Kenapa Tol Probowangi Jadi Prosiwangi? Begini Kronologi Perubahan Namanya

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 20:53 WIB
Progres jalan Tol Probowangi di Kawasan Banyuglugur, Situbondo, perbatasan dengan Paiton Probolinggo.
Tol Probowangi berganti nama menjadi Tol Prosiwangi. Bukan proyek baru, perubahan nomenklatur ini memasukkan Situbondo sebagai wilayah yang dilalui. (Tangkapan Layar Youtube @Waskita)

RADAR BANYUWANGI – Nama Tol Probolinggo-Banyuwangi yang selama ini dikenal publik sebagai Tol Probowangi kini bergeser menjadi Tol Prosiwangi. Perubahan nomenklatur itu sempat memunculkan pertanyaan: apakah proyek jalan tol tersebut berubah trase, berganti proyek, atau ada pembangunan baru?

Jawabannya: bukan.

Perubahan dari Tol Probowangi menjadi Tol Prosiwangi pada dasarnya merupakan perubahan nama atau nomenklatur, bukan perubahan trase pembangunan. Nama baru tersebut dinilai lebih merepresentasikan tiga wilayah utama yang dilintasi koridor jalan tol, yakni Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi.

Dari tiga daerah itu, lahirlah nama Prosiwangi: Pro dari Probolinggo, Si dari Situbondo, dan Wangi dari Banyuwangi.

Perubahan nama tersebut juga tidak terjadi dalam satu waktu. Prosesnya berlangsung bertahap. Pada April 2025, gagasan penggunaan nama Prosiwangi masih berada dalam tahap usulan dan koordinasi. Beberapa bulan kemudian, nomenklatur Prosiwangi mulai digunakan dalam komunikasi resmi pemerintah.

Pada November 2025, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum telah menggunakan nama Jalan Tol Prosiwangi dalam pengumuman terkait uji laik fungsi dan operasi seksi jalan tol.

Perubahan itu sekaligus menjawab satu persoalan identitas yang selama ini melekat pada nama Probowangi.

Mengapa Nama Probowangi Diubah?

Nama Probowangi sebenarnya merujuk pada dua daerah yang menjadi titik awal dan tujuan koridor, yakni Probolinggo dan Banyuwangi.

Namun, dalam perjalanan dari Probolinggo menuju Banyuwangi, proyek tol tersebut juga melewati wilayah Kabupaten Situbondo.

Karena itu, muncul dorongan agar Situbondo turut tercermin dalam nama jalan tol.

Nama Prosiwangi kemudian dianggap lebih representatif karena secara langsung menyebut tiga wilayah utama yang menjadi bagian dari koridor tersebut.

Bagi Situbondo, penyebutan nama daerah dalam nomenklatur tol bukan sekadar persoalan singkatan. Ada kepentingan identitas dan posisi daerah dalam jaringan konektivitas nasional.

Gagasan perubahan nama ini antara lain mendapat dorongan dari Pemerintah Kabupaten Situbondo serta anggota DPR RI asal Situbondo, HM Nasim Khan.

Dalam pemberitaan April 2025, Nasim Khan menyebut perubahan nama tersebut telah dikomunikasikan dengan Direktur Utama PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi, Adi Prasetyanto.

Saat itu, proses perubahan nama belum bersifat final. Masih ada tahapan pengusulan dan koordinasi.

Pada September 2025, proses tersebut disebut tengah berjalan di tingkat Kementerian Pekerjaan Umum. Perubahan nama kemudian semakin terlihat ketika BPJT menggunakan nomenklatur Prosiwangi dalam komunikasi resminya.

Artinya, perubahan nama Tol Probowangi menjadi Prosiwangi bukan keputusan yang muncul secara mendadak.

Ada rangkaian proses yang dimulai dari aspirasi daerah, komunikasi dengan pengelola jalan tol, koordinasi dengan pemerintah pusat, hingga penggunaan nama Prosiwangi dalam informasi resmi BPJT.

Bukan Perubahan Trase

Satu hal yang perlu digarisbawahi: perubahan nama Tol Probowangi menjadi Tol Prosiwangi tidak menunjukkan adanya perubahan trase.

Koridor pembangunan tetap menghubungkan kawasan Probolinggo dengan Banyuwangi dan melintasi wilayah Situbondo.

Dengan demikian, Tol Prosiwangi bukan proyek baru yang menggantikan Tol Probowangi.

Keduanya merujuk pada koridor jalan tol yang sama.

Perbedaannya berada pada nomenklatur.

Jika sebelumnya masyarakat lebih mengenal nama Probowangi, kini nama yang digunakan dalam komunikasi resmi pemerintah adalah Prosiwangi.

