Banyuwangi Dapat Bantuan Sampah dari UEA, Kapasitasnya Bikin Melongo

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:01 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menaiki sepeda motor roda tiga bantuan NGO Uni Emirat Arab di TPS Balak, Kecamatan Songgon, Kamis (20/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menaiki sepeda motor roda tiga bantuan NGO Uni Emirat Arab di TPS Balak, Kecamatan Songgon, Kamis (20/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI — Banyuwangi kembali mendapat suntikan dukungan untuk memperkuat pengelolaan sampah. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas menyerahkan bantuan armada pengangkut sampah dari NGO asal Uni Emirat Arab (UEA) kepada Pemkab Banyuwangi, Kamis (20/8/2026). Bantuan tersebut menjadi penguat program Banyuwangi Hijau sekaligus mendapat apresiasi karena daerah berjuluk The Sunrise of Java itu dinilai konsisten mengembangkan pengelolaan sampah terpadu.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di TPS3R Balak, Kecamatan Songgon. Armada yang diterima pada termin pertama terdiri atas 21 sepeda motor roda tiga, 12 mobil pikap, dua truk armroll, dan lima kontainer armroll.

Bantuan tersebut nantinya mendukung operasional dua TPS3R yang sedang dibangun dengan pendanaan UEA, yakni TPS3R Kertosari dan TPS3R Karetan.

Zulhas Sebut Banyuwangi Salah Satu yang Terbaik

Kunjungan Zulhas ke Banyuwangi tidak hanya menjadi momentum penyerahan bantuan. Mantan Menteri Perdagangan tersebut juga melihat langsung aktivitas pengelolaan sampah sekaligus bertemu masyarakat dalam lawatannya.

Zulhas hadir bersama Tenaga Ahli Ketahanan Pangan, Infrastruktur Pendukung Pertanian, dan Lingkungan Guntur Priambodo.

Dalam kesempatan tersebut, Zulhas memberikan apresiasi terhadap upaya Banyuwangi menjaga lingkungan melalui penguatan sistem pengelolaan sampah.

“Hari ini (kemarin) saya menyerahkan bantuan-bantuan (untuk pengelolaan sampah) ini. Ada armroll kontainer dan lain-lain,” ujarnya.

Bantuan kemudian diserahkan secara simbolis kepada Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono.

Menurut Zulhas, rekam jejak Banyuwangi dalam pengelolaan lingkungan menjadi salah satu alasan daerah tersebut mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk UEA.

“Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten terbaik dalam pengelolaan sampah. Oleh karena itu, banyak bantuan yang masuk, termasuk dari UEA ini,” terangnya.

Armada Baru Langsung Dipakai, Meski Dua TPS3R Belum Rampung

Ada sedikit persoalan yang muncul setelah bantuan tiba lebih cepat dibandingkan kesiapan infrastruktur penerimanya.

TPS3R Kertosari dan Karetan masih dalam tahap penyelesaian. Karena itu, armada yang seharusnya mendukung dua kawasan tersebut untuk sementara dialihkan ke TPS3R Balak di Songgon.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi Bayu Hadiyanto mengatakan bantuan yang diterima merupakan termin pertama.

“Bantuan ini masih termin satu, ya. Masih akan ada lagi ke depan,” ucap Bayu.

Untuk sementara, kendaraan tersebut tetap dioperasikan agar tidak menganggur sembari menunggu pembangunan Kertosari dan Karetan rampung.

“Karena infrastrukturnya belum selesai tetapi kendaraannya sudah datang duluan, layanan yang seharusnya masuk ke Kertosari dan Karetan dialihkan sementara ke Songgon,” jelasnya.

Setelah kedua TPS3R selesai, pembagian layanan akan disesuaikan dengan wilayah terdekat. Skema tersebut diharapkan membuat pengangkutan sampah lebih efisien dan memperpendek jarak pelayanan.

“Nanti kalau Karetan dan Kertosari sudah 100 persen, layanannya akan kita bagi berdasar wilayah terdekat,” imbuh Bayu.

Kapasitas Pengolahan Sampah Terus Diperbesar

Masuknya armada baru menjadi bagian dari upaya Banyuwangi memperluas cakupan pengelolaan sampah dari tingkat kawasan hingga desa.

Salah satu fasilitas yang sudah berjalan adalah TPS3R Balak. Sejak beroperasi pada 2023, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 100 ton sampah per hari dan telah menjangkau 73 desa.

Pemkab Banyuwangi masih menargetkan cakupan pelayanan diperluas hingga seluruh desa.

Selain Balak, kapasitas pengolahan juga akan ditopang TPS3R Kertosari dan Karetan. Bayu menyebut Kertosari memiliki kapasitas sekitar 50 ton per hari, sedangkan Karetan diproyeksikan mampu menangani sekitar 150 ton per hari.

“Ke depan seluruh desa akan kita layani, untuk Balak ini dalam sehari bisa mengolah 100 ton sampah, di Kertosari kemarin 50 ton, dan untuk di Karetan sekitar 150 ton,” pungkasnya.

Dari Sampah, Banyuwangi Kejar Sistem yang Lebih Terpadu

Penguatan armada menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah. Sebab, kapasitas fasilitas pengolahan yang besar membutuhkan dukungan pengangkutan dari sumber sampah menuju lokasi pemrosesan.

Dengan tambahan kendaraan dari UEA, Banyuwangi tidak hanya mendapat fasilitas pengolahan, tetapi juga memperkuat mata rantai pelayanan dari kawasan permukiman hingga TPS3R.

Pada akhirnya, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada jumlah armada maupun kapasitas mesin pengolahan. Keterlibatan masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari sumber juga menjadi penentu.

Namun, langkah Banyuwangi memperluas jaringan TPS3R dan memperkuat armada menunjukkan arah kebijakan yang semakin terintegrasi.

Bantuan UEA yang diserahkan Zulhas menjadi tambahan tenaga bagi Banyuwangi untuk memperluas layanan persampahan. Dengan Balak yang sudah beroperasi serta Kertosari dan Karetan yang segera rampung, Banyuwangi tengah membangun sistem pengelolaan sampah yang ditargetkan menjangkau seluruh desa. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Banyuwangi Hijau sampah Banyuwangi TPS3R Banyuwangi bantuan UEA Zulhas Banyuwangi