Gelombang Capai 2 Meter, Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Sempat Lumpuh 2,5 Jam Akibat Cuaca Ekstrem

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 04:30 WIB
Sejumlah penumpang kapal yang didominasi wisatawan asing menunggu dibukanya kembali Pelabuhan ASDP Ketapang akibat cuaca buruk, Selasa (28/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Sejumlah penumpang kapal yang didominasi wisatawan asing menunggu dibukanya kembali Pelabuhan ASDP Ketapang akibat cuaca buruk, Selasa (28/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Aktivitas penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk kembali terganggu akibat cuaca ekstrem di perairan Selat Bali. Gelombang laut yang mencapai sekitar dua meter disertai angin kencang hingga 40 knot memaksa otoritas pelabuhan menghentikan sementara operasional kapal selama sekitar 2,5 jam, Selasa (29/7), demi menjaga keselamatan pelayaran.

Penutupan sementara dilakukan mulai pukul 10.11 WIB. Seluruh kapal yang hendak berlayar diminta tetap berada di dermaga, sementara kapal yang masih berada di tengah lintasan dilaporkan harus berjuang menghadapi gelombang tinggi dan fenomena swell yang membuat pelayaran semakin berat.

Ratusan calon penumpang dari Pelabuhan Ketapang maupun Gilimanuk pun terpaksa menunggu di ruang tunggu hingga kondisi cuaca dinyatakan aman dan operasional kembali dibuka sekitar pukul 12.45 WIB.

Salah seorang penumpang, Purnomo, mengaku sempat tertahan di Pelabuhan Gilimanuk selama lebih dari dua jam sebelum akhirnya dapat melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi.

Warga Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, itu menceritakan kondisi di tengah laut cukup mengkhawatirkan. Kapal yang ditumpanginya beberapa kali terombang-ambing diterjang gelombang.

"Ombaknya tinggi, kapal terombang-ambing ketika diterjang ombak. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya diberi keselamatan," ujarnya.

Angin Tenggara Picu Gelombang Tinggi

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjungwangi, Ni Putu Cahyani Negara, menjelaskan penghentian operasional dilakukan setelah kondisi cuaca di Selat Bali dinilai tidak aman bagi pelayaran.

Menurutnya, cuaca buruk dipicu oleh angin tenggara yang bertiup cukup kuat sehingga memunculkan gelombang tinggi dan fenomena alun atau swell yang dalam beberapa hari terakhir terus terjadi di Selat Bali.

"Angin tenggara, kemudian ada alun yang cukup banyak di Selat Bali beberapa hari terakhir. Kondisi cuaca yang tidak menentu cukup mengganggu operasional kapal penyeberangan," katanya.

KSOP mencatat kecepatan angin saat itu berkisar 35 hingga 40 knot. Berdasarkan laporan sejumlah nakhoda, tinggi gelombang di jalur penyeberangan mencapai sekitar dua meter, sehingga berisiko terhadap keselamatan pelayaran.

Tak hanya kapal penyeberangan, kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas kapal nelayan yang beroperasi di sekitar Selat Bali.

"Laporan dari nakhoda, gelombangnya cukup tinggi, sekitar dua meter. Kondisi seperti ini juga berdampak pada kapal nelayan," jelas Putu.

Keselamatan Penumpang Jadi Prioritas

Putu menegaskan, penghentian sementara operasional merupakan prosedur keselamatan yang harus dilakukan ketika kombinasi angin kencang, gelombang tinggi, dan swell berpotensi membahayakan kapal yang melintas di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi serupa diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga sekitar September, seiring masih dominannya angin muson timur di kawasan Selat Bali.

"Fenomena angin kencang dan gelombang tinggi diperkirakan masih dapat muncul hingga sekitar September. Karena itu, kondisi perairan akan terus dipantau sebelum operasional penyeberangan kembali dibuka," tegasnya.

ASDP: Operasional Ditutup Berdasarkan Rekomendasi BMKG

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, mengatakan penghentian operasional dilakukan setelah pihaknya menerima rekomendasi dari BMKG terkait kondisi cuaca yang membahayakan pelayaran.

Menurutnya, seluruh informasi mengenai penutupan sementara juga langsung diumumkan kepada calon penumpang agar mereka memahami alasan penghentian layanan.

"Kita sudah sampaikan pengumuman juga kepada para penumpang. Jadi mereka mengetahui kondisi penutupan ini karena cuaca buruk," ujarnya.

ASDP, lanjut Arief, akan terus memperkuat koordinasi dengan KSOP dan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca. Operasional penyeberangan hanya akan dibuka kembali setelah kondisi dinyatakan aman.

"Prioritas kita tetap pada keselamatan penumpang. Ketika ada peringatan dari BMKG operasional kita hentikan. Begitu ada laporan normal, kita segera buka kembali," tandasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
penyeberangan kapal Gelombang Tinggi cuaca ekstrem selat bali ketapang gilimanuk