Hobi Badminton Antar Fadil Imran ke Pucuk PBSI, Kini Bidik Olimpiade 2028

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:32 WIB
Komjen Pol. (Purn.) Mohammad Fadil Imran bersama pengusaha Banyuwangi Purnomo, MSi. (Istimewa)
Komjen Pol. (Purn.) Mohammad Fadil Imran bersama pengusaha Banyuwangi Purnomo, MSi. (Istimewa)

RADAR BANYUWANGI - Komjen Pol. (Purn.) Mohammad Fadil Imran resmi memasuki masa purnatugas pada 14 Agustus 2026, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-58. Setelah sekitar 35 tahun mengabdi di kepolisian, mantan pejabat tinggi Polri itu melanjutkan kiprah di sektor korporasi sekaligus tetap dekat dengan dunia yang menjadi hobinya: bulu tangkis.

Fadil Imran bukan sosok asing di lapangan badminton.

Jauh sebelum dipercaya memimpin organisasi bulu tangkis nasional, pria kelahiran Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, tersebut memang dikenal gemar berolahraga. Badminton dan sepak bola menjadi dua cabang yang kerap ia mainkan di sela kesibukan sebagai perwira kepolisian.

Kini, setelah resmi pensiun dari Polri, perjalanan Fadil memasuki babak baru.

Ia tercatat melanjutkan karier di sektor korporasi sebagai Komisaris PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. Di saat bersamaan, tanggung jawabnya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) periode 2024-2028 membuat dunia olahraga tetap menjadi bagian penting dalam kiprahnya.

Dari Lapangan Badminton hingga Pucuk PBSI

Kecintaan Fadil terhadap badminton bukan sekadar aktivitas olahraga sesekali.

Dalam sebuah unggahan di Instagram pada 3 Oktober 2023, Fadil memperlihatkan dirinya bermain badminton. Menariknya, ia harus menghadapi situasi yang tidak biasa: timnya hanya berisi dua pemain, sedangkan lawan memiliki tiga pemain.

"Malam minggu 2 lawan 3. Kira-kira bagaimana caranya dapat poin?" tulis Fadil dalam unggahan tersebut.

Alih-alih menyerah, Fadil tetap bermain penuh semangat. Beberapa kali ia bahkan terlihat melancarkan smash ke arah lawan.

Kebiasaannya berolahraga juga merambah sepak bola. Fadil beberapa kali memperlihatkan aktivitas bermain sepak bola, termasuk bersama pemain yang lebih muda.

Dari hobi itulah perjalanan Fadil di dunia badminton kemudian menemukan panggung yang jauh lebih besar.

Pada Musyawarah Nasional PBSI XXIV 2024 di Surabaya, Fadil terpilih sebagai Ketua Umum PP PBSI periode 2024-2028.

Fadil maju sebagai calon tunggal dan memperoleh dukungan mayoritas Pengprov PBSI. Dalam proses tersebut, 34 dari 38 Pengprov memberikan mandat kepadanya.

Kemenangan secara aklamasi itu sekaligus menempatkan seorang jenderal polisi aktif di pucuk organisasi bulu tangkis Indonesia.

Membawa Target Besar untuk Badminton Indonesia

Ketika menerima amanah sebagai Ketua Umum PBSI, Fadil tidak sekadar membawa latar belakang sebagai pejabat kepolisian.

Ia juga datang dengan visi untuk melakukan pembenahan di tubuh organisasi.

"Saya mengajak semua pihak untuk bergotong royong, bersama-sama melakukan perbaikan dan pembenahan apa-apa yang kurang untuk menuju puncak prestasi dunia," kata Fadil.

Visi yang diusungnya adalah menjadikan bulu tangkis sebagai sumber kebanggaan dan kegembiraan masyarakat Indonesia.

Untuk mewujudkannya, Fadil membawa tiga misi utama.

Pertama, melakukan transformasi dalam rekrutmen dan pembinaan atlet.

Kedua, mengoptimalkan manajemen operasional, industri olahraga, dan inovasi.

Ketiga, meningkatkan komunikasi sekaligus pelibatan komunitas.

Tiga agenda tersebut menjadi fondasi Fadil dalam membangun kembali kekuatan badminton nasional.

Tantangan Besar Menanti Menuju Olimpiade 2028

Tugas Fadil sebagai Ketua Umum PBSI datang ketika prestasi badminton Indonesia sedang mendapat sorotan.

Pada Olimpiade Paris 2024, Indonesia hanya membawa pulang satu medali dari cabang badminton, yakni perunggu melalui nomor tunggal putri.

Hasil tersebut sekaligus menghentikan tradisi emas badminton Indonesia di Olimpiade.

Sebelumnya, Merah Putih selalu memiliki wakil peraih medali emas badminton sejak Olimpiade Barcelona 1992 hingga Tokyo 2020.

Indonesia meraih emas badminton pada Olimpiade 1992, 1996, 2000, 2004, 2008, 2016, dan 2020.

Karena itu, periode kepemimpinan Fadil 2024-2028 memiliki target yang sangat jelas: membangun kembali kekuatan badminton Indonesia sebelum Olimpiade Los Angeles 2028.

Jalan menuju sana tentu tidak sederhana.

Pembinaan atlet, regenerasi, kualitas pelatih, kompetisi nasional, pengelolaan organisasi, hingga dukungan industri olahraga harus berjalan beriringan.

Karier 35 Tahun di Kepolisian

Sebelum memasuki dunia olahraga dan korporasi secara lebih serius, Fadil memiliki perjalanan panjang di institusi Polri.

Ia lahir pada 14 Agustus 1968 di Ujung Pandang dan merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991.

Kariernya dimulai dari sejumlah penugasan di wilayah hukum Jakarta. Setelah reformasi, Fadil pernah dipercaya menjadi Kepala Kepolisian Sektor Cengkareng pada 1999 dan kemudian menjabat di Tanah Abang pada 2002.

Kariernya terus menanjak.

Fadil pernah menjadi Kapolres KP3 Tanjung Priok pada 2008. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Pada 2013, Fadil menduduki posisi Kapolres Metro Jakarta Barat dan menjalankan tugas tersebut hingga 2015.

Setelah itu, ia mendapat sejumlah penugasan strategis, termasuk sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Pidum Bareskrim Polri dan Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Pada 2020, Fadil dipercaya menjadi Kapolda Jawa Timur.

Kariernya kemudian berlanjut hingga menduduki posisi Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Polri dengan pangkat Komisaris Jenderal Polisi atau jenderal bintang tiga.

Setelah sekitar 35 tahun mengabdi, Fadil resmi pensiun pada 14 Agustus 2026.

Tanggal tersebut memiliki makna ganda: menjadi hari ulang tahunnya yang ke-58 sekaligus menandai berakhirnya masa dinasnya sebagai anggota Polri.

Babak Baru Setelah Seragam Cokelat

Pensiun bukan berarti Fadil berhenti dari aktivitas profesional.

Setelah purnatugas, ia melanjutkan kiprah di sektor korporasi sebagai Komisaris MIND ID.

Di sisi lain, tanggung jawabnya di PBSI masih berjalan hingga 2028.

Dengan demikian, babak baru Fadil justru mempertemukan tiga dunia yang berbeda: pengalaman panjang di kepolisian, tanggung jawab korporasi, dan kecintaannya terhadap olahraga.

Bagi badminton Indonesia, latar belakang tersebut kini diuji bukan di ruang rapat kepolisian, melainkan melalui hasil pembinaan atlet dan prestasi di lapangan.

Target akhirnya pun bukan sekadar memenangkan turnamen regional.

Ada pekerjaan lebih besar di depan mata: mengembalikan medali emas Olimpiade ke pangkuan badminton Indonesia pada 2028.

Fadil telah meninggalkan seragam Polri.

Namun, lapangan badminton yang selama ini menjadi hobinya justru bisa menjadi arena baru untuk membuktikan seberapa jauh pengalaman kepemimpinannya mampu membawa olahraga Indonesia kembali ke puncak dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Fadil Imran Ketua PBSI PBSI 2024-2028 Badminton Indonesia Olimpiade 2028