RADAR BANYUWANGI – Pengetatan pemeriksaan manifes penumpang bus dan travel di Pelabuhan ASDP Ketapang mendapat dukungan dari pelaku jasa angkutan. Namun, ada satu catatan: ASDP diminta menyiapkan jalur khusus pemeriksaan bagi kendaraan umum agar sterilisasi tidak berubah menjadi antrean panjang.
Humas Paguyuban Travel Baliwangi Alit menilai pencatatan seluruh penumpang dalam manifes merupakan langkah penting untuk meningkatkan kedisiplinan sekaligus memperkuat keamanan perjalanan Ketapang–Gilimanuk.
Menurut dia, aturan tersebut akan efektif apabila diterapkan secara konsisten kepada seluruh pengguna jasa tanpa pengecualian.
“Kalau untuk sistem seperti itu bagus. Ibaratnya penerapan kedisiplinan secara keseluruhan. Kita juga minta semua pihak bisa mematuhi, termasuk kendaraan dengan pengawalan,” kata Alit.
Bagi pelaku travel, manifes bukan sekadar kelengkapan administrasi. Data penumpang memiliki fungsi penting ketika terjadi kondisi darurat, termasuk dalam proses pencarian dan identifikasi korban.
Alit mencontohkan pengalaman kecelakaan kapal yang pernah terjadi. Menurut dia, ketidaksesuaian data manifes dapat menyulitkan proses pendataan ketika petugas harus memastikan keberadaan penumpang.
“Pada waktu kejadian Tunu beberapa tahun yang lalu, yang terdaftar di manifest hanya driver, penumpangnya tidak ada. Akhirnya saat pencarian data cukup kesulitan,” ungkapnya.
Bukan Hanya Penumpang, Muatan Juga Diminta Dicek
Pengetatan pendataan kini telah dilakukan sejak proses pembelian tiket kendaraan umum. Sopir diarahkan memasukkan identitas penumpang, termasuk nomor KTP, dalam data perjalanan.
Namun, Alit menilai sistem tersebut masih perlu diperkuat di lapangan, terutama dari sisi sumber daya manusia dan mekanisme pemeriksaan.
Dia juga meminta pengawasan di kawasan pelabuhan tidak berhenti pada penumpang. Barang bawaan dan muatan kendaraan dinilai perlu mendapat perhatian serupa.
“Kalau bisa pengawasan tidak hanya menyasar penumpang, tetapi juga barang bawaan maupun muatan kendaraan. Jangan hanya penumpangnya. Muatannya juga harus dicek,” tegasnya.
Menurut Alit, pengawasan idealnya melibatkan berbagai unsur terkait. Tidak hanya petugas ASDP, tetapi juga KP3 dan kepolisian sehingga pemeriksaan di kawasan pelabuhan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
“KP3 dan kepolisian juga harus turut serta. Jangan hanya ASDP,” imbuhnya.
Minta Jalur Khusus Bus dan Travel
Di sisi lain, Alit memahami pemeriksaan manifes membutuhkan waktu lebih panjang dibanding kendaraan pribadi karena jumlah penumpang yang harus diverifikasi lebih banyak.
Karena itu, dia mengusulkan ASDP menyediakan jalur khusus bagi bus dan travel. Skema tersebut dinilai dapat menjaga pemeriksaan tetap ketat tanpa menghambat arus kendaraan lain.
“Kalau mereka mau, disediakan jalur khusus untuk pengecekan travel maupun bus. Kalau mobil pribadi kan sambil lewat saja. Tapi kalau kendaraan umum yang membawa banyak penumpang, mestinya ada jalur khusus,” ujarnya.
Usulan tersebut menjadi bagian dari upaya mencari keseimbangan antara sterilisasi pelabuhan dan kelancaran lalu lintas kendaraan. Pemeriksaan manifes tetap berjalan, tetapi kendaraan umum dengan jumlah penumpang banyak tidak bercampur dengan antrean kendaraan pribadi.
Bagi pelaku travel, ketepatan data penumpang pada akhirnya bukan hanya soal memenuhi aturan. Data yang lengkap menjadi bagian penting dari sistem keselamatan perjalanan sekaligus memberikan kepastian ketika terjadi situasi darurat. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin