Ayah Jenderal, Putri Politikus: Jejak Fadil Imran hingga Farah di Senayan

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Fadil Imran purnatugas dari Polri, sementara putrinya Farah Puteri Nahlia melanjutkan kiprah politik dan kembali terpilih sebagai anggota DPR RI. (Istimewa)
Fadil Imran purnatugas dari Polri, sementara putrinya Farah Puteri Nahlia melanjutkan kiprah politik dan kembali terpilih sebagai anggota DPR RI. (Istimewa)

RADAR BANYUWANGI – Purnatugas dari Polri pada usia 58 tahun tak lantas membuat nama Komjen Pol. (Purn.) Mohammad Fadil Imran menjauh dari sorotan. Di balik perjalanan panjangnya sebagai jenderal bintang tiga, ada cerita lain yang tak kalah menarik: sang putri, Farah Puteri Nahlia, justru meneruskan kiprah keluarga di panggung politik nasional.

Farah kini duduk sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029. Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu kembali terpilih dari daerah pemilihan Jawa Barat IX pada Pemilu 2024 dengan perolehan 146.014 suara. Ia juga bertugas di Komisi I DPR RI.

Sementara Fadil sendiri baru saja menutup perjalanan lebih dari tiga dekade sebagai anggota Polri. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 itu pernah menduduki sejumlah posisi strategis, mulai dari dunia reserse, Kapolda Jawa Timur, Kapolda Metro Jaya, Kabaharkam Polri, hingga Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops).

Kini, Fadil memasuki babak baru sebagai Komisaris PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID.

Ayah Jenderal, Putri Masuk Senayan

Jika Fadil membangun karier melalui institusi kepolisian, Farah memilih jalur politik.

Langkah Farah menuju Senayan membuat nama keluarga Fadil Imran kembali muncul di panggung nasional. Pada Pemilu 2024, Farah berhasil mempertahankan kursinya sebagai anggota DPR RI untuk periode kedua.

Perolehan 146.014 suara dari Dapil Jawa Barat IX menjadi modal politik penting bagi perempuan kelahiran keluarga berlatar belakang kepolisian tersebut.

Farah kemudian menjalankan tugas sebagai anggota Komisi I DPR RI, komisi yang memiliki ruang lingkup antara lain pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen.

Dengan posisi tersebut, kiprah Farah berada di jalur yang berbeda dengan sang ayah.

Fadil menghabiskan sebagian besar hidup profesionalnya dalam dunia keamanan dan penegakan hukum. Farah justru menjalankan fungsi representasi politik melalui parlemen.

Fadil, dari Reserse hingga Jenderal Bintang Tiga

Sebelum dikenal sebagai mantan Kapolda Metro Jaya dan Kabaharkam Polri, Fadil Imran memulai kariernya sebagai perwira muda setelah lulus Akpol 1991.

Ia pernah menjabat Wakil Kasat Sabhara Polres Metro Jakarta Barat, Kapolsek Metro Cengkareng pada 1999, serta Kapolsek Metro Tanah Abang pada 2002.

Kariernya kemudian berkembang di bidang reserse. Fadil pernah menjadi Kasat III Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kapolres KP3 Tanjung Priok, Waditreskrimum Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Jakarta Barat, Dirreskrimsus Polda Metro Jaya, hingga Dirtipid Siber Bareskrim Polri.

Dari dunia reserse tersebut, Fadil kemudian menembus jajaran pimpinan tinggi Polri.

Pada 2019, ia dipercaya sebagai Staf Ahli Sosial Budaya Kapolri. Setahun kemudian, ia menjadi Kapolda Jawa Timur sebelum kemudian dipercaya memimpin Polda Metro Jaya pada 2020 hingga 2023.

Setelah meninggalkan kursi Kapolda Metro Jaya, Fadil dipercaya menjadi Kabaharkam Polri. Pada fase berikutnya, ia mengemban jabatan Astamaops Kapolri.

Lebih dari tiga dekade pengabdian tersebut akhirnya memasuki garis akhir ketika Fadil mencapai usia 58 tahun pada 2026.

Dari Seragam Cokelat ke Kursi Komisaris

Purnatugas dari Polri bukan akhir perjalanan profesional Fadil.

Ia dipercaya masuk ke jajaran Dewan Komisaris MIND ID, holding BUMN industri pertambangan Indonesia.

Perpindahan tersebut membuat keluarga Fadil kini memiliki jejak di sejumlah ruang strategis. Sang ayah berada di dunia korporasi setelah puluhan tahun berkecimpung di sektor keamanan, sementara sang putri menjalankan tugas sebagai wakil rakyat di Senayan.

Keduanya menempuh jalur berbeda, tetapi sama-sama berada di ruang pengabdian publik.

Bukan Hanya Farah, Keluarga Fadil Juga Punya Jejak di Daerah

Kiprah keluarga Fadil Imran tidak hanya terlihat di tingkat nasional.

Dua adiknya juga berhasil memenangkan Pilkada Serentak 2024 di Sulawesi Selatan.

Sitti Husniah Talenrang terpilih sebagai Bupati Gowa. Sementara Mohammad Firdaus Daeng Manye terpilih menjadi Bupati Takalar.

Jejak tersebut membuat keluarga Fadil memiliki keterhubungan dengan tiga ruang sekaligus: institusi keamanan melalui Fadil, politik nasional melalui Farah, serta pemerintahan daerah melalui dua adiknya.

Ada Darah Raja Gowa

Latar keluarga Fadil juga memiliki sisi historis.

Fadil disebut merupakan bagian dari garis keturunan Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumapa’risi’ Kallona, Raja Gowa ke-9.

Karaeng Tumapa’risi’ Kallona merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Gowa. Pada masa pemerintahannya, Gowa berkembang sebagai salah satu kekuatan penting di kawasan Nusantara.

Latar sejarah tersebut menjadi bagian dari cerita keluarga Fadil Imran yang berasal dari Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kini, setelah Fadil resmi memasuki masa purnatugas, sorotan terhadap keluarga tersebut justru menemukan babak baru.

Sang ayah meninggalkan institusi Polri setelah mencapai pangkat Komisaris Jenderal. Sang putri tetap melangkah di panggung politik nasional sebagai anggota DPR RI. Dua jalur berbeda yang membawa nama keluarga Fadil Imran ke ruang publik. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Fadil Imran Fadil Imran pensiun Farah Puteri Nahlia putri Fadil Imran anggota DPR RI