Proyek Kereta Trans Sumatra Sepanjang 1.700 Kilometer Masuki Tahap Kajian, Kemenhub Prioritaskan Integrasi Transportasi

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 15:26 WIB
Ilustrasi - rel kereta api. (Pexels/Raphael Brasileiro)
Ilustrasi - rel kereta api. (Pexels/Raphael Brasileiro)

RADAR BANYUWANGI - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan pengembangan Trans Sumatra Railway tidak hanya berfokus pada pembangunan jalur rel, tetapi juga menghadirkan simpul-simpul transportasi terintegrasi yang mampu memperkuat konektivitas antarmoda di Pulau Sumatera.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub, Risal Wasal, mengatakan konsep yang dikembangkan adalah menciptakan titik integrasi transportasi yang aman, nyaman, dan mudah diakses masyarakat. Dengan demikian, perpindahan penumpang maupun barang dapat berlangsung lebih efisien.

Menurut Risal, pemerintah tidak secara khusus mengembangkan kawasan berkonsep Transit Oriented Development (TOD) dalam proyek tersebut. Fokus utama justru diarahkan pada pembangunan simpul integrasi antarmoda yang menghubungkan berbagai moda transportasi.

"Saya tidak bicara TOD. Tapi bentuk simpul yang terintegrasi. Bisa hub dan lain-lain. TOD itu begitu bangunan tambahan lainnya, bisa hotel, bisa apa, justru kawasan pabrikan. Saya bicara simpulnya, suatu simpul integrasi," ujarnya, dikutip Antara.

Ia menjelaskan, setiap simpul transportasi nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan pelayanan di masing-masing daerah. Dengan pendekatan tersebut, jaringan transportasi di Sumatera diharapkan semakin terhubung sehingga mendukung mobilitas masyarakat sekaligus distribusi logistik.

Selain memperkuat konektivitas, pembangunan simpul transportasi baru juga diharapkan menjadi fondasi integrasi antarmoda yang lebih efektif, sehingga perjalanan maupun pengiriman barang dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan proyek Trans Sumatra Railway tidak akan sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah tengah menyiapkan berbagai alternatif pembiayaan untuk mempercepat realisasi proyek strategis tersebut.

Menurut Dudy, inovasi pendanaan menjadi langkah penting mengingat kebutuhan investasi pembangunan jalur kereta Trans Sumatra sangat besar. Pemerintah membuka peluang pembiayaan di luar APBN agar pembangunan dapat berjalan lebih cepat.

Proyek Trans Sumatra Railway merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat jaringan perkeretaapian di luar Pulau Jawa. Pengembangan jaringan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi angkutan logistik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah telah membentuk tim khusus untuk mengkaji pembangunan jaringan rel sepanjang sekitar 1.700 kilometer yang akan menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Kajian dilakukan bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, PT Kereta Api Indonesia (KAI), Danantara, serta Kementerian Perhubungan.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan kajian dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Presiden guna mempercepat pengembangan jaringan rel di luar Pulau Jawa.

Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai sekitar 25 miliar dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp350 triliun. Saat ini jaringan rel aktif di Sumatera masih terpisah di sejumlah wilayah dan belum saling terkoneksi secara penuh.

Sebagai tahap awal, pembangunan jalur Banda Aceh–Besitang ditetapkan sebagai prioritas utama. Ruas tersebut diharapkan menjadi titik awal terwujudnya jaringan kereta Trans Sumatra yang terintegrasi dari ujung utara hingga selatan Pulau Sumatera, sehingga mampu meningkatkan konektivitas regional dan mendukung pemerataan pembangunan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Trans Sumatra Railway