Mohammad Fadil Imran Ternyata Cucu Raja Gowa ke-9

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:15 WIB
SILSILAH KELUARGA: Jejak panjang Fadil Imran di Polri: Dari reserse, kapolda, hingga jenderal bintang tiga. (Kaltim Post)
SILSILAH KELUARGA: Jejak panjang Fadil Imran di Polri: Dari reserse, kapolda, hingga jenderal bintang tiga. (Kaltim Post)

RADAR BANYUWANGI – Tiga dekade lebih perjalanan Komjen Pol. Mohammad Fadil Imran di Korps Bhayangkara kini memasuki fase akhir. Jenderal bintang tiga kelahiran Makassar, 14 Agustus 1968, itu genap berusia 58 tahun pada 2026, usia yang menjadi penanda berakhirnya masa dinasnya di kepolisian.

Nama Fadil Imran bukan sosok asing di jajaran elite Polri. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 tersebut meniti karier dari dunia reserse hingga dipercaya memimpin sejumlah posisi strategis, termasuk Kapolda Jawa Timur, Kapolda Metro Jaya, Kabaharkam Polri, dan Astamaops Kapolri.

Kini, setelah lebih dari 30 tahun mengenakan seragam cokelat, perjalanan panjang itu sampai di penghujung masa pengabdian.

Dari Makassar Menembus Puncak Karier Polri

Fadil Imran lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 14 Agustus 1968. Setelah menamatkan pendidikan di Akpol 1991, ia mengawali perjalanan panjangnya sebagai perwira Polri.

Pengalaman di bidang reserse dan operasional menjadi salah satu fondasi karier Fadil. Penugasannya tersebar mulai dari satuan kewilayahan hingga lingkungan Mabes Polri.

Seiring waktu, pangkat dan tanggung jawabnya terus meningkat. Fadil kemudian dipercaya mengisi sejumlah jabatan penting yang membawanya ke jajaran perwira tinggi Polri.

Namanya semakin dikenal ketika dipercaya menjadi Kapolda Jawa Timur. Setelah itu, ia ditarik ke ibu kota untuk memimpin Polda Metro Jaya.

Sebagai Kapolda Metro Jaya, Fadil menjadi salah satu figur sentral dalam pengamanan dan penegakan hukum di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Dari Kabaharkam hingga Astamaops

Karier Fadil kembali memasuki level strategis ketika ia dipercaya menjadi Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri.

Jabatan tersebut menempatkannya dalam posisi penting berkaitan dengan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Namun, perjalanan itu tidak berhenti di Baharkam. Pada Agustus 2025, tongkat kepemimpinan Kabaharkam diserahkan kepada Irjen Pol. Karyoto. Fadil kemudian mendapat amanah sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops).

Pergantian tersebut menjadi bagian dari penyegaran organisasi di lingkungan Mabes Polri sekaligus menempatkan Fadil tetap di lingkaran strategis institusi.

Hingga memasuki Agustus 2026, faktor usia kemudian menjadi perhatian. Fadil yang lahir pada 1968 telah mencapai usia 58 tahun.

Dengan usia tersebut, perjalanan kedinasannya sebagai anggota Polri berada di fase akhir.

Punya Darah Bangsawan Gowa

Di luar rekam jejak kepolisian, Fadil Imran juga memiliki latar belakang keluarga yang menarik.

Ia merupakan putra pasangan HM Idris dan Hj Sitti Siada Dg Siang. Dari garis keluarga ibunya, Fadil disebut memiliki hubungan keturunan dengan Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumapa'risi' Kallonna, Raja Gowa ke-9.

Silsilah tersebut disebut tercatat dalam buku Daeng Siang Sang Penerang.

Karaeng Tumapa'risi' Kallonna sendiri merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Gowa. Pada masa pemerintahannya, Gowa mengalami perkembangan penting, termasuk pemindahan pusat kerajaan dari kawasan Bukit Tamalate menuju Somba Opu.

Keputusan tersebut memiliki arti strategis. Somba Opu yang berada di kawasan pesisir memberikan akses lebih terbuka bagi Gowa terhadap jalur perdagangan dan hubungan dengan wilayah lain.

Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, sekaligus salah satu titik penting dalam sejarah Gowa.

Pada era itu pula, pembangunan benteng dan kawasan pelabuhan menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi kerajaan.

Latar sejarah tersebut memberikan warna berbeda dalam profil Fadil Imran. Di satu sisi, ia dikenal sebagai jenderal Polri dengan karier panjang. Di sisi lain, keluarganya disebut memiliki hubungan dengan salah satu garis bangsawan penting dalam sejarah Gowa.

Tiga Dekade Meniti Karier

Perjalanan Fadil menuju pangkat Komisaris Jenderal tidak berlangsung singkat.

Sejak lulus Akpol pada 1991, ia melewati berbagai penugasan sebelum akhirnya mencapai jajaran pimpinan tinggi Polri.

Pengalaman di reserse menjadi salah satu bagian menonjol dalam perjalanan tersebut. Dari fungsi penegakan hukum, Fadil kemudian berkembang ke posisi pimpinan kewilayahan dan jabatan strategis di tingkat Mabes Polri.

Puncaknya terlihat dari rangkaian jabatan sebagai Kapolda Jawa Timur, Kapolda Metro Jaya, Kabaharkam, hingga Astamaops.

Rangkaian tersebut memperlihatkan perjalanan seorang perwira yang selama lebih dari tiga dekade berpindah dari satu medan tugas ke medan tugas lain.

Kini, ketika usia 58 tahun telah dicapai, fase baru pun menanti.

Fadil Imran bukan lagi sekadar nama dalam daftar perwira tinggi Polri. Perjalanan dari Makassar, Akpol 1991, dunia reserse, dua jabatan kapolda, hingga kursi jenderal bintang tiga menjadi bagian dari jejak panjang pengabdiannya di institusi kepolisian.

Dari perwira muda lulusan Akpol hingga Komisaris Jenderal, perjalanan Fadil Imran kini memasuki babak akhir masa dinasnya di Polri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Fadil Imran Karier Fadil Imran Fadil Imran pensiun jenderal Polri Akpol 1991