RADARBANYUWANGI.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan memiliki prospek besar untuk meningkatkan mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Pengoperasian kembali lintas tersebut juga dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat pengembangan wilayah secara berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa dan Konektivitas (PRKSDK) BRIN, Purwoko, mengatakan reaktivasi jalur kereta api tidak hanya berorientasi pada penyediaan moda transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengembangan kawasan.
"Reaktivasi jalur kereta api bukan hanya proyek transportasi, tetapi juga strategi pengembangan wilayah. Semestinya potensi tersebut dapat dioptimalkan," ujarnya, dikutip Antara.
Purwoko menjelaskan, kajian dilakukan dengan melihat kondisi eksisting jalur yang telah lama tidak beroperasi. Hasil pengamatan menunjukkan infrastruktur rel mengalami kerusakan di sejumlah titik. Selain itu, banyak stasiun sudah tidak berfungsi, sementara sebagian trase rel telah beralih fungsi menjadi jalan maupun kawasan permukiman.
Untuk mengukur kelayakan reaktivasi, tim peneliti mengumpulkan data primer melalui observasi lapangan terhadap kondisi rel, stasiun, jembatan, hingga fasilitas pendukung lainnya. Penelitian juga dilengkapi wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai PT Kereta Api Indonesia (KAI), pemerintah, operator, hingga masyarakat.
Analisis tersebut diperkuat dengan berbagai data sekunder berupa dokumen perencanaan wilayah serta kebijakan transportasi yang berlaku.
Berdasarkan hasil kajian, BRIN menilai peluang pengoperasian kembali jalur kereta tersebut cukup besar. Potensi itu didukung pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat, tingginya kemacetan lalu lintas, hingga kebutuhan distribusi berbagai komoditas.
Komoditas yang berpotensi memanfaatkan jalur kereta antara lain hasil pertanian, hasil perikanan, serta batu bara menuju PLTU Labuan yang selama ini masih bergantung pada angkutan jalan.
Selain itu, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah keunggulan moda kereta api. Di antaranya kapasitas angkut yang besar, tarif relatif terjangkau, lebih ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi sebelum proyek direalisasikan. Hambatan tersebut meliputi kerusakan infrastruktur, alih fungsi lahan jalur rel, tingginya kebutuhan investasi pembangunan dan pemeliharaan, serta persaingan dengan moda transportasi lain.
Purwoko mengungkapkan hasil analisis menggunakan metode Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan External Factor Analysis Summary (EFAS) menempatkan pengembangan jalur pada Kuadran I atau strategi agresif. Posisi tersebut menunjukkan peluang pengembangan lebih besar dibandingkan hambatan sehingga reaktivasi dinilai memiliki prospek yang kuat untuk diwujudkan.
Menurutnya, implementasi proyek juga perlu dibarengi penguatan daya saing layanan kereta api. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan akses menuju stasiun, perbaikan kualitas pelayanan, integrasi dengan moda transportasi lain, serta sosialisasi kepada masyarakat.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pembangunan dan reaktivasi jalur kereta api menjadi salah satu perhatian pemerintah. Presiden berharap jaringan perkeretaapian nasional terus berkembang dan mampu menjangkau lebih banyak wilayah sesuai besarnya potensi Indonesia.
"Saya menanti peresmian revitalisasi stasiun-stasiun lain, termasuk launching Trans Sumatra Railway. Terima kasih," ujar Presiden Prabowo pada 30 Juli.
Sebagai informasi, jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan memiliki panjang sekitar 56 kilometer. Jalur tersebut dibangun pada 1906 dan berhenti beroperasi sekitar 1984 seiring bergesernya orientasi transportasi menuju angkutan jalan.
Reaktivasi lintas tersebut telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025–2029. Pemerintah merencanakan pembangunan segmen awal dimulai pada 2027, sementara keseluruhan proyek ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada 2029.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara