Tol Prosiwangi Segera Beroperasi, Akankah Antrean Ketapang Ikut Terurai?

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:30 WIB
Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) hampir rampung. Situbondo akan memiliki jalan tol pertama, lengkap dengan overpass ikonik di Banyuglugur.
Konstruksi tol Prosiwangi selesai, tinggal tunggu lampu hijau beroperasi.

RADAR BANYUWANGI – Penantian panjang masyarakat di kawasan timur Jawa mulai mendekati akhir. Pembangunan fisik Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi) tahap pertama sepanjang 49,68 kilometer telah rampung. Kini, ruas Gending-Probolinggo hingga Besuki, Situbondo tinggal menunggu penyelesaian tahap akhir uji laik fungsi dan operasi (LFO) sebelum resmi dibuka untuk umum.

Kehadiran jalan tol ini diyakini menjadi jawaban atas persoalan klasik di jalur pantai utara (Pantura) Jawa Timur yang selama ini identik dengan kemacetan, terutama saat musim libur, arus logistik, hingga penyeberangan menuju Bali.

Tinggal Menunggu Sertifikat LFO

Ruas Tol Prosiwangi Tahap I terbagi dalam tiga seksi.

Seksi 1 Gending–Kraksaan sepanjang 12,88 kilometer dan Seksi 2 Kraksaan–Paiton sepanjang 11,20 kilometer telah mengantongi sertifikat laik fungsi dan operasi.

Sementara itu, Seksi 3 Paiton–Besuki sepanjang 25,6 kilometer kini memasuki tahapan akhir pengujian sebelum dapat dioperasikan secara penuh.

Sebelumnya, ruas Gending-Besuki telah dibuka secara fungsional saat arus mudik dan balik Lebaran 1447 Hijriah. Meski hanya beroperasi terbatas, jalur tersebut terbukti membantu memperlancar mobilitas masyarakat di kawasan Tapal Kuda.

Warga Banyuwangi Menunggu Tol Beroperasi

Masyarakat berharap proses administrasi segera tuntas sehingga ruas tol bisa dimanfaatkan dalam waktu dekat.

M. Handoyo (37), warga Banyuwangi, mengatakan keberadaan Tol Prosiwangi sangat dinantikan karena dapat mengurangi kepadatan kendaraan di jalur Pantura yang menjadi akses utama menuju Banyuwangi.

"Keberadaan tol ditunggu warga Banyuwangi untuk mengurangi kepadatan kendaraan, terutama dari arah Situbondo yang melalui jalur pantai utara," ujarnya.

Menurut Handoyo, lonjakan volume kendaraan hampir selalu terjadi saat akhir pekan, libur panjang, maupun musim mudik. Kondisi itu menyebabkan perjalanan menjadi jauh lebih lama dibandingkan waktu normal.

Dengan hadirnya jalan tol, sebagian arus kendaraan diharapkan beralih dari jalan nasional sehingga kemacetan di jalur arteri dapat berkurang.

Logistik Jawa-Bali Diprediksi Lebih Efisien

Dukungan juga datang dari Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia.

Ketua Sarbumusi Irham Ali Saifuddin menilai Tol Prosiwangi akan memangkas waktu tempuh distribusi logistik dari Pulau Jawa menuju Bali maupun sebaliknya.

Selain mempercepat perjalanan, keberadaan jalan tol dinilai mampu mengurangi kelelahan pengemudi truk yang selama ini harus melewati jalur Pantura yang padat dan berkelok.

Meski demikian, Sarbumusi mengingatkan agar manfaat jalan tol juga dapat dirasakan kalangan sopir, bukan hanya perusahaan logistik.

Salah satu perhatian utama adalah besaran tarif tol.

Menurut Irham, tarif yang terlalu tinggi berpotensi membuat perusahaan tetap memilih jalur arteri demi menekan biaya operasional, sehingga tujuan mengurangi kemacetan tidak sepenuhnya tercapai.

Rest Area Harus Ramah Sopir Truk

Sarbumusi juga meminta pengelola menyediakan rest area yang benar-benar mendukung kebutuhan kendaraan berat.

Fasilitas parkir luas, kamar mandi, musala, tempat makan dengan harga terjangkau, hingga aspek keamanan dinilai menjadi kebutuhan mendasar bagi para pengemudi logistik.

"Rest area harus ramah sopir truk, bukan hanya nyaman untuk kendaraan pribadi," ujarnya.

Tol Cepat, Pelabuhan Jangan Jadi Titik Macet Baru

Di sisi lain, percepatan akses menuju Pelabuhan Ketapang juga memunculkan tantangan baru.

Sarbumusi mengingatkan agar kemacetan tidak hanya berpindah dari jalan raya menuju kawasan pelabuhan.

Karena itu, pemerintah diminta menyiapkan buffer zone atau kantong parkir berkapasitas besar di luar pelabuhan agar kendaraan logistik dapat menunggu sesuai jadwal keberangkatan kapal tanpa memenuhi badan jalan.

Selain itu, peningkatan jumlah kapal, percepatan proses bongkar muat, hingga penyempurnaan sistem tiket digital dinilai menjadi langkah penting untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan setelah tol beroperasi.

Pemerintah Targetkan Dorong Ekonomi Jawa Timur

Sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung pembangunan Tol Prosiwangi Tahap I.

Dalam kunjungannya, Gibran menegaskan proyek strategis nasional tersebut diharapkan memperkuat konektivitas, meningkatkan daya saing wilayah, serta membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru di Jawa Timur.

Tol Prosiwangi diproyeksikan memangkas waktu tempuh Probolinggo-Besuki menjadi sekitar 75 menit, jauh lebih singkat dibandingkan melalui jalur nasional.

Efisiensi tersebut diyakini akan mempercepat distribusi logistik menuju kawasan industri Paiton, memperlancar akses ke Pelabuhan Ketapang sebagai gerbang penyeberangan Jawa-Bali, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan UMKM di kawasan Tapal Kuda.

Pemerintah Siapkan Solusi untuk Ketapang-Gilimanuk

Seiring mendekatnya operasional tol, pemerintah juga mempercepat peningkatan kapasitas lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang–Pelabuhan Gilimanuk.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan pemerintah akan menambah kapal berkapasitas besar, meningkatkan kapasitas dermaga, serta mengoptimalkan pelabuhan alternatif seperti Jangkar, Tanjungwangi, dan Celukan Bawang.

Langkah tersebut dilakukan karena kepadatan di lintasan Ketapang-Gilimanuk kini tidak hanya terjadi saat musim libur, tetapi juga pada hari-hari biasa.

Dengan kombinasi jalan tol baru dan peningkatan kapasitas penyeberangan, pemerintah berharap konektivitas Jawa-Bali semakin efisien sekaligus memperkuat rantai pasok nasional dan pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Pulau Jawa. (*)

Editor : Ali Sodiqin
logistik Jawa jalan tol tol prosiwangi Tol Probolinggo ketapang gilimanuk