RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah bersiap memperkenalkan tabung gas alam terkompresi (Compressed Natural Gas/CNG) 3 kilogram sebagai alternatif LPG bersubsidi. Produk yang diberi nama Tabung CNG Merah Putih itu kini memasuki tahap akhir pengujian dan ditargetkan mulai diedarkan kepada masyarakat pada Juli 2026 apabila seluruh aspek keselamatan dinyatakan memenuhi standar.
Rencana tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Menurut Laode, pengembangan tabung CNG 3 kilogram telah memasuki uji coba tahap ketiga. Pemerintah kini tinggal menyelesaikan satu tahapan pengujian lagi sebelum produk resmi dipasarkan.
"Namanya tabung Merah Putih," ujar Laode.
Ia menambahkan, apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana, distribusi kepada masyarakat dapat dimulai pada Juli 2026.
Fokus Pengujian pada Aspek Keselamatan
Tahap akhir pengujian akan difokuskan pada keamanan tabung dan sistem valve atau katup yang menjadi komponen utama pengendali aliran gas menuju kompor.
Menurut Laode, aspek keselamatan menjadi prioritas karena CNG memiliki tekanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan LPG.
"Yang paling penting adalah safety dari valve dan tabungnya," katanya.
Valve berfungsi mengatur aliran gas dari dalam tabung menuju kompor sekaligus menjadi sistem pengaman untuk meminimalkan risiko kebocoran maupun ledakan.
Pemerintah bersama Lemigas akan memastikan seluruh komponen memenuhi standar keamanan sebelum tabung diproduksi secara massal.
Tahap Awal Masih Impor dari China
Meski akan dipasarkan sebagai produk nasional, pada tahap awal tabung CNG Merah Putih masih akan didatangkan dari China.
Laode menjelaskan, keputusan tersebut diambil karena produsen di China telah memiliki teknologi pembuatan tabung komposit tipe 4, yakni tabung berbahan serat komposit seperti fiberglass atau serat karbon dengan pelapis polimer di bagian dalam.
Material tersebut dinilai lebih ringan sekaligus mampu menahan tekanan gas yang sangat tinggi.
"Saat ini impor tabung dari China saja," ujarnya.
CNG Punya Tekanan Jauh Lebih Tinggi dari LPG
Berbeda dengan LPG rumah tangga yang bekerja pada tekanan sekitar 5 hingga 10 bar, CNG disimpan pada tekanan sekitar 200 hingga 250 bar.
Karena itu, tabung CNG membutuhkan konstruksi yang jauh lebih kuat agar tetap aman digunakan oleh masyarakat.
Sementara itu, Liquefied Natural Gas (LNG) memiliki tekanan yang jauh lebih rendah dibandingkan CNG.
Perbedaan karakteristik tersebut menjadi alasan pemerintah melakukan pengujian berlapis sebelum program dijalankan secara luas.
Kompor Lama Tetap Bisa Digunakan
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan proyek masifikasