Dari Jakarta hingga Banyuwangi, Sisi Tol Bakal Jadi Ladang Energi Surya?

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 09:00 WIB
TERBARUKAN : Teknisi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tengah melakukan quality control di pabrik PT Sanghiang Perkasa (KALBE Nutritionals) Cikampek, Jawa Barat, Jumat (8/7/2022). PLTS dengan kapasitas produksi 2,1 GWh ini mampu mengurangi emisi karbon sebesar 2.104,66 ton per tahun.
Ilustrasi PLTS.

RADAR BANYUWANGI – Jalan tol tak hanya akan menjadi jalur cepat kendaraan. Di masa depan, ruang kosong di sisi kiri dan kanan jalan bebas hambatan berpotensi berubah menjadi ladang energi bersih. PT PLN (Persero) menyiapkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di sepanjang ruas tol hingga 802 kilometer.

Rencana tersebut menjadi bagian dari konsep Super Technology Green Corridor, sebuah pengembangan yang diarahkan untuk mendukung transisi energi sekaligus memperkuat sistem kelistrikan nasional.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan, pemanfaatan lahan di sisi jalan tol milik PT Jasa Marga (Persero) Tbk menjadi salah satu contoh implementasi konsep tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Darmawan dalam rapat bersama Komisi XII DPR pada Kamis (2/7/2026).

"Sebagai contoh juga kami membangun super teknologi green corridor bahwa ada lahan di pinggir kiri kanan jalan tol. Nah untuk itu ini sebagai contoh jalan tol milik jasa marga dengan panjang 802 km apabila di kedua sisi lebarnya sekitar 3-5 meter, maka ada sekitar 400-500 hektare," ujar Darmawan.

Jika rencana tersebut terealisasi, lahan yang selama ini berada di ruang sisi jalan tol akan memiliki fungsi tambahan. Bukan sekadar menjadi ruang terbuka, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pembangkit listrik energi terbarukan.

PLTS Tol Akan Dilengkapi Baterai

Pembangunan PLTS di sepanjang koridor tol tidak berdiri sendiri.

PLN juga menyiapkan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menyimpan energi listrik yang dihasilkan dari panel surya.

Sistem penyimpanan energi tersebut dinilai penting untuk menjaga fleksibilitas pasokan listrik dari sumber energi terbarukan yang produksinya bergantung pada kondisi cuaca dan waktu.

Darmawan menyebut pemanfaatan lahan di sisi tol sepanjang 802 kilometer berpotensi menghasilkan kapasitas pembangkit yang signifikan.

"Artinya ini ada setengah gigawatt peak dan tentu saja artinya dikalikan 3 kami bisa menambah baterai energy storage sistem sebesar 1,5 GWh," katanya.

Dengan kombinasi PLTS dan BESS, proyek tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas kelistrikan nasional sekaligus mempercepat pemanfaatan energi terbarukan.

Tol Bali Mandara Bakal Jadi Proyek Percontohan

Konsep serupa juga disiapkan di Jalan Tol Bali Mandara.

Namun, proyek di Bali tidak hanya mengandalkan energi matahari. PLN berencana mengombinasikan PLTS dengan pembangkit listrik tenaga angin berbentuk silinder atau cylindrical wind turbine.

Menurut Darmawan, penggunaan turbin angin tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan energi, tetapi juga mempertimbangkan aspek estetika kawasan.

"Nah ini kami tambahkan juga dengan pembangkit listrik tenaga angin tetapi yang berbentuk silindrical yang ini bukan hanya memproduksi energy dari angin tetapi juga menambah keindahan di pemandangannya. Ini rencana konsep pembangunan tol di Bali Mandara," katanya.

Jika terealisasi, koridor jalan tol di Bali Mandara berpotensi menjadi contoh integrasi infrastruktur transportasi dengan pembangkit energi terbarukan.

Meniru Pengembangan Energi di Negara Lain

Pemanfaatan ruang di sekitar infrastruktur untuk pembangkit energi bukan konsep yang sepenuhnya baru.

PLN menyebut rencana tersebut dikembangkan dengan melakukan benchmarking terhadap sejumlah negara yang lebih dahulu memanfaatkan potensi lahan dan sumber energi terbarukan dalam skala besar.

Beberapa negara yang menjadi rujukan antara lain Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.

"Ini tentu saja kami melakukan benchmarking terutama di Uni Emirat Arab kemudian ada di United States terutama di California, di Saudi Arabia mereka punya akses terhadap gurun pasir yang sangat besar sekali sehingga masalah lahan ini tidak menjadi tantangan di dalam kondisi mereka," terang Darmawan.

Indonesia memiliki tantangan berbeda. Ketersediaan lahan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan pembangkit energi terbarukan.

Karena itu, pemanfaatan lahan yang sudah tersedia di sekitar infrastruktur strategis, termasuk jalan tol, menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan.

Proyek PLTS Tol Tersebar di Berbagai Pulau

Berdasarkan paparan Direktur Utama PLN dalam rapat bersama Komisi XII DPR, rencana pembangunan PLTS di koridor jalan tol mencakup sejumlah wilayah di Indonesia.

Di Pulau Jawa, daftar ruas yang masuk rencana antara lain:

Untuk Pulau Sumatra, rencana mencakup sejumlah ruas seperti Bakauheni-Terbanggi Besar, Terbanggi Besar-Pematang Panggang, Kayu Agung-Palembang, Palembang-Indralaya, Indralaya-Prabumulih, Pekanbaru-Dumai, Medan-Binjai, Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, hingga Sigli-Banda Aceh.

Selain itu, terdapat rencana pada ruas Binjai-Langsa secara bertahap, Padang-Sicincin, Pekanbaru-Padang secara bertahap, Kisaran-Indrapura, Indrapura-Lima Puluh, Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, serta Bengkulu-Taba Penanjung secara bertahap.

Di Kalimantan, ruas yang masuk daftar adalah Jalan Tol Balikpapan-Samarinda.

Sementara di Sulawesi, rencana mencakup Jalan Tol Ujung Pandang atau Makassar Seksi IV, Makassar-New Port, serta Manado-Bitung.

Di Bali, proyek yang masuk daftar adalah Jalan Tol Bali Mandara.

Sedangkan di Kepulauan Riau, rencana pembangunan PLTS mencakup Jalan Tol Batam secara bertahap, termasuk koridor Sekupang-Batubesar dan Tanjung Uncang-Bandara Hang Nadim.

Dari Energi Impor Menuju Energi Domestik

Rencana pembangunan PLTS di sepanjang jalan tol tersebut merupakan bagian dari agenda lebih besar PLN dalam memperkuat sistem energi nasional.

Darmawan menyebut pemerintah telah memberikan penugasan terkait program PLTS berkapasitas 100 gigawatt. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong perubahan bauran energi.

"Dan saat ini pemerintah sudah melakukan penugasan agar program PLTS 100 gigawatt ini sebagai penguatan sistem listrikan seantero Indonesia ini yang bisa mengubah tadinya energi import menjadi domestik energi fosil menjadi renewable energy, energi yang mahal menjadi lebih murah dan tentu saja ini adalah meningkatkan keandalan energi dan menyediakan affordable energy," tambahnya.

Jika rencana PLTS di koridor tol 802 kilometer dapat direalisasikan, wajah jalan bebas hambatan di Indonesia berpotensi mengalami perubahan besar.

Jalur yang selama ini identik dengan kendaraan dan arus logistik bisa sekaligus menjadi koridor energi baru. Dari sisi kiri dan kanan jalan tol, panel surya berpotensi menghasilkan listrik untuk menopang kebutuhan nasional.

Termasuk di dalam daftar itu, Tol Probolinggo-Banyuwangi yang pembangunannya dilakukan bertahap.

Dengan konsep Green Corridor, infrastruktur transportasi dan energi diarahkan untuk berjalan beriringan. Jalan tol bukan lagi sekadar penghubung antarkota, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari jaringan pembangkit energi terbarukan Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
PLTS jalan tol Green Corridor Tol 802 km Tol Probolinggo Banyuwangi pln