RADAR BANYUWANGI – Kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang kerap mengular saat libur panjang dan peak season, bakal mendapat solusi baru. PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan sekitar 10 hektare lahan di sepanjang kawasan Stasiun Ketapang untuk dioptimalkan menjadi rest area sekaligus kantong parkir kendaraan.
Rencana tersebut mencuat dalam pertemuan jajaran PT KAI dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pada Kamis (20/8). Lahan milik KAI itu diharapkan mampu menampung kendaraan yang selama ini menumpuk di akses menuju Pelabuhan Ketapang, terutama ketika terjadi lonjakan penumpang dan kendaraan pada momentum seperti Lebaran.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, keberadaan kantong parkir tambahan menjadi salah satu langkah untuk mengurai kepadatan lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang.
“Rencananya, di sepanjang kawasan Stasiun Ketapang akan disiapkan rest area yang bisa menjadi kantong parkir tambahan untuk mengurai kemacetan di Pelabuhan Ketapang,” ujar Ipuk, Kamis (20/8), seperti disampaikan Jumat (21/8).
Menurut Ipuk, rest area di kawasan Stasiun Ketapang nantinya melengkapi kantong parkir yang sudah tersedia di Pelabuhan Ketapang dan Tanjung Wangi.
Persoalan kemacetan di kawasan Ketapang memang cenderung meningkat pada periode tertentu. Saat peak season, arus kendaraan yang hendak menyeberang melalui lintasan Jawa-Bali melonjak tajam. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika kendaraan, khususnya truk, berhenti atau parkir di bahu jalan menuju pelabuhan.
Situasi itu tidak hanya memperlambat arus lalu lintas, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran distribusi kendaraan menuju pelabuhan.
Bukan Hanya Parkir, Lahan KAI Disiapkan Jadi Pusat Kuliner
Pemanfaatan lahan 10 hektare tersebut tidak sebatas untuk menampung kendaraan. PT KAI juga melihat peluang pengembangan kawasan itu sebagai pusat aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Advisor Direktorat Komersial PT KAI Suharjono mengatakan, optimalisasi lahan di Stasiun Ketapang merupakan bagian dari dukungan perusahaan untuk membantu mengatasi persoalan kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang.
Menurut dia, PT KAI memiliki sekitar 10 hektare aset lahan yang dapat dioptimalkan.
“Ini juga untuk optimalisasi aset PT KAI di Stasiun Ketapang. Nantinya selain menjadi rest area, juga akan menjadi pusat kuliner yang turut meningkatkan ekonomi warga sekitar,” kata Suharjono.
Dengan konsep tersebut, kawasan rest area diharapkan memiliki fungsi ganda. Selain menjadi tempat kendaraan beristirahat dan menunggu antrean penyeberangan, kawasan tersebut dapat menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha lokal.
Pemkab Banyuwangi Dorong Penguatan Infrastruktur
Upaya mengurai kemacetan di Ketapang tidak hanya mengandalkan pembangunan kantong parkir. Pemkab Banyuwangi sebelumnya telah mengirimkan surat kepada Kementerian Perhubungan untuk meminta dukungan sejumlah penguatan infrastruktur.
Usulan tersebut mencakup pelebaran jalan menuju Pelabuhan Ketapang, peningkatan kapasitas dermaga, hingga percepatan pembangunan Tol Besuki-Banyuwangi.
Di sisi lain, peningkatan kapasitas layanan penyeberangan juga mulai dilakukan. ASDP Indonesia Ferry telah memulai peningkatan sepasang dermaga di Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk.
Kedua dermaga tersebut ditingkatkan spesifikasi dan kapasitasnya sehingga nantinya dapat digunakan untuk melayani penyeberangan kendaraan berat, termasuk truk besar.
Ipuk berharap berbagai langkah tersebut dapat berjalan secara terintegrasi. Menurutnya, penyelesaian persoalan kemacetan Ketapang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, BUMN, operator penyeberangan, dan stakeholder lainnya.
“Semoga kolaborasi dengan berbagai pihak ini bisa mengatasi masalah kemacetan di Pelabuhan Ketapang. Terima kasih atas dukungan pemerintah pusat dan stakeholder terkait,” kata Ipuk.
Jika optimalisasi lahan KAI terealisasi, kawasan Stasiun Ketapang bukan hanya menjadi bagian dari simpul transportasi kereta api. Area tersebut berpotensi berubah menjadi salah satu titik penyangga baru lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang sekaligus ruang ekonomi bagi warga Banyuwangi.
Dengan tambahan sekitar 10 hektare lahan sebagai rest area dan kantong parkir, beban kendaraan yang selama ini menumpuk di akses pelabuhan diharapkan dapat ditekan, terutama saat arus penyeberangan Jawa-Bali memasuki periode paling padat. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin