ULFO Rampung, Tol Paspro-Prosiwangi Segera Beroperasi, Ekonomi Tapal Kuda Terdongkrak

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 09:00 WIB
Tol Prosiwangi ruas Gending-Besuki. Jalan tol ini akan memangkas waktu dan jadi jalur strategis menuju Situbondo kota dan Banyuwangi, Jawa Timur.
Tol Prosiwangi ruas Gending-Besuki. Jalan tol ini akan memangkas waktu dan jadi jalur strategis menuju Situbondo kota dan Banyuwangi, Jawa Timur.

RADAR BANYUWANGI – Konektivitas jalan tol di wilayah timur Jawa Timur memasuki babak baru. Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) segera tersambung dengan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi) melalui Simpang Susun Gending setelah dinyatakan layak dalam Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO) yang digelar pada 16–17 Juli 2026. Jika seluruh penyempurnaan rampung, pengguna jalan dapat melaju tanpa hambatan dari Probolinggo menuju Kraksaan, Paiton, hingga Banyuwangi tanpa harus keluar ke jalan nasional.

Meski hasil ULFO menyatakan simpang susun layak dioperasikan, operator PT Trans Jawa Paspro Jalan Tol masih harus menuntaskan sejumlah rekomendasi teknis sebelum ruas tersebut dibuka secara komersial. Penyempurnaan meliputi pemasangan perlengkapan jalan, rambu lalu lintas, perbaikan drainase, hingga pembersihan area konstruksi.

Penyambungan ini menjadi kelanjutan dari rampungnya pembangunan fisik Tol Prosiwangi Tahap I sepanjang 49,68 kilometer yang sebelumnya telah difungsikan saat arus mudik Lebaran 2026.

Data Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan, selama masa operasional fungsional tersebut, ruas tol melayani 226.028 kendaraan, atau sekitar 12 persen lebih tinggi dibandingkan proyeksi awal sebanyak 201.407 kendaraan. Angka tersebut menjadi indikator tingginya kebutuhan masyarakat terhadap jalur bebas hambatan di kawasan Tapal Kuda.

Dengan tersambungnya Simpang Susun Gending, perjalanan dari Probolinggo menuju Banyuwangi diperkirakan hanya memerlukan waktu sekitar tiga jam, jauh lebih singkat dibandingkan rute sebelumnya yang dapat mencapai lima jam melalui jalan nasional.

Efisiensi waktu itu diperkirakan membawa dampak besar terhadap mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat jaringan distribusi barang di Jawa Timur bagian timur.

Bagi sektor logistik, kehadiran jalur tol yang terintegrasi diyakini mampu memangkas biaya operasional distribusi komoditas pertanian, perikanan, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari kawasan Tapal Kuda.

Produk-produk segar dari Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo, dan Pasuruan diperkirakan dapat tiba lebih cepat di pasar Surabaya dan sekitarnya. Selain mengurangi biaya transportasi, waktu pengiriman yang lebih singkat juga membantu menjaga kualitas produk serta memperpanjang masa simpan hasil pertanian dan perikanan.

Integrasi jalan tol ini juga memperkuat akses menuju kawasan industri Paiton, termasuk pembangkit listrik dan kawasan industri di sekitarnya, serta memperlancar konektivitas menuju Pelabuhan Ketapang, pintu utama penyeberangan Jawa–Bali.

Sektor pariwisata pun diproyeksikan ikut menikmati dampaknya. Akses menuju berbagai destinasi unggulan seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, hingga Pantai Pasir Putih Situbondo akan semakin cepat dan nyaman sehingga berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

Dari sisi bisnis, penyambungan ruas ini memperkuat portofolio aset jalan tol yang dikelola grup PT Jasa Marga beserta anak usahanya. Jika volume kendaraan harian sesuai proyeksi, integrasi tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan jangka panjang dari tarif tol sekaligus menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di koridor timur Pulau Jawa.

Namun demikian, sejumlah tantangan masih perlu diperhatikan. Penyelesaian seluruh catatan hasil ULFO menjadi syarat utama sebelum Simpang Susun Gending dapat dioperasikan secara penuh. Selain itu, besaran tarif tol juga dinilai akan menentukan tingkat adopsi pengguna jalan.

Apabila tarif yang ditetapkan terlalu tinggi dibandingkan jalur non-tol, sebagian pengguna diperkirakan tetap memilih jalan nasional sehingga dapat memengaruhi volume lalu lintas harian dan kelayakan komersial ruas tersebut.

Dalam tiga hingga enam bulan pertama setelah beroperasi, pelaku usaha dan investor diperkirakan akan mencermati perkembangan lalu lintas harian rata-rata (LHR) sebagai indikator keberhasilan proyek. Tingginya volume kendaraan akan menjadi sinyal positif tidak hanya bagi operator jalan tol, tetapi juga bagi sektor logistik, kawasan industri, properti, hingga pelaku UMKM di sepanjang koridor Probolinggo–Banyuwangi.

Dengan tersambungnya Tol Paspro dan Prosiwangi, pembangunan infrastruktur di Jawa Timur tak lagi sekadar menghadirkan jalan baru. Integrasi ini diproyeksikan menjadi motor penggerak distribusi barang, percepatan investasi, serta peningkatan daya saing ekonomi kawasan Tapal Kuda yang selama ini bergantung pada jalur pantura dan jalan nasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
logistik Jatim Simpang Gending tol prosiwangi banyuwangi Tol Paspro