Pemerintah Libatkan Danantara Perkuat Jaringan Kereta Luar Jawa, Kebutuhan Investasi Tembus Rp1.200 Triliun

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 10:48 WIB
Ilustrasi - rel kereta api. (Pexels/Raphael Brasileiro)
Ilustrasi - rel kereta api. (Pexels/Raphael Brasileiro)

RADAR BANYUWANGI - Pemerintah terus mematangkan rencana pengembangan jaringan perkeretaapian nasional di luar Pulau Jawa sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Dalam proyek strategis tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dipastikan akan ikut terlibat dalam mendukung pembiayaan maupun pengembangannya.

Kepastian tersebut disampaikan Asisten Deputi Pengembangan Konektivitas Antar Wilayah Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK), Djoko Hartoyo, di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Menurutnya, pemerintah telah menetapkan pengembangan jaringan kereta api di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi sebagai salah satu agenda prioritas pembangunan infrastruktur nasional.

"Danantara akan terlibat," ujar Djoko, dikutip Antara.

Dia berharap proses pembangunan dapat segera memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan pembangunan jaringan perkeretaapian nasional hingga 2045 diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp1.200 triliun yang akan direalisasikan secara bertahap.

Anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun jalur kereta baru sekaligus mengaktifkan kembali jalur yang sudah tidak beroperasi. Total panjang jaringan rel yang direncanakan mencapai sekitar 14.000 kilometer di luar Pulau Jawa, mencakup Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Program tersebut menjadi bagian dari rencana pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, pemerintah menilai dukungan pembiayaan yang berkelanjutan dari berbagai sumber menjadi faktor penting agar target pembangunan dapat tercapai.

Berdasarkan perhitungan awal, kebutuhan investasi diperkirakan berkisar Rp60 triliun hingga Rp65 triliun setiap tahun apabila pelaksanaan proyek dilakukan dalam rentang waktu sekitar dua dekade.

Meski demikian, AHY menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara. Perhitungan akan terus disempurnakan dengan mempertimbangkan kondisi geografis setiap daerah yang akan menjadi lokasi pembangunan.

"Hitungan ini belum final. Pembangunan infrastruktur sangat bergantung pada kondisi geografis wilayah yang akan dikembangkan. Angka tersebut masih menjadi bahan diskusi dan akan terus disempurnakan," ujarnya.

Kebutuhan pengembangan jaringan rel di luar Jawa masih tergolong besar. Di Sumatera, panjang jalur kereta yang tersedia saat ini sekitar 1.871 kilometer. Namun, untuk memenuhi kebutuhan konektivitas berbasis jumlah penduduk masih diperlukan tambahan sekitar 7.837 kilometer rel.

Sementara itu, Kalimantan hingga kini belum memiliki jaringan kereta api antarkota. Pemerintah memperkirakan wilayah tersebut membutuhkan sedikitnya 2.772 kilometer jalur rel baru guna mendukung konektivitas kawasan.

Adapun di Sulawesi, jaringan kereta yang telah beroperasi baru mencapai sekitar 109 kilometer. Untuk meningkatkan mobilitas masyarakat dan konektivitas regional, masih dibutuhkan tambahan sekitar 3.284 kilometer jalur rel.

AHY menegaskan pembangunan jaringan perkeretaapian nasional tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap melalui rencana jangka menengah hingga jangka panjang dengan mengedepankan sejumlah program prioritas atau quick wins sebagai langkah awal percepatan pembangunan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Danantara