Geopark Ijen Diuji UNESCO Selama 5 Hari, Hasilnya Tentukan Status Dunia

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:30 WIB
Geopark Ijen menjalani revalidasi UNESCO Global Geopark. Dua asesor dari Jerman dan China menilai konservasi, edukasi, dan pariwisata. (banyuwangikab.go.id)
Geopark Ijen menjalani revalidasi UNESCO Global Geopark. Dua asesor dari Jerman dan China menilai konservasi, edukasi, dan pariwisata. (banyuwangikab.go.id)

RADAR BANYUWANGI - Geopark Ijen memasuki fase krusial untuk mempertahankan status sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Dua asesor internasional dari Jerman dan China mulai melakukan revalidasi di Banyuwangi dan Bondowoso selama lima hari, mulai 2 hingga 6 Agustus 2026. Hasil evaluasi ini akan menentukan apakah Geopark Ijen tetap menyandang status geopark dunia atau harus menjalani perbaikan.

Revalidasi dilakukan sebagai evaluasi pertama sejak Geopark Ijen resmi bergabung dalam jaringan UNESCO Global Geopark pada 2023. Penilaian tersebut merupakan mekanisme wajib yang dilakukan UNESCO setiap empat tahun untuk memastikan seluruh kawasan geopark tetap memenuhi standar internasional dalam aspek konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Dua asesor yang ditugaskan adalah Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China. Selama berada di Banyuwangi dan Bondowoso, keduanya akan melakukan verifikasi lapangan terhadap berbagai geosite dan program pengelolaan Geopark Ijen.

Asesor Tinjau Pusat Informasi Geologi hingga Geosite

Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen, Abdillah Baraas, mengatakan salah satu agenda awal asesor adalah mengunjungi Pusat Informasi Geologi dan Geopark Ijen (PIGGI) di Banyuwangi.

Di lokasi tersebut, tim akan melihat berbagai koleksi geologi sekaligus memperoleh penjelasan mengenai kekayaan warisan alam Geopark Ijen, mulai dari batuan, fosil, hingga nilai budaya yang menjadi bagian dari kawasan UNESCO Global Geopark.

"Peninjauan di PIG menjadi bagian dari evaluasi aspek edukasi dan interpretasi dalam proses revalidasi," ujar Abdillah, Minggu (2/8/2026).

Selanjutnya, asesor dijadwalkan mengunjungi sejumlah geosite unggulan, seperti Taman Nasional Alas Purwo, Teluk Biru, dan Teluk Pangpang untuk melihat langsung kondisi kawasan serta implementasi pengelolaannya.

Pemberdayaan Masyarakat Jadi Fokus Penilaian

Tak hanya menilai kekayaan geologi, UNESCO juga memberikan perhatian pada keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan geopark.

Karena itu, tim asesor akan mengunjungi Desa Kemiren, yang berada di kawasan Geopark Ijen, untuk melihat pelestarian budaya masyarakat adat Osing.

Selain itu, kunjungan juga dilakukan ke Desa Wisata Wringin Putih guna mengevaluasi praktik pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan kawasan mangrove yang dikembangkan secara berkelanjutan.

"Asesor juga akan mengunjungi Kampung Desa Kemiren Banyuwangi yang berada di kawasan Kawah Ijen dan Desa Wisata Wringin Putih untuk melihat praktik pemberdayaan masyarakat di kawasan mangrove," kata Abdillah.

Penentu Status Green Card atau Red Card

Revalidasi merupakan instrumen evaluasi berkala UNESCO yang menentukan kelanjutan status sebuah geopark dunia.

Hasil penilaian nantinya akan menghasilkan tiga kemungkinan status, yakni Green Card apabila seluruh standar internasional dinilai terpenuhi, Yellow Card jika masih diperlukan perbaikan dalam waktu dua tahun, atau Red Card yang berarti status UNESCO Global Geopark dicabut.

Karena itu, proses evaluasi kali ini menjadi momentum penting bagi Banyuwangi dan Bondowoso untuk menunjukkan konsistensi dalam menjaga warisan geologi dunia.

Banyuwangi Tegaskan Komitmen Jaga Warisan Dunia

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa Geopark Ijen kini bukan hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga merupakan bagian dari warisan dunia yang harus dijaga bersama.

"Geopark Ijen ini bukan lagi hanya milik Banyuwangi, tetapi sudah menjadi milik dunia. Karena itu, melalui revalidasi ini kita ingin memperlihatkan komitmen dan upaya terbaik dalam menjaga warisan dunia ini," ujarnya.

Menurut Ipuk, pemerintah daerah bersama masyarakat terus memperkuat pengelolaan kawasan berbasis konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi lokal agar keberadaan Geopark Ijen memberikan manfaat berkelanjutan tanpa mengurangi nilai warisan geologinya.

Keberhasilan mempertahankan status UNESCO Global Geopark diharapkan semakin memperkuat posisi Geopark Ijen sebagai destinasi geowisata kelas dunia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pariwisata yang berkelanjutan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : banyuwangikab.go.id
UNESCO Geopark revalidasi UNESCO geopark ijen kawah ijen banyuwangi