Pesan 42 Pendidik Banyuwangi untuk Indonesia di Usia 81 Tahun: Jangan Berhenti Berkarya

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:30 WIB
ILUSTRASI upacara bendera di Istana Negara. (presidenri.go.id /setpres)
ILUSTRASI upacara bendera di Istana Negara. (presidenri.go.id /setpres)

RADAR BANYUWANGI – Kemerdekaan tak cukup dirayakan dengan pengibaran Merah Putih. Bagi para pendidik di Banyuwangi, usia 81 tahun Indonesia menjadi momentum untuk menitipkan pesan tentang pendidikan, persatuan, karakter, hingga kesejahteraan masyarakat.

Pesan-pesan itu datang dari 42 pendidik dan pimpinan satuan pendidikan tingkat SMP di Banyuwangi dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dari sekolah di ujung selatan hingga kawasan perkotaan Banyuwangi, mereka membawa satu benang merah: kemerdekaan harus diisi dengan karya dan pendidikan yang mampu menyiapkan generasi masa depan.

Tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” juga menjadi napas dalam sejumlah ucapan yang disampaikan para pendidik. Harapan agar Indonesia semakin maju, kuat, bersatu, dan sejahtera berpadu dengan ajakan untuk memperkuat kualitas pendidikan.

Dari Sekolah, Menjaga Api Kemerdekaan

Kepala SMP Negeri 3 Banyuwangi, Dwi Hindarti Lasmisari, memaknai 81 tahun Indonesia merdeka sebagai perjalanan menjaga asa menuju masa depan.

Menurutnya, semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan berpihak pada masa depan anak bangsa.

“81 Tahun Indonesia Merdeka, 81 Tahun Menjaga Asa untuk Indonesia Maju,” menjadi pesan yang dibawa keluarga besar SMP Negeri 3 Banyuwangi.

Semangat serupa disampaikan Suhaimi, Kepala SMP Negeri 2 Srono. Menurut dia, kemerdekaan merupakan amanah untuk membangun Indonesia yang kuat, mandiri, berdaulat, dan sejahtera.

Sekolah, kata dia, memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, disiplin, berintegritas, produktif, serta memiliki semangat gotong royong.

“Dari sekolah, kita siapkan generasi hebat untuk Indonesia yang kuat,” pesannya.

Persatuan hingga Karya Nyata

Pesan tentang persatuan juga cukup kuat muncul dari para pendidik. Ahmad Hafandi, dari SMP Negeri 1 Tegaldlimo, mengajak masyarakat menjaga persatuan, menghargai perjuangan para pahlawan, serta mengisi kemerdekaan melalui karya dan semangat membangun Indonesia.

Menurutnya, persatuan menjadi kekuatan penting di tengah keberagaman.

“Bersama kita kuat, dalam persatuan kita maju, dan dalam keberagaman kita tetap satu,” pesannya.

Sementara itu, Yuyun Sulistyowati dari SMP Negeri 1 Rogojampi menekankan bahwa kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan.

“81 tahun merdeka! Dulu direbut dengan darah, sekarang dijaga dengan karya dan amanah,” ujarnya.

Pesan tersebut mempertegas bahwa generasi masa kini memiliki tanggung jawab berbeda. Jika para pejuang dahulu merebut kemerdekaan dengan perjuangan fisik, generasi sekarang dituntut mengisinya melalui prestasi, pengabdian, dan karya nyata.

Semangat Banyuwangi untuk Indonesia

Sejumlah pendidik juga mengaitkan kemerdekaan dengan kemajuan Banyuwangi.

Afadah, dari SMPN 1 Genteng, berharap Indonesia tetap bersatu di bawah naungan NKRI, sementara Kabupaten Banyuwangi terus berkembang dan masyarakatnya semakin makmur.

Harapan untuk Banyuwangi juga disampaikan Ali Mustofa dari SMPN 1 Banyuwangi. Ia membawa semangat agar sekolah dan daerah terus bergerak maju.

“SMPN 1 Banyuwangi terus melangkah, Banyuwangi semakin keren, semakin maju, dan semakin sejahtera!” ujarnya.

Ada pula pesan yang mengangkat identitas khas Banyuwangi. Catur Bagus Tonny Marhaendra dari SMP Negeri 1 Singojuruh menggambarkan ketangguhan Indonesia melalui simbol lokal.

“Semoga langkah bangsa ini setangguh ombak Pantai Plengkung, persatuannya seindah blue fire Kawah Ijen,” pesannya.

Ia menutupnya dengan semangat “Jenggirat Tangi Bersama untuk Maju.”

Pendidikan Disebut sebagai Fondasi Bangsa

Di antara puluhan pesan tersebut, pendidikan menjadi salah satu tema yang paling menonjol.

Yatmawati Damiri dari SMPN 2 Pesanggaran menilai perhatian terhadap sektor pendidikan perlu terus diperkuat karena pendidikan merupakan fondasi bangsa.

Sementara Holilik dari SMP Negeri 1 Glagah mengingatkan bahwa sekolah harus menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang cerdas, berintegritas, adaptif, dan mencintai Tanah Air.

Menurutnya, kemerdekaan merupakan amanah untuk terus belajar, berkarya, berkarakter, dan berkolaborasi.

Pesan yang tak kalah kuat datang dari Mashudi dari SMPN 3 Genteng. Ia memaknai kemerdekaan dalam konteks integritas dan pengabdian sehari-hari.

“Merdeka berarti berintegritas dalam bekerja, tulus dalam mengabdi, dan berani untuk menjadi bagian dari perubahan,” pesannya.

Merawat Kemerdekaan Lewat Peran Masing-Masing

Dari 42 pesan yang disampaikan, terdapat beragam harapan: Indonesia semakin maju, berdaulat, adil, dan makmur; masyarakat semakin sejahtera; persatuan tetap terjaga; serta kualitas pendidikan semakin baik.

Namun, inti pesannya relatif sama. Kemerdekaan bukan titik akhir, melainkan tanggung jawab yang harus diteruskan setiap generasi.

Bagi para pendidik di Banyuwangi, tanggung jawab tersebut salah satunya diwujudkan dari ruang-ruang kelas. Di sanalah generasi penerus dipersiapkan agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, kepedulian, dan rasa cinta Tanah Air.

Semangat itu terangkum dalam pesan SMP Negeri 2 Bangorejo: momentum HUT ke-81 RI harus menjadi kesempatan untuk menumbuhkan nasionalisme, mempererat persatuan, menjunjung tinggi gotong royong, serta terus belajar, berkarya, dan berprestasi.

Dari sekolah-sekolah di Banyuwangi, pesan kemerdekaan pun kembali digaungkan: Merah Putih bukan hanya untuk dikibarkan, tetapi juga untuk dijaga melalui karya dan pengabdian. (*)

Editor : Ali Sodiqin
pendidikan Banyuwangi HUT RI 81 Pendidik Banyuwangi SMP Banyuwangi kemerdekaan indonesia