RADAR BANYUWANGI – Antrean kendaraan mengular di kawasan Pelabuhan Tanjungwangi sejak Jumat (7/8) sore hingga Minggu (8/8) pagi. Bukan hanya karena tingginya aktivitas pelabuhan, sejumlah truk yang ditinggal sopir dan diparkir di badan jalan ikut menjadi biang kemacetan.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak kendaraan menyempit. Bahkan pada Sabtu (8/8) malam, antrean kendaraan sempat mendekati jembatan timbang di kawasan Watu Dodol.
Kepadatan terjadi di jalur lintas mulai dari utara Pelabuhan Tanjungwangi hingga kawasan utara Terminal Sritanjung. Kendaraan yang hendak melintas harus bergantian melewati ruas jalan yang sebagian terpakai untuk parkir truk.
Situasi semakin rumit karena beberapa truk ditinggalkan pemiliknya di pinggir jalan. Aparat kepolisian yang melakukan pengaturan lalu lintas pun sempat kesulitan mencari sopir atau pemilik kendaraan untuk segera memindahkan truk.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Tanjungwangi AKP Taufan Akbar membenarkan kepadatan tersebut. Menurut dia, kemacetan mulai terjadi sejak Jumat sore dan cenderung meningkat ketika memasuki sore hingga malam.
"Kepadatan disebabkan adanya truk yang parkir di badan jalan dari arah utara Pelabuhan Tanjungwangi hingga Terminal Sritanjung. Rata-rata truk tersebut ditinggal oleh sopirnya," ungkap Taufan.
Bongkar Muat Kapal Ikut Mempersempit Ruang Gerak
Persoalan parkir truk bukan satu-satunya pemicu kepadatan. Aktivitas bongkar muat di kawasan pelabuhan juga membuat volume kendaraan meningkat signifikan.
Saat kepadatan terjadi, proses bongkar muatan KMP Mutiara Berkah II tengah berlangsung. Kendaraan yang keluar dari kapal kemudian bergerak menuju jalan raya dan menambah beban arus lalu lintas.
Di sisi lain, kendaraan dari Ruang Tunggu Kendaraan (RTK) bergerak secara bersamaan menuju area Pelabuhan Tanjungwangi. Pada waktu yang sama, sejumlah truk dari jalan raya juga berusaha masuk menuju RTK.
Pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah inilah yang membuat sirkulasi di sekitar pelabuhan semakin padat.
Petugas Satlantas Polresta Banyuwangi kemudian melakukan sejumlah rekayasa lalu lintas untuk mengurai antrean. Salah satunya dengan mengarahkan kendaraan besar masuk ke area Terminal Sritanjung.
"Kita juga melakukan pengaturan di depan ASDP Ketapang. Sabtu malam kepadatan perlahan mulai terurai," jelas Taufan.
Empat Kapal LDF Sudah Beroperasi Normal
Sementara itu, Kasi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Tanjungwangi Budi Sanjoyo memastikan operasional kapal Long Distance Ferry (LDF) di lintasan Tanjungwangi-Gili Mas telah kembali normal.
Empat kapal kini beroperasi, yakni KMP Mutiara Sentosa 3, KMP Mutiara Barat, KMP Mutiara Ferindo 2, dan KMP Mutiara Berkah II.
Namun, normalnya operasional kapal tidak otomatis membuat arus kendaraan di sekitar pelabuhan sepenuhnya lancar. Sebab, pergerakan kendaraan tetap terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kendaraan dari kapal bergerak keluar pelabuhan. Pada saat bersamaan, kendaraan dari RTK masuk menuju area pelabuhan. Dari jalan raya, truk lainnya juga bergerak menuju pelabuhan.
Sirkulasi tersebut biasanya mencapai puncaknya ketika kapal memasuki fase bongkar muat.
"Memang proses pergeseran kendaraan dari pelabuhan keluar, kemudian dari RTK ke pelabuhan dan dari jalan ke pelabuhan menjadi penyebab kemacetan masih terjadi," kata Budi.
Terminal Kargo Besar Jadi Solusi Jangka Panjang
Menurut Budi, persoalan antrean truk sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kelancaran arus kapal. Ruang penampungan kendaraan logistik di luar kawasan pelabuhan juga menjadi bagian penting yang perlu dibenahi.
Selama ini, sebagian truk memilih berhenti di pinggir jalan sembari menunggu giliran masuk RTK atau menyelesaikan proses pembelian tiket menuju pelabuhan.
Ketika jumlah truk meningkat, kendaraan yang seharusnya berada di area penyangga akhirnya meluber ke badan jalan. Kondisi tersebut membuat ruas jalan menyempit dan memperbesar potensi kemacetan.
Karena itu, Budi menilai keberadaan terminal kargo berkapasitas besar di luar kawasan Pelabuhan Tanjungwangi dapat menjadi solusi jangka panjang.
Dengan terminal tersebut, aktivitas parkir truk hingga proses pembelian tiket bisa dilakukan sebelum kendaraan masuk ke kawasan pelabuhan.
"Biasanya truk yang di pinggir jalan menunggu giliran masuk RTK atau sedang membeli tiket untuk masuk pelabuhan. Jika ada terminal kargo yang besar di luar pelabuhan, semua aktivitas mulai parkir sampai pembelian tiket bisa dilakukan di sana," pungkasnya.
Dengan begitu, antrean kendaraan logistik tidak lagi meluber ke badan jalan. Aktivitas bongkar muat kapal tetap berjalan, sementara jalur utama menuju Pelabuhan Tanjungwangi dapat dipertahankan untuk arus kendaraan yang melintas. fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin