Rusia dan China Dijajaki Garap Trans-Kalimantan, Prabowo Percepat Pembangunan Jalur Kereta Api Nasional

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 06:56 WIB
Ilustrasi - rel kereta api. (Pexels/Raphael Brasileiro)
Ilustrasi - rel kereta api. (Pexels/Raphael Brasileiro)

RADAR BANYUWANGI - Pemerintah mulai melirik Rusia dan China sebagai calon investor pembangunan jaringan rel kereta api Trans-Kalimantan. Langkah tersebut menjadi tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) mempercepat pembangunan jalur Trans-Sumatra sekaligus memulai proyek Trans-Kalimantan guna memperkuat konektivitas nasional.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, pemerintah telah berkoordinasi dengan PT KAI yang kini menyiapkan roadmap pengembangan jaringan kereta api di Sumatra dan Kalimantan. Setelah peta jalan rampung, pemerintah akan membuka peluang investasi dari dalam maupun luar negeri untuk mempercepat realisasi proyek.

"Untuk Trans-Sumatra sebagian jalurnya sudah tersedia sehingga tinggal disambung-sambungkan. Kalau Trans-Kalimantan memang kita harus mulai," ujar Dudy kepada wartawan di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (6/8) malam, dikutip Antara.

Dudy mengungkapkan, selain investor domestik, pemerintah telah membuka komunikasi dengan sejumlah mitra luar negeri. Dari hasil penjajakan awal, Rusia dan China menjadi dua negara yang menunjukkan ketertarikan terhadap pembangunan jaringan rel kereta api di Kalimantan.

"Kami sudah jajaki dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya Rusia dan China," katanya.

Menurut dia, komunikasi dengan calon investor telah berlangsung. Saat ini, masing-masing pihak masih menghitung kelayakan investasi sebelum menyampaikan proposal resmi kepada pemerintah.

"Mereka sedang mencoba menghitung, kemudian nanti menyampaikan proposal ke kami," imbuhnya.

Meski proses penjajakan investasi berjalan, Dudy belum dapat memastikan proyek mana yang akan direalisasikan lebih dahulu. Keputusan tersebut bergantung pada hasil kajian bisnis serta minat investor terhadap masing-masing proyek.

Ia menilai Trans-Sumatra memiliki peluang lebih cepat berkembang karena sebagian jaringan rel telah tersedia dan berpotensi memperkuat angkutan logistik nasional. Sebaliknya, pembangunan Trans-Kalimantan membutuhkan investasi yang lebih besar karena jaringan rel antardaerah masih harus dibangun dari awal.

"Saya lihat kalau Sumatra logistiknya KAI yang lebih berminat untuk mengembangkannya. Kalau di Kalimantan sepertinya dari China sama Rusia yang lebih berminat," ujarnya.

Pembangunan Trans-Kalimantan dinilai menjadi salah satu proyek strategis yang dapat meningkatkan konektivitas antardaerah di Pulau Kalimantan. Selain memperlancar distribusi barang, jaringan kereta api juga berpotensi menekan biaya logistik, mendukung kawasan industri, serta memperkuat akses menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Sementara itu, proyek Trans-Sumatra akan menghubungkan Bakauheni di Provinsi Lampung hingga wilayah paling utara Pulau Sumatra. Jalur tersebut diharapkan memperkuat mobilitas penumpang maupun distribusi logistik di sepanjang Pulau Sumatra.

Arahan percepatan pembangunan kedua proyek tersebut sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, bulan lalu.

"Habis Trans-Sumatra, nanti Trans-Kalimantan. Kalau bisa bersamaan, kita mulai," kata Prabowo.

Presiden juga menegaskan pembangunan jalur Trans-Sumatra menjadi target yang harus diwujudkan Kementerian Perhubungan bersama PT KAI. Bahkan, di hadapan Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Prabowo secara langsung meminta kesiapan keduanya menjalankan proyek tersebut.

Keduanya menyatakan siap melaksanakan penugasan pemerintah dalam rangka mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi nasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Trans Kalimantan