RADAR BANYUWANGI — Arus kendaraan di Jalur Pantura Kabupaten Probolinggo bakal menghadapi ujian ketika rehabilitasi Jembatan Pajarakan memasuki pekerjaan utama. Pemerintah kini menyiapkan sejumlah skenario agar jalur logistik utama di timur Pulau Jawa itu tidak berubah menjadi titik kemacetan panjang.
Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah memfungsikan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Prosiwangi) sebagai jalur alternatif selama rehabilitasi Jembatan Pajarakan berlangsung.
Namun, rencana tersebut belum final. Pengoperasian ruas Tol Prosiwangi masih menunggu hasil koordinasi lintas instansi dan persetujuan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Humas Tol Prosiwangi Hima Jaya mengatakan belum ada keputusan apakah ruas tol tersebut benar-benar akan difungsikan untuk mendukung rekayasa lalu lintas selama proyek jembatan berlangsung.
“Masih dalam diskusi simultan, sehingga belum mengerucut apakah akan difungsionalkan atau tidak. Keputusannya menunggu Kementerian PU. Harapannya tentu bisa difungsionalkan untuk membantu kelancaran lalu lintas,” ujar Hima.
Tol Prosiwangi Bisa Jadi Jalan Keluar
Jalan Raya Pajarakan merupakan bagian dari jalur Pantura yang menjadi salah satu urat nadi pergerakan kendaraan dan distribusi logistik di wilayah timur Pulau Jawa.
Karena itu, rehabilitasi Jembatan Pajarakan tidak bisa hanya dilihat sebagai pekerjaan konstruksi. Pemerintah harus memastikan kendaraan tetap memiliki ruang bergerak ketika pekerjaan utama mulai berdampak terhadap kapasitas jalan.
Dalam skenario tersebut, Tol Prosiwangi berpotensi menjadi salah satu jalur penyangga. Kendaraan dapat dialihkan melalui ruas tol apabila seluruh persyaratan teknis dan administratif telah terpenuhi.
Masalahnya, hingga kini belum ada keputusan final mengenai pengoperasian ruas tersebut.
Bahkan, mekanisme tarif juga masih menjadi tanda tanya.
Gratis atau Berbayar? Menunggu Keputusan Kementerian PU
Jika Tol Prosiwangi benar-benar difungsikan sebagai jalur alternatif, pertanyaan berikutnya adalah apakah pengguna akan dikenai tarif.
Hima menegaskan, keputusan mengenai tarif bukan berada di tangan pengelola tol. Kebijakan tersebut sepenuhnya menunggu keputusan pemerintah pusat melalui Kementerian PU.
“Apakah kalau dioperasionalkan berbayar atau tidak, kami menunggu Surat Keputusan tarif dari Kementerian PU. Kalau tidak ada SK tarif, berarti pengguna tidak dikenai tarif,” jelasnya.
Dengan demikian, masyarakat dan pelaku logistik masih harus menunggu keputusan resmi sebelum mengetahui apakah Tol Prosiwangi bisa digunakan sebagai jalur alternatif secara gratis atau berbayar.
Infrastruktur Tol Hampir Siap
Dari sisi kesiapan fisik, kondisi Tol Prosiwangi disebut sudah mendekati tahap akhir.
Hima mengatakan hanya tersisa sekitar satu hingga dua pekerjaan penyempurnaan. Pekerjaan tersebut diperkirakan rampung dalam dua hari.
“Perbaikan tinggal sedikit, sekitar satu sampai dua pekerjaan. Dalam dua hari diperkirakan rampung. Yang jelas, kondisi tol siap apabila nantinya akan difungsionalkan,” katanya.
Kesiapan itu menjadi modal penting apabila pemerintah akhirnya memutuskan menggunakan ruas tol tersebut untuk mengurangi beban lalu lintas Pantura.
Dari sisi kelayakan operasional, Paket 1 dan Paket 2 Tol Prosiwangi telah mengantongi Sertifikat Laik Operasi (SLO).
Sementara Paket 3 masih menjalani proses uji laik operasi.
“Untuk Paket 1 dan Paket 2 Sertifikat Laik Operasi sudah terbit. Paket 3 hari ini sedang menjalani uji laik operasi,” ujar Hima.
Artinya, sebagian ruas telah memenuhi salah satu persyaratan penting untuk operasional. Namun, keputusan memfungsionalkan tol sebagai jalur alternatif tetap berada pada pemerintah.
Jembatan Bailey Jadi Penyangga Sementara
Di sisi lain, penanganan Jembatan Pajarakan terus berjalan. Tahap awal yang saat ini dikerjakan adalah perakitan Jembatan Bailey.
Jembatan Bailey merupakan struktur sementara yang disiapkan untuk menjaga konektivitas selama rehabilitasi jembatan utama berlangsung.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Probolinggo Moh Taufiq mengatakan masyarakat membutuhkan kepastian mengenai skema rekayasa lalu lintas sebelum pekerjaan utama Jembatan Pajarakan dimulai.
Pasalnya, setiap gangguan di jalur Pantura berpotensi memberikan efek berantai terhadap perjalanan kendaraan, khususnya kendaraan logistik.
“Sehingga, gangguan pada satu titik saja berpotensi menimbulkan antrean kendaraan dalam skala panjang apabila tidak diantisipasi dengan jalur alternatif yang memadai,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat keberadaan jalur alternatif menjadi sangat penting. Apalagi Pantura bukan sekadar jalur penghubung antarkota, tetapi juga koridor distribusi barang yang menghubungkan berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Menunggu Titik Temu Tiga Kepentingan
Pada akhirnya, ada tiga hal yang harus dipastikan sebelum Tol Prosiwangi benar-benar digunakan sebagai jalur alternatif: kelayakan teknis, persetujuan pemerintah, dan mekanisme tarif.
Dari sisi fisik, pekerjaan penyempurnaan tol hampir selesai. Dua paket telah memperoleh SLO dan paket terakhir sedang menjalani uji laik operasi.
Namun, kesiapan tersebut belum otomatis berarti tol dapat dibuka untuk umum. Keputusan akhir masih menunggu Kementerian PU.
Sementara itu, Jembatan Bailey terus disiapkan sebagai bagian dari upaya menjaga konektivitas jalur nasional.
Jika persetujuan pemerintah turun dan seluruh persyaratan terpenuhi, Tol Prosiwangi berpeluang menjadi salah satu katup pengaman lalu lintas selama rehabilitasi Jembatan Pajarakan.
Bagi pengendara dan pelaku logistik, kepastian itu menjadi penting. Sebab, ketika pekerjaan utama jembatan dimulai, setiap keputusan mengenai jalur alternatif akan menentukan apakah arus kendaraan tetap bergerak atau justru tersendat panjang di Pantura Probolinggo. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Radar Bromo