Mengapa 17 Agustus? Ada Ramadan, Jumat, dan Kisah Sahur di Rumah Maeda

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 23:30 WIB
Bung Karno berziarah ke makam Ratu Kalinyamat di Jepara, tahun 1952. Presiden RI pertama itu dikabarkan pernah semedi di Gua Istana Alas Purwo.
Bung Karno berziarah ke makam Ratu Kalinyamat di Jepara, tahun 1952. (Arsip Nasional)

RADAR BANYUWANGI – Ketika Jakarta masih terlelap, sejarah Indonesia justru sedang ditulis dalam sunyi. Jarum jam mendekati pukul 02.00 dini hari, tetapi rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jalan Meiji Dori Nomor 1 masih terang.

Di sebuah ruang makan, tiga tokoh duduk merumuskan kalimat yang kelak mengubah nasib sebuah bangsa: Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Malam itu merupakan 8 Ramadan 1364 Hijriah atau menjelang 9 Ramadan, ketika umat Islam bersiap menyambut sahur. Para tokoh bangsa baru saja melewati hari yang penuh ketegangan setelah peristiwa Rengasdengklok. Mereka belum banyak beristirahat, bahkan sebagian belum sempat makan.

Namun, waktu terus berjalan. Kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan.

Dari meja makan rumah seorang perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang itulah, naskah Proklamasi mulai dirumuskan. Hingga sekitar pukul 03.00, teks tersebut akhirnya selesai dan kemudian diketik oleh Sayuti Melik.

Beberapa jam berselang, tepat pukul 10.00 pada Jumat, 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Yang menarik, tanggal tersebut bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 H. Kemerdekaan Indonesia lahir ketika sebagian besar umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa.

Mengapa Proklamasi Dipilih 17 Agustus?

Pemilihan 17 Agustus dalam sejumlah kisah sejarah kerap dikaitkan dengan pertimbangan spiritual Soekarno.

Angka 17 memiliki makna khusus dalam tradisi Islam. Salah satunya dikaitkan dengan keyakinan yang populer bahwa Al-Qur'an pertama kali diturunkan pada 17 Ramadan. Angka tersebut juga mengingatkan pada jumlah rakaat salat wajib dalam sehari yang berjumlah 17 rakaat.

Selain itu, 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Jumat, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai sayyidul ayyam, atau penghulu segala hari.

Karena itu, tanggal 17 Agustus kerap dipandang memiliki lapisan makna yang lebih luas daripada sekadar keputusan politik.

Namun, penting dicatat, alasan penetapan tanggal Proklamasi merupakan bagian dari sejarah yang memiliki beragam versi dan penafsiran. Faktor politik, situasi kekuasaan Jepang setelah menyerah kepada Sekutu, serta desakan para pemuda juga menjadi konteks penting menjelang Proklamasi.

Dengan kata lain, lahirnya keputusan 17 Agustus tidak berdiri hanya pada satu pertimbangan.

Sahur di Rumah Maeda: Roti, Telur, dan Ikan Sarden

Ada satu detail kecil yang membuat malam perumusan Proklamasi terasa begitu manusiawi.

Setelah berjam-jam merumuskan teks, para tokoh bangsa akhirnya mendengar suara dari luar rumah yang mengingatkan umat Islam tentang waktu sahur.

Mohammad Hatta kemudian mengabadikan suasana tersebut dalam autobiografinya. Karena tidak tersedia nasi untuknya, Hatta menyebut dirinya makan roti, telur, dan ikan sarden sebelum meninggalkan rumah Maeda.

Hidangan itu disiapkan oleh Satsuki Mishina, asisten rumah tangga Maeda.

Di tengah situasi politik yang genting, menu sahur tersebut tampak sederhana. Namun, momen itu menjadi bagian dari kisah malam panjang menuju kemerdekaan.

Selain makanan untuk Hatta, disebut pula tersedia nasi goreng yang disantap sejumlah tokoh setelah meninggalkan Rengasdengklok dan menjalani rangkaian peristiwa sepanjang hari.

Suasana makan pun belum benar-benar lepas dari urusan politik. Pembahasan mengenai lokasi pembacaan Proklamasi masih berlangsung.

Sejarah, bahkan ketika ditulis menjelang sahur, tetap membutuhkan keputusan.

Fajar 17 Agustus: Soekarno Sakit, Rakyat Tetap Berpuasa

Setelah sahur, para tokoh bangsa mulai meninggalkan rumah Maeda.

Hatta baru tidur setelah salat Subuh. Sementara Soekarno berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Ia mengalami serangan malaria tertiana dan demam tinggi.

Pada pagi hari 17 Agustus, sekitar pukul 08.00, Soekarno masih beristirahat di rumahnya. Dokter pribadinya, dr. Soeharto, kemudian membangunkannya.

Dua jam kemudian, sejarah Indonesia berubah.

Pada pukul 10.00, Soekarno bersama Mohammad Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56.

Saat itu Ramadan masih berlangsung. Banyak rakyat yang hadir juga sedang menjalankan ibadah puasa.

Tidak ada pesta besar. Tidak ada seremoni mewah. Yang terdengar justru sebuah pernyataan singkat dan tegas tentang lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.

Ramadan dan Proklamasi, Dua Peristiwa dalam Satu Hari

Proklamasi pada 9 Ramadan 1364 H memberi warna tersendiri dalam ingatan sejarah Indonesia.

Ramadan merupakan bulan yang sangat penting bagi umat Islam. Dalam tradisi Islam, bulan ini dikaitkan dengan turunnya Al-Qur'an, ibadah puasa, serta peningkatan ketakwaan.

Sementara itu, perjuangan menuju kemerdekaan juga menuntut pengorbanan, ketahanan, dan keberanian.

Pertemuan dua konteks tersebut kemudian melahirkan tafsir spiritual mengenai Proklamasi 17 Agustus.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, misalnya, pernah menyoroti adanya dimensi keberkahan Jumat dalam pelaksanaan Proklamasi yang bertepatan dengan Ramadan.

Namun, makna spiritual tersebut tidak lantas menghapus dimensi historis lain. Proklamasi merupakan hasil dari rangkaian panjang perjuangan politik, pergerakan nasional, pendudukan Jepang, kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, serta desakan agar Indonesia segera menyatakan kemerdekaannya.

Dari Meja Makan ke Pegangsaan Timur

Ada ironi sekaligus kekuatan dalam kisah tersebut.

Naskah yang menjadi dasar kelahiran sebuah negara tidak dirumuskan di gedung parlemen atau istana megah. Ia lahir di rumah seorang perwira Jepang, pada dini hari, setelah para tokohnya melewati ketegangan politik dan perjalanan panjang.

Mereka bahkan sempat berhenti untuk sahur.

Beberapa jam kemudian, teks yang dirumuskan di ruang makan itu dibacakan di hadapan rakyat.

Dari roti, telur, dan ikan sarden menuju Pegangsaan Timur. Dari meja makan menuju sebuah bangsa baru.

Itulah salah satu sisi paling manusiawi dari sejarah Proklamasi: di balik kalimat yang kini dihafal jutaan orang, ada malam panjang, rasa lapar, sakit, perdebatan, ketegangan, dan keyakinan bahwa kesempatan untuk merdeka tidak boleh dilewatkan.

17 Agustus 1945 bukan sekadar tanggal di kalender. Ia menjadi titik ketika keputusan politik, perjuangan panjang, dan suasana spiritual Ramadan bertemu dalam satu pagi yang mengubah sejarah Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : gesuri.id
Proklamasi 17 Agustus rumah Maeda Ramadan 1945 sejarah kemerdekaan soekarno hatta