Teknologi Intan Box Banyuwangi Tarik Perhatian BCA dan PPATK, Dukung Konservasi Penyu

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 02:00 WIB
ANAK PENYU: Direktur BCA Lianawaty Suwono melihat langsung tukik hasil penetasan dari Intan Ruang di sekretsriat BSTF pada Rabu (5/8). (Gerda/Radar Banyuwangi)
ANAK PENYU: Direktur BCA Lianawaty Suwono melihat langsung tukik hasil penetasan dari Intan Ruang di sekretsriat BSTF pada Rabu (5/8). (Gerda/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Inovasi konservasi penyu karya anak bangsa dari Banyuwangi kembali mendapat perhatian tingkat nasional. Yayasan Penyu Banyuwangi atau Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) menerima kunjungan jajaran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Rabu (5/8), untuk melihat langsung pengembangan teknologi penetasan penyu Inkubator Buatan Tanpa Media Pasir Skala Box (Intan Box) yang telah mengantongi hak paten. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Gerakan Nasional 24 Tahun APU-PPT 2026.

Rombongan PPATK dipimpin Deputi Analisis dan Pemeriksaan Danang Tri Hartono bersama Direktur Pelaporan Patrick Irawan. Dalam kesempatan itu, mereka meninjau langsung inovasi yang dikembangkan BSTF dengan dukungan Program CSR Bakti BCA sebagai salah satu contoh kolaborasi pelestarian lingkungan berbasis teknologi.

Turut hadir Direktur BCA Lianawaty Suwono, EVP Compliance Division BCA Lanny Tanzania, serta SVP Compliance Division BCA Gunawan Budiman. Kehadiran jajaran BCA menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan teknologi konservasi yang kini telah dimanfaatkan di sejumlah daerah.

Pendiri BSTF Wiyanto Haditanojo bersama pengurus BSTF Bayu Saksono memaparkan perkembangan teknologi Intan Box yang dirancang untuk meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan telur penyu dibanding metode konvensional.

Selain memperkenalkan Intan Box, BSTF juga mengenalkan inovasi terbaru bernama Intan Ruang, yaitu inkubator buatan berskala ruang yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas konservasi penyu, khususnya dalam pengaturan kondisi inkubasi yang lebih stabil.

Teknologi tersebut tidak hanya dimanfaatkan di Banyuwangi. Berkat dukungan Bakti BCA, Intan Box juga telah diterapkan oleh kelompok pelestari penyu binaan di Pantai Goa Cemara, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta kelompok konservasi penyu di Pantai Kerobokan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari Banyuwangi mulai memberikan manfaat lebih luas bagi upaya pelestarian penyu di berbagai wilayah Indonesia.

Kegiatan ditutup dengan pemaparan hasil penelitian oleh drh. Ragil Angga, M.Si., dari Universitas Airlangga. Dalam disertasinya, ia mengungkapkan bahwa penggunaan Intan Ruang mampu menghasilkan komposisi tukik jantan yang lebih dominan sesuai kebutuhan menjaga keseimbangan populasi penyu di habitat alaminya.

Temuan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pendekatan ilmiah dapat mendukung efektivitas program konservasi, terutama bagi satwa yang populasinya terus menghadapi berbagai ancaman.

Kolaborasi antara lembaga pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan komunitas konservasi dinilai menjadi fondasi penting dalam mengembangkan teknologi pelestarian satwa liar yang berkelanjutan. Dukungan terhadap riset dan inovasi juga diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjaga keanekaragaman hayati.

Kunjungan PPATK ke BSTF sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi lokal tidak hanya berdampak bagi pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu menjadi contoh sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Dari Banyuwangi, teknologi konservasi penyu kini terus berkembang dan mulai menginspirasi berbagai daerah lain di Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
BSTF Banyuwangi Bakti BCA konservasi penyu intan box ppatk