RADAR BANYUWANGI – Budaya Oseng bersiap menembus panggung nasional melalui Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai mematangkan rencana pembangunan Kampung Oseng, sebuah kawasan budaya yang diproyeksikan menjadi miniatur Banyuwangi di ibu kota baru Indonesia. Saat ini, proses masih difokuskan pada pengurusan perizinan dan kepastian lahan, dengan target pembangunan rampung pada 2028.
Rencana tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan identitas budaya masyarakat Oseng kepada masyarakat dari berbagai daerah yang akan beraktivitas di IKN. Kawasan itu nantinya tidak hanya menampilkan rumah adat khas Banyuwangi, tetapi juga menjadi pusat pertunjukan seni, tradisi, hingga berbagai aktivitas budaya yang berlangsung secara berkelanjutan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Hartono mengatakan, pemerintah daerah siap memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan Kampung Oseng.
"Saat ini kami siapkan dulu untuk pengurusan perizinan yang dibutuhkan seperti apa," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi R. Alit Siswanto menjelaskan, luas lahan yang akan digunakan masih menunggu keputusan dari Otorita IKN. Berdasarkan informasi awal, kawasan yang disiapkan diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.
Menurutnya, kepastian ukuran dan lokasi lahan menjadi dasar penting sebelum penyusunan desain kawasan budaya dilakukan.
"Nanti setelah ukuran dan lokasi lahannya jelas baru bisa dirancang sesuai kondisi di lapangan," katanya.
Alit menegaskan, Kampung Oseng di IKN akan menjadi kawasan budaya pertama yang dibangun di luar Banyuwangi. Karena itu, konsep yang disiapkan harus mampu merepresentasikan karakter dan identitas masyarakat Oseng secara utuh.
"Kami tentu siap mendukung. Ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya Banyuwangi di tingkat nasional melalui kawasan budaya yang dibangun di IKN," katanya.
Dalam proses pengembangannya, Disbudpar juga akan menggandeng budayawan, seniman, serta berbagai elemen masyarakat Banyuwangi. Komunitas Ikawangi yang telah lama bermukim di Kalimantan diproyeksikan menjadi motor penggerak berbagai aktivitas budaya di kawasan tersebut.
"Selama ini Ikawangi yang ada di sekitar IKN cukup aktif berkegiatan. Ke depan mereka akan menjadi bagian penting dalam mengembangkan aktivitas budaya Banyuwangi di sana," imbuh Alit.
Konsep Kampung Oseng tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Kawasan itu dirancang sebagai ruang hidup budaya yang menghadirkan pertunjukan seni tradisional, ritual adat, kuliner khas, hingga berbagai ekspresi kearifan lokal Banyuwangi.
"Harapannya nanti Kampung Oseng benar-benar menjadi etalase budaya Banyuwangi di IKN, sehingga masyarakat dari berbagai daerah bisa mengenal lebih dekat tradisi dan kearifan lokal yang kita miliki," jelasnya.
Optimisme juga datang dari Ikawangi Penajam Paser Utara. Humas Ikawangi Penajam Paser Utara Roni Andreanto meyakini Kampung Oseng berpotensi menjadi salah satu destinasi budaya baru di kawasan IKN.
Menurutnya, kekuatan budaya Banyuwangi selama ini telah terbukti mampu menarik perhatian wisatawan sehingga memiliki peluang besar berkembang di ibu kota baru.
"Ada sekitar 28 ribu anggota Ikawangi di Kalimantan Timur. Jadi kami optimistis Kampung Oseng akan menjadi destinasi ke depan di IKN," tuturnya.
Sebelumnya, gagasan pembangunan Kampung Oseng mengemuka setelah perwakilan Ikawangi Penajam Paser Utara bertemu budayawan dan Disbudpar Banyuwangi untuk membahas konsep kawasan budaya tersebut pada Kamis (9/7). Ide itu muncul ketika Roni terlibat dalam pembangunan Kampung Dayak di kawasan IKN, yang kemudian menginspirasi lahirnya miniatur budaya Banyuwangi di jantung ibu kota baru Indonesia. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin