RADAR BANYUWANGI – Cuaca ekstrem di perairan Selat Bali kembali mengganggu aktivitas penyeberangan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Selama tiga hari berturut-turut, operasional kapal harus diberlakukan sistem buka-tutup akibat gelombang tinggi dan angin kencang. Untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan saat layanan dihentikan, PT ASDP Indonesia Ferry mengaktifkan buffer zone di kawasan Bulusan sebagai lokasi penampungan sementara.
Gangguan operasional berlangsung sejak Senin (27/7). Saat itu, penyeberangan dihentikan hingga sekitar dua jam karena kondisi cuaca yang dinilai membahayakan keselamatan pelayaran.
Situasi belum membaik pada Selasa (28/7). Penghentian operasional bahkan terjadi dua kali, masing-masing mulai pukul 10.11 WIB hingga 12.45 WIB, kemudian kembali ditutup pada 16.35 WIB sampai 17.55 WIB akibat cuaca buruk yang masih melanda Selat Bali.
Penutupan kembali dilakukan Rabu (29/7). Berdasarkan laporan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Ketapang, operasional penyeberangan dihentikan mulai pukul 10.02 WIB dan kembali dibuka pada 11.40 WIB, setelah kondisi cuaca dinilai lebih aman. Total penghentian berlangsung sekitar 1 jam 38 menit.
General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah menegaskan bahwa seluruh keputusan menghentikan maupun membuka kembali layanan penyeberangan dilakukan berdasarkan perkembangan cuaca di lapangan serta hasil koordinasi lintas instansi.
Keputusan tersebut melibatkan KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, BMKG, dan kepolisian.
"Keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan penyeberangan. Penundaan operasional dilakukan semata-mata sebagai langkah mitigasi risiko ketika kondisi cuaca belum memenuhi standar keselamatan pelayaran," ujarnya.
Menurut Arief, pola operasional kapal akan terus menyesuaikan kondisi cuaca maritim. Begitu kecepatan angin dan tinggi gelombang kembali berada pada ambang aman, layanan penyeberangan akan segera dibuka kembali.
ASDP juga terus memperkuat koordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca secara berkala. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah operasional secara cepat ketika cuaca ekstrem berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran.
Di sisi lain, ASDP telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi agar antrean kendaraan tidak semakin panjang selama penghentian layanan. Salah satunya dengan mengaktifkan buffer zone di kawasan Bulusan sebagai tempat penampungan sementara kendaraan yang belum dapat menyeberang.
"Setelah kondisi cuaca membaik kami akan mengoptimalkan penambahan armada untuk mempercepat penguraian antrean," tegas Arief.
Pengaturan arus kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang juga dilakukan bersama Polresta Banyuwangi untuk mencegah kepadatan di sekitar kawasan pelabuhan. Langkah tersebut menjadi bagian dari skema penanganan terpadu yang melibatkan pengawasan cuaca, kesiapan armada, pengoperasian buffer zone, hingga rekayasa lalu lintas.
"Kami menyiapkan berbagai langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, penyediaan buffer zone, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian," katanya.
ASDP juga memastikan hak pengguna jasa tetap terlindungi selama terjadi penghentian operasional akibat cuaca ekstrem. Tiket yang telah dibeli tidak hangus dan tetap dapat digunakan kembali setelah layanan penyeberangan kembali beroperasi normal.
"Kami memastikan hak pengguna jasa tetap terlindungi karena tiket yang telah dibeli tetap dapat digunakan ketika layanan kembali beroperasi normal," tandas Arief. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin