RADAR BANYUWANGI – Kemacetan di sekitar Pelabuhan Tanjungwangi bukan sekadar membuat kendaraan tersendat. Warga yang tinggal di sepanjang jalur tersebut kini ikut merasakan dampaknya. Warung dan toko kehilangan pelanggan, akses rumah terganggu, bahkan truk yang parkir sembarangan dinilai meningkatkan risiko kecelakaan.
Kondisi tersebut dikeluhkan warga Dusun Selogiri, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Mereka menyebut persoalan truk yang parkir di pinggir jalan bukan perkara baru. Fenomena itu bahkan disebut kerap berulang, terutama ketika memasuki akhir pekan saat aktivitas kendaraan logistik meningkat.
Tony, warga Dusun Selogiri yang memiliki toko sembako di pinggir jalan, mengaku aktivitasnya ikut terganggu. Truk-truk muatan kapal milik PT ALP yang diparkir di sisi jalan membuat akses menuju tokonya tidak lagi leluasa.
Persoalan semakin terasa ketika kemacetan terjadi. Kendaraan yang menumpuk membuat calon pembeli kesulitan masuk ke halaman toko. Akibatnya, jumlah pelanggan pun ikut berkurang.
"Dulu kita sempat protes, apalagi sempat ada kejadian motor yang menabrak truk parkir. Setelah itu sempat steril, tapi seminggu kemudian parkir lagi," tegas Tony.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat warga seolah harus berulang kali menghadapi persoalan yang sama. Ketika truk kembali memenuhi pinggir jalan, aktivitas masyarakat otomatis ikut terganggu.
Warung Warga Ikut "Tenggelam" di Balik Truk
Keluhan serupa disampaikan Fendi, warga Dusun Selogiri lainnya. Dia mengatakan keberadaan truk yang parkir di pinggir jalan bahkan membuat warung milik warga tertutup dari pandangan pengguna jalan.
Bukan hanya akses kendaraan yang terganggu, badan jalan juga ikut menyempit karena sebagian ruang digunakan untuk memarkir truk.
"Truk yang parkir juga ikut memakan badan jalan. Jadi mengganggu lalu lintas dan menutupi warung-warung yang ada di pinggir jalan," keluh Fendi.
Menurut Fendi, persoalan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Dampaknya tidak hanya dirasakan satu-dua pemilik usaha, tetapi juga warga lain yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di sepanjang jalur tersebut.
Saat arus kendaraan lancar saja, keberadaan truk yang berhenti di pinggir jalan sudah membuat akses usaha terganggu. Kondisinya menjadi jauh lebih parah ketika terjadi antrean kendaraan menuju Pelabuhan Tanjungwangi.
Warga Soroti Minimnya Area Parkir Truk
Warga mengaku sudah beberapa kali menyampaikan protes kepada Pelindo. Bagi mereka, persoalan ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan memindahkan truk ketika kemacetan sudah terjadi.
Sebab, persoalan utamanya dinilai berada pada keterbatasan ruang parkir dan penampungan truk yang hendak menyeberang menuju Lombok.
Area di dalam Pelabuhan Tanjungwangi maupun Ruang Tunggu Kendaraan (RTK) memang sudah digunakan untuk menampung kendaraan. Namun, kapasitas yang tersedia dinilai belum mampu mengimbangi jumlah truk yang datang.
Ketika area penampungan penuh, sebagian truk akhirnya berhenti di luar kawasan pelabuhan. Kendaraan berat tersebut kemudian mengular di sepanjang jalan dan mengambil sebagian badan jalan.
Situasi inilah yang kemudian memicu efek domino: arus lalu lintas tersendat, akses warga terhambat, usaha di pinggir jalan tertutup, hingga risiko kecelakaan meningkat.
Fendi menilai solusi tidak cukup hanya mengandalkan pengaturan lalu lintas saat kemacetan sudah terjadi. Menurutnya, perlu ada area parkir baru dengan kapasitas lebih besar untuk menampung truk sebelum masuk pelabuhan.
"Sudah waktunya ada tempat parkir baru yang lebih luas. Fenomena (macet) seperti ini sudah lama. Kasihan pengguna jalan yang sudah sangat terganggu," tutupnya.
Bagi warga Selogiri, keberadaan kantong parkir truk yang memadai bukan lagi sekadar kebutuhan pendukung aktivitas pelabuhan. Fasilitas tersebut dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas logistik tetap berjalan tanpa mengorbankan ruang hidup, keselamatan, dan usaha masyarakat di sekitar Pelabuhan Tanjungwangi. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin