RADAR BANYUWANGI - Geopark Ijen memasuki tahap penting untuk mempertahankan status sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Dua asesor internasional dari Jerman dan China mulai melakukan revalidasi di Banyuwangi dan Bondowoso selama lima hari, sejak Minggu (2/8) hingga Kamis (6/8). Hasil evaluasi akan menentukan apakah Geopark Ijen tetap menyandang predikat geopark dunia atau harus menjalani perbaikan sesuai standar UNESCO.
Revalidasi ini menjadi evaluasi perdana setelah Geopark Ijen resmi ditetapkan sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark pada 2023. Sesuai mekanisme UNESCO, setiap kawasan geopark dunia wajib menjalani evaluasi menyeluruh setiap empat tahun guna memastikan pengelolaan kawasan tetap memenuhi standar internasional.
Hasil penilaian nantinya akan menentukan status Geopark Ijen, yakni green card apabila dinilai memenuhi seluruh standar, yellow card jika masih memerlukan perbaikan dalam kurun dua tahun, atau red card apabila status UNESCO Global Geopark dicabut.
Asesor UNESCO Tinjau PIGGI dan Geosite Unggulan
Tim asesor yang terdiri atas Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China memulai rangkaian penilaian dengan mengunjungi Pusat Informasi Geologi dan Geopark Ijen (PIGGI) di Banyuwangi.
Di lokasi tersebut, keduanya meninjau koleksi geologi yang menjadi kekayaan kawasan Geopark Ijen, mulai dari batuan, fosil, hingga warisan budaya yang menjadi bagian dari nilai universal UNESCO Global Geopark.
Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen, Abdillah Baraas, mengatakan kunjungan ke PIGGI merupakan bagian dari evaluasi terhadap aspek edukasi dan interpretasi yang dikembangkan pengelola.
"Peninjauan di PIGGI menjadi bagian dari evaluasi aspek edukasi dan interpretasi dalam proses revalidasi," ujarnya.
Setelah itu, asesor dijadwalkan mengunjungi sejumlah geosite unggulan di Banyuwangi, di antaranya Taman Nasional Alas Purwo, Teluk Biru, dan Teluk Pangpang, untuk melihat langsung pengelolaan kawasan konservasi berbasis geopark.
Pemberdayaan Masyarakat Ikut Dinilai
Selain aspek geologi, UNESCO juga memberikan perhatian besar terhadap keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan geopark.
Karena itu, tim asesor akan mengunjungi Desa Kemiren, yang berada di kawasan Geopark Ijen, untuk melihat pelestarian budaya lokal, serta Desa Wisata Wringinputih guna meninjau praktik pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan kawasan mangrove.
"Asesor juga akan mengunjungi Desa Kemiren Banyuwangi yang berada di kawasan Kawah Ijen dan Desa Wisata Wringinputih untuk melihat praktik pemberdayaan masyarakat di kawasan mangrove," kata Abdillah.
Menurutnya, seluruh rangkaian kunjungan tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap empat pilar utama UNESCO Global Geopark, yakni konservasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Banyuwangi Bidik Pertahankan Green Card
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa Geopark Ijen kini telah menjadi bagian dari warisan dunia sehingga tanggung jawab pelestariannya tidak hanya berada di pundak pemerintah daerah, tetapi juga seluruh masyarakat.
"Geopark Ijen ini bukan lagi hanya milik Banyuwangi, tetapi sudah menjadi milik dunia. Karena itu, melalui revalidasi ini kita ingin memperlihatkan komitmen dan upaya terbaik dalam menjaga warisan dunia ini," tegas Ipuk.
Menurutnya, proses revalidasi menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama seluruh pemangku kepentingan untuk menunjukkan konsistensi dalam menjaga kekayaan geologi, budaya, dan lingkungan melalui pengelolaan yang berkelanjutan.
Keberhasilan mempertahankan status UNESCO Global Geopark diharapkan tidak hanya memperkuat pengakuan internasional terhadap Geopark Ijen, tetapi juga mendorong peningkatan sektor pendidikan, konservasi, dan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Banyuwangi dan Bondowoso. (*)
Editor : Ali Sodiqin