anak bangsa sendiri tanpa ada orang-orang luar negeri dan tidak menggunakan APBN," katanya.
Klaim mengenai ketahanan hingga 1.000 tahun tersebut tentu berkaitan dengan desain, material, standar konstruksi, dan pemeliharaan struktur dalam jangka panjang. Karena itu, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai target atau klaim mengenai umur ketahanan struktur, bukan jaminan bahwa jalan bebas risiko selama 1.000 tahun.
Dibangun Tanpa Menghentikan Tol di Bawahnya
Tantangan terbesar proyek ini justru terletak pada lokasi pembangunannya.
HBR II dibangun di atas jaringan Tol Sedyatmo yang telah beroperasi. Artinya, pekerjaan konstruksi harus dilakukan dengan memperhitungkan keselamatan pengguna jalan sekaligus menjaga kelancaran lalu lintas di bawah struktur baru.
Konsep inilah yang membuat proyek Harbour Road II berbeda dari pembangunan jalan tol elevated pada umumnya.
Struktur bertingkat memungkinkan pembangunan kapasitas jalan tambahan di koridor yang sama, tanpa sepenuhnya membutuhkan jalur baru di permukaan tanah.
Jika pembangunan berjalan sesuai target, Tol Harbour Road II Ancol Timur–Pluit pada 2028 akan menghadirkan koridor elevated sepanjang 9,7 kilometer dengan tiga lajur di setiap arah, sekaligus menjadi salah satu struktur jalan tol paling tinggi di Jakarta.
Bagi Jakarta, proyek ini bukan sekadar soal jalan layang setinggi 38 meter. HBR II diproyeksikan menjadi jalur alternatif untuk membagi beban lalu lintas, memperlancar arus logistik Tanjung Priok, serta memperkuat konektivitas Jakarta Utara dengan kawasan Pluit dan Bandara Soekarno-Hatta. (*)
Editor : Ali Sodiqin