RADAR BANYUWANGI - Proyek peningkatan kapasitas dermaga di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk resmi dimulai. Langkah ini menjadi upaya PT ASDP Indonesia Ferry meningkatkan kelancaran arus kendaraan dan logistik di Selat Bali, dengan prioritas pembangunan Dermaga Moveable Bridge (MB) 2 di Pelabuhan Gilimanuk yang ditargetkan sudah beroperasi sebelum angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Peningkatan kapasitas pelabuhan dilakukan di dua titik sekaligus, yakni Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dan Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. Proyek tersebut diharapkan mampu mengurangi antrean kendaraan logistik yang selama ini kerap menumpuk di dermaga tertentu, terutama saat musim mudik maupun libur panjang.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, mengatakan pekerjaan yang kini berjalan di Pelabuhan Ketapang masih berada pada tahap awal.
Mulai dari pemasangan pagar pembatas proyek, penyiapan jalur kerja, persiapan pembongkaran dermaga lama, hingga fabrikasi material konstruksi.
"Masih tahap persiapan. Yang sudah terlihat di lapangan mungkin pagar-pagar pembatas dan pengarah. Untuk pekerjaan lain, termasuk alat pancang dan materialnya, masih dalam tahap persiapan, baik di sisi Ketapang maupun Gilimanuk," ujarnya.
Sementara itu, pekerjaan fisik lebih dahulu dilakukan di Dermaga MB 2 Pelabuhan Gilimanuk. Dermaga yang sebelumnya hanya mampu melayani kapal dengan kapasitas 30 ton akan ditingkatkan sehingga dapat melayani kapal hingga 50 ton.
Menurut Arief, peningkatan kapasitas tersebut ditargetkan selesai sebelum akhir tahun sehingga sudah dapat dimanfaatkan saat puncak angkutan Nataru.
"Kalau untuk Nataru, kami upayakan yang di sisi Gilimanuk sudah bisa dipakai," katanya.
Di sisi Ketapang, proyek mencakup perubahan dermaga ponton menjadi dermaga Moveable Bridge (MB) permanen. Selama proses pembangunan berlangsung, operasional penyeberangan dipastikan tetap berjalan normal karena dermaga yang sedang ditingkatkan selama ini hanya difungsikan pada kondisi tertentu.
"Untuk di Ketapang masih on going process. Tapi secara operasional tidak mengganggu karena peningkatan dilakukan di dermaga yang selama ini hanya digunakan secara situasional. Saat Nataru nanti tetap empat dermaga MB yang beroperasi," jelasnya.
Setelah proyek selesai, sistem distribusi kendaraan logistik diproyeksikan menjadi lebih fleksibel. Selama ini kendaraan bertonase besar hanya dapat dilayani melalui Dermaga LCM dan Dermaga MB 4.
Dengan bertambahnya kapasitas Dermaga MB 2 di Gilimanuk serta hadirnya dermaga MB permanen baru di Ketapang, distribusi kendaraan berat dapat dibagi ke lebih banyak titik sandar. Skema ini diharapkan mampu mengurai kepadatan yang selama ini menjadi tantangan di lintasan tersibuk penghubung Pulau Jawa dan Bali tersebut.
"Artinya nanti kendaraan yang menuju LCM bisa kita bagi ke Dermaga 2 juga. Sekarang kan hanya bisa di LCM sama Dermaga 4 saja," terangnya.
ASDP menargetkan seluruh proyek peningkatan kapasitas dermaga di lintasan Ketapang-Gilimanuk rampung sebelum Lebaran 2027. Setelah seluruh pekerjaan selesai, dermaga ponton di Ketapang akan dihapus dan digantikan dermaga MB permanen yang menjadi pasangan Dermaga MB 2.
Dengan penambahan kapasitas tersebut, pelayanan penyeberangan di Selat Bali diharapkan semakin andal, waktu tunggu kendaraan logistik berkurang, dan distribusi barang antara Pulau Jawa dan Bali menjadi lebih efisien.
"Di sisi Ketapang sendiri, dermaga ponton nantinya akan dihilangkan dan digantikan dermaga MB permanen yang menjadi pasangan Dermaga MB 2," tutup Arief. (*)
Editor : Ali Sodiqin