Perubahan ini juga penting untuk dipahami publik agar tidak muncul anggapan bahwa pemerintah sedang membangun dua proyek tol berbeda di kawasan tersebut.

Bertepatan dengan Tahapan Penting Pembangunan

Perubahan nama terjadi ketika pembangunan Tol Probolinggo-Banyuwangi memasuki tahapan penting.

Sebelumnya, BPJT menggunakan nomenklatur Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi untuk proyek yang dibangun secara bertahap dari Gending menuju Besuki.

Tahap 1 proyek tersebut memiliki panjang sekitar 49,7 kilometer dan terbagi dalam tiga seksi, yakni Gending-Kraksaan, Kraksaan-Paiton, dan Paiton-Besuki.

Seiring perkembangan pembangunan, penggunaan nama Prosiwangi mulai muncul dalam komunikasi resmi pemerintah.

Pada November 2025, BPJT menggunakan nomenklatur Jalan Tol Prosiwangi dalam pengumuman terkait uji laik fungsi dan operasi Seksi 1 dan Seksi 2.

Momentum tersebut menjadi salah satu penanda penting bahwa nama Prosiwangi telah digunakan dalam komunikasi resmi pemerintah.

Kronologi Perubahan Nama

17 Juli 2024

BPJT masih menggunakan nama Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi untuk proyek yang dibangun bertahap dari Gending menuju Besuki.

2 April 2025

Gagasan perubahan nama menjadi Prosiwangi mulai disampaikan secara terbuka. Salah satu alasannya karena koridor tol melintasi tiga wilayah, yakni Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi.

4 April 2025

Perubahan nama disebut masih berada dalam tahap usulan dan koordinasi setelah adanya komunikasi dengan pihak Jasa Marga.

September 2025

Proses perubahan nama disebut tengah berjalan di Kementerian Pekerjaan Umum dan mendapat lampu hijau untuk diproses lebih lanjut.

November 2025

BPJT menggunakan nama Jalan Tol Prosiwangi dalam pengumuman terkait uji laik fungsi dan operasi seksi jalan tol.

Mengapa Situbondo Berkepentingan?

Bagi Situbondo, perubahan nama tersebut memiliki makna lebih dari sekadar penambahan dua huruf.

Masuknya unsur "Si" ke dalam nama Prosiwangi membuat Situbondo tampil secara eksplisit sebagai bagian dari koridor strategis jalan tol di ujung timur Pulau Jawa.

Pemerintah daerah berharap keberadaan jalan tol dapat memperkuat konektivitas, memperlancar mobilitas barang dan manusia, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi.

Dampaknya diharapkan dapat dirasakan melalui peningkatan efisiensi distribusi logistik, peluang investasi, pengembangan sektor pariwisata, hingga penguatan UMKM dan sektor produktif masyarakat.

Tol tersebut juga diproyeksikan memperkuat konektivitas kawasan Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi sebagai bagian dari jaringan jalan tol yang menghubungkan Pulau Jawa hingga kawasan timur.

Namun, berbagai angka terkait penghematan waktu tempuh dan biaya perjalanan yang beredar perlu dipahami sebagai proyeksi. Dampak final akan sangat bergantung pada pengoperasian ruas secara keseluruhan dan pola lalu lintas setelah seluruh jaringan tersambung.

Jadi, Apa Alasan Tol Probowangi Berganti Nama?

Kesimpulannya, Tol Probowangi berganti nama menjadi Tol Prosiwangi karena nama baru dianggap lebih mencerminkan tiga wilayah utama yang dilalui koridor jalan tol tersebut: Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi.

Perubahan itu tidak berarti ada tol baru.

Tidak pula menunjukkan perubahan trase.

Nama Prosiwangi merupakan nomenklatur baru untuk koridor Tol Probolinggo-Banyuwangi yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Tol Probowangi.

Prosesnya pun berlangsung bertahap. Dimulai dari aspirasi untuk memasukkan Situbondo dalam identitas jalan tol, dilanjutkan komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait, hingga akhirnya nama Prosiwangi digunakan dalam komunikasi resmi BPJT.

Bagi Situbondo, perubahan tersebut menjadi penanda bahwa daerahnya tidak hanya menjadi wilayah yang dilewati jalan tol, tetapi juga tercermin dalam identitas koridor konektivitas strategis yang menghubungkan Probolinggo hingga Banyuwangi.

Dengan begitu, ketika publik mendengar nama Tol Prosiwangi, yang dimaksud bukan proyek baru.

Melainkan koridor jalan tol yang menghubungkan Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi, dengan nama yang kini dianggap lebih lengkap menggambarkan wilayah yang dilaluinya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
perubahan nama tol Jalan tol Situbondo Tol Probolinggo Banyuwangi Tol Probowangi tol prosiwangi