RADAR BANYUWANGI – Upaya mengurai kemacetan dan antrean panjang di lintasan penyeberangan Jawa-Bali tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kapasitas dermaga. Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono juga mengusulkan agar rute transportasi laut Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi)–Pelabuhan Lembar (Lombok) kembali dioperasikan. Jalur tersebut dinilai mampu mengurangi kepadatan kendaraan logistik sekaligus menjadi alternatif distribusi barang menuju Nusa Tenggara Barat (NTB).
Usulan itu disampaikan Bambang Haryo saat berada di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Minggu. Menurutnya, aspirasi untuk mengaktifkan kembali lintasan Ketapang-Lembar datang dari asosiasi pengguna jasa maupun perusahaan pelayaran yang selama ini terdampak kemacetan di jalur penyeberangan.
"Untuk antisipasi kemacetan dan antrean di lintasan Ketapang-Lembar, asosiasi pengguna jasa maupun perusahaan pelayaran menginginkan diaktifkan kembali, dan akan kami usulkan ke pemerintah pusat dan kementerian terkait untuk direalisasikan atau diaktifkan kembali," katanya.
Bambang menjelaskan, rute Ketapang-Lembar telah ditutup sekitar tiga tahun lalu. Kebijakan itu diambil untuk mengoptimalkan lintasan baru Pelabuhan Jangkar (Situbondo)–Pelabuhan Lembar (Lombok).
Namun dalam pelaksanaannya, jalur tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pengguna jasa, khususnya angkutan logistik. Banyak operator truk menganggap lintasan Ketapang-Lembar lebih efisien dari sisi jarak tempuh maupun biaya operasional.
"Pada realisasinya kurang sesuai dengan kebutuhan di lapangan sehingga pengguna jasa, khususnya truk angkutan logistik, menginginkan rute Ketapang-Lembar diaktifkan kembali karena dinilai lebih efisien secara jalur dan operasional," ujarnya.
Karena itu, Bambang berharap pemerintah pusat melalui kementerian terkait segera mengkaji dan merealisasikan pembukaan kembali jalur tersebut sebagai bagian dari solusi jangka panjang mengatasi kepadatan penyeberangan.
"Oleh karena itu kami mengharapkan pemerintah melalui kementerian terkait merealisasikan rute Ketapang-Lembar agar dibuka kembali," tegasnya.
Selain mengusulkan reaktivasi rute pelayaran, pemerintah juga terus memperkuat infrastruktur di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Nyono, mengatakan peningkatan kapasitas dermaga movable bridge di Pelabuhan Ketapang mulai dilakukan secara bertahap pada tahun ini.
Saat ini, dermaga hanya mampu melayani kapal dengan kapasitas sekitar 35 ton. Ke depan, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 50 ton agar proses bongkar muat kendaraan lebih cepat dan antrean dapat ditekan.
"Secara bertahap mulai tahun ini penambahan kapasitas beban dermaga movable bridge akan mulai dilaksanakan, dari kapasitas 35 ton menjadi 50 ton. Jadi tiap tahun satu pasang, baik di Ketapang maupun di sisi Gilimanuk," kata Nyono.
Peningkatan kapasitas dermaga dan usulan pembukaan kembali rute Ketapang-Lembar diharapkan menjadi solusi terpadu untuk memperlancar arus logistik, mengurangi kepadatan kendaraan pada musim libur maupun angkutan barang, serta meningkatkan konektivitas transportasi laut antara Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. (*)
Editor : Ali Sodiqin