ASDP Perketat Pelabuhan Ketapang, Sekuriti Hijau Neon hingga Pengenal Wajah

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 04:30 WIB
PAKAI ROMPO HIJAU NEON: Petugas sekuriti ASDP Ketapang memberikan pelayanan kepada warga yang hendak naik kapal. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
PAKAI ROMPO HIJAU NEON: Petugas sekuriti ASDP Ketapang memberikan pelayanan kepada warga yang hendak naik kapal. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Wajah baru Pelabuhan Ketapang mulai terlihat sejak program sterilisasi kawasan resmi diterapkan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Mulai Rabu (5/8), seluruh orang yang beraktivitas di area pelabuhan, mulai pedagang asongan, petugas keamanan, pekerja, hingga tamu, wajib mengenakan rompi beridentitas sesuai fungsi masing-masing. Bersamaan dengan itu, ASDP juga mengaktifkan sistem face recognition atau pengenal wajah di pintu masuk untuk memperketat pengawasan dan memastikan hanya pihak berkepentingan yang dapat memasuki kawasan operasional.

Suasana di Pelabuhan Ketapang, Kecamatan Kalipuro, dalam dua hari terakhir tampak berbeda. Pedagang asongan yang sebelumnya beraktivitas tanpa atribut khusus kini mengenakan rompi kuning lengkap dengan identitas resmi. Sementara petugas sekuriti ASDP menggunakan rompi hijau neon, pegawai dan tamu ASDP memakai rompi biru navy disertai helm keselamatan, petugas perusahaan pelayaran mengenakan rompi biru, sedangkan pengurus bus maupun truk dibedakan dengan rompi oranye.

Penataan identitas visual tersebut menjadi bagian dari kebijakan sterilisasi kawasan pelabuhan yang bertujuan menciptakan lingkungan kerja dan pelayanan penyeberangan yang lebih aman, tertib, dan nyaman. Seluruh orang yang beraktivitas di area steril kini wajib terdata serta mengikuti jalur dan prosedur yang telah ditetapkan.

General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah mengatakan, penerapan rompi dengan warna berbeda memudahkan petugas melakukan pengawasan sekaligus membantu pengguna jasa mengenali fungsi setiap personel yang berada di kawasan pelabuhan.

"Pembagian warna ini dilakukan untuk memudahkan identifikasi personel yang beraktivitas di area pelabuhan. Dengan begitu, pengawasan menjadi lebih mudah dan penumpang juga lebih nyaman," ujarnya.

Menurut Arief, sistem identifikasi tersebut merupakan bagian dari transformasi pelayanan ASDP yang mengedepankan budaya keselamatan dan keamanan. Dengan pembeda warna rompi, keberadaan orang yang tidak memiliki kepentingan di area operasional dapat lebih mudah diketahui sehingga potensi gangguan keamanan dapat diminimalkan.

"Selain meningkatkan keamanan, langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi pelayanan ASDP untuk menjalankan budaya keamanan di pelabuhan," katanya.

Tak hanya menata personel, ASDP juga memperketat proses penyaringan setiap orang yang masuk ke kawasan pelabuhan melalui teknologi face recognition. Seluruh pekerja diwajibkan melakukan verifikasi identitas menggunakan sistem pengenal wajah sebelum memasuki area operasional.

Penerapan teknologi tersebut juga dibarengi dengan pemeriksaan identitas penumpang. Tiket yang digunakan harus sesuai dengan identitas resmi sehingga seluruh data manifes kapal tercatat secara akurat. Langkah itu diharapkan memperkuat aspek keamanan sekaligus memudahkan proses pengawasan apabila terjadi kondisi darurat.

Direktur Operasi dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Rio Theodore Natalianto Lasse menegaskan, sterilisasi Pelabuhan Ketapang merupakan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk membangun budaya keselamatan di pelabuhan, bukan sekadar melakukan penataan kawasan.

"Kami berharap melalui sinergi seluruh pihak, Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk menjadi pelabuhan yang lebih aman, nyaman, tertib, dan selalu mengedepankan aspek keselamatan pelayaran," ujarnya saat peluncuran program sterilisasi.

Rio menjelaskan, edukasi juga diberikan kepada seluruh pihak yang selama ini beraktivitas di kawasan pelabuhan. Pedagang asongan yang telah terdata kini wajib mengenakan rompi kuning sebagai tanda bahwa mereka merupakan bagian dari sistem pengawasan yang baru.

"Petugas maupun pedagang asongan sudah mulai memakai rompi kuning. Artinya mereka sudah terdata dan bersama-sama mendukung penerapan sterilisasi pelabuhan," katanya.

Menurut Rio, keberhasilan program sterilisasi tidak hanya bergantung pada ASDP, tetapi juga kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), pemerintah daerah, hingga operator kapal penyeberangan.

Sinergi tersebut diharapkan mampu mewujudkan sistem transportasi penyeberangan Ketapang–Gilimanuk yang semakin aman, tertib, modern, dan berorientasi pada keselamatan. Penerapan rompi beridentitas serta teknologi pengenal wajah menjadi langkah awal transformasi layanan yang diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan penyeberangan nasional. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Sterilisasi pelabuhan rompi petugas Face Recognition pelabuhan ketapang asdp ketapang