Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Terowongan Mrawan di Gumitir, Mahakarya Kolonial Saksi Bisu Jalur Kereta Strategis Jawa Timur

Ali Sodiqin • Senin, 13 Juli 2026 | 17:00 WIB
Proses pembangunan Terowongan Mrawan.
Proses pembangunan Terowongan Mrawan. (KAI)

RADAR BANYUWANGI – Di balik lebatnya hutan Gunung Gumitir, tepat di perbatasan Kabupaten Jember dan Banyuwangi, berdiri sebuah mahakarya teknik sipil yang telah bertahan lebih dari 120 tahun. Terowongan Mrawan bukan sekadar lintasan kereta api, tetapi menjadi saksi perjalanan sejarah pembangunan transportasi modern di Indonesia sejak era Hindia Belanda.

Hingga kini, terowongan sepanjang sekitar 690 meter tersebut masih aktif dilalui kereta api penumpang maupun angkutan barang. Ketangguhannya bahkan telah teruji setelah pernah diguncang gempa bumi dan diterjang longsor pada awal abad ke-20.

Terowongan Mrawan berada di antara Stasiun Mrawan dan Stasiun Kalibaru, tepatnya di Kilometer 30+777 jalur Kalisat–Banyuwangi. Lokasinya membelah perut Gunung Gumitir, kawasan yang dikenal memiliki kontur pegunungan dengan lereng curam.

Pembangunan terowongan dilakukan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada 1901 hingga 1902. Proyek tersebut merupakan bagian penting dari pembangunan jalur kereta api Kalisat–Banyuwangi yang bertujuan membuka akses transportasi sekaligus memperlancar distribusi hasil bumi dari wilayah timur Pulau Jawa.

Manajer Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Azhar Zaki Assjari, menjelaskan bahwa pembangunan Terowongan Mrawan dipimpin seorang Hoofdingienieur atau kepala insinyur Staatsspoorwegen.

Menurutnya, proses pengerjaan dilakukan dari dua arah sekaligus. Penggalian pertama dimulai dari sisi Kalisat di kawasan Gunung Botoh, kemudian dilanjutkan dari sisi Banyuwangi hingga akhirnya kedua lubang bertemu di tengah.

Penggalian utama mencapai sekitar 450 meter, sedangkan pekerjaan drainase sepanjang 300 meter berhasil diselesaikan pada 5 Desember 1902. Metode tersebut tergolong maju pada masanya karena membutuhkan ketelitian tinggi agar jalur penggalian dari dua sisi dapat bertemu dengan presisi.

Sejarah mencatat, Terowongan Mrawan mulai dioperasikan pada Januari 1903. Surat kabar Belanda De Locomotief edisi 19 Januari 1903 memberitakan bahwa kereta api pertama melintasi terowongan tersebut pada Jumat, 16 Januari 1903.

Sejak awal beroperasi, jalur ini memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi Hindia Belanda. Selain melayani perjalanan penumpang, lintasan tersebut digunakan untuk mengangkut berbagai komoditas ekspor seperti kopi, gula, beras, hingga hasil pertanian dari Banyuwangi dan daerah sekitarnya menuju pelabuhan maupun pusat perdagangan.

Namun, perjalanan panjang Terowongan Mrawan tidak selalu berjalan mulus. Pada 1909, kawasan Mrawan diguncang gempa bumi yang memicu longsor besar hingga menutup sebagian terowongan.

Staatsspoorwegen kemudian melakukan pembersihan material longsor dengan kapasitas mencapai sekitar 500 meter kubik setiap hari. Selain membersihkan jalur, perusahaan kereta api itu juga memperpanjang kedua mulut terowongan serta menggali lereng di sekitarnya untuk mengurangi risiko longsor susulan.

Perbaikan dilakukan secara menyeluruh agar jalur tetap aman dilalui kereta api. Pada Oktober 1910, pekerjaan perpanjangan salah satu mulut terowongan selesai, sementara sisi lainnya masih menjalani proses penggalian dan pemasangan batu bata.

Revitalisasi tersebut turut mendapat pengawasan langsung dari jajaran pimpinan Staatsspoorwegen. Kepala Operasi dan Kepala Divisi SS bahkan melakukan inspeksi proyek pada Juni 1910 untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai rencana.

Lebih dari satu abad berlalu, Terowongan Mrawan masih menjadi salah satu infrastruktur penting dalam jaringan perkeretaapian nasional. Selain berfungsi sebagai jalur transportasi, keberadaannya juga menjadi warisan sejarah yang menunjukkan kemampuan rekayasa teknik pada masa kolonial.

Bagi penumpang kereta api yang melintasi jalur Jember–Banyuwangi, memasuki Terowongan Mrawan selalu menghadirkan pengalaman tersendiri. Di balik gelapnya lorong sepanjang hampir 700 meter itu, tersimpan kisah panjang tentang pembangunan, bencana alam, hingga ketahanan sebuah infrastruktur yang tetap bertahan melayani perjalanan kereta api Indonesia hingga sekarang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Banyuwangi Jember #Jalur Kalisat #Terowongan Mrawan #gunung gumitir #Kereta Api