RADAR BANYUWANGI – Upaya mengurai kepadatan di lintasan penyeberangan Jawa-Bali mulai memasuki tahap nyata. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan peningkatan kapasitas dermaga di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dan Pelabuhan Gilimanuk, Bali, mulai dikerjakan tahun ini. Proyek tersebut menjadi langkah awal pengembangan pelabuhan secara bertahap untuk mengakomodasi terus meningkatnya arus kendaraan di jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia.
Kepastian itu disampaikan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur Nyono usai pertemuan jajaran Komisaris Utama dan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa beberapa waktu lalu.
Menurut Nyono, salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah percepatan pengembangan Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk guna meningkatkan kualitas layanan penyeberangan sekaligus mengantisipasi lonjakan kendaraan setiap tahun.
"Salah satu yang dibahas adalah peningkatan kapasitas dermaga di Ketapang dan Gilimanuk. Tahun ini mulai dikerjakan satu pasang dermaga, kemudian tahun depan dilanjutkan satu pasang lagi," ujarnya.
Ia menjelaskan, dermaga yang saat ini melayani kapal berkapasitas sekitar 35 ton akan ditingkatkan sehingga mampu melayani kapal berbobot hingga 50 ton. Dengan kapasitas yang lebih besar, proses bongkar muat kendaraan diharapkan berlangsung lebih cepat sehingga antrean kendaraan, terutama saat musim libur panjang, dapat ditekan.
Pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari rencana jangka panjang modernisasi Pelabuhan Ketapang. Hingga 2028 mendatang ditargetkan tersedia tiga pasang dermaga baru dengan kapasitas antara 50 hingga 80 ton.
"Targetnya pada 2028 sudah ada tiga pasang dermaga dengan kapasitas yang lebih besar sehingga pelayanan penyeberangan menjadi lebih optimal," kata Nyono.
Tak hanya menambah kapasitas dermaga, ASDP juga mengusulkan pembangunan jembatan penghubung dari kawasan Bulusan menuju Dermaga Landing Craft Machine (LCM). Infrastruktur tersebut diproyeksikan menjadi jalur alternatif bagi kendaraan logistik agar distribusi menuju pelabuhan lebih lancar.
Namun, rencana pembangunan akses baru tersebut masih berada pada tahap perencanaan. Salah satu pekerjaan besar yang harus diselesaikan adalah pembebasan lahan yang diperkirakan berdampak pada sekitar 30 rumah warga.
Karena itu, proyek tersebut membutuhkan sinergi antara PT ASDP Indonesia Ferry, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Perencanaannya dilakukan ASDP. Untuk pembebasan lahannya nanti perlu pembahasan bersama Pemkab Banyuwangi karena membutuhkan persetujuan bupati. Sedangkan pembangunan fisiknya direncanakan dikerjakan melalui skema pendanaan bersama antara Pemprov Jatim dan ASDP," jelas Nyono.
Ia berharap seluruh tahapan perencanaan dapat berjalan sesuai target sehingga pengembangan Pelabuhan Ketapang tidak hanya meningkatkan kapasitas dermaga, tetapi juga didukung jaringan akses logistik yang lebih memadai.
"Peningkatan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk mengatasi kepadatan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang terus meningkat setiap tahun," pungkasnya. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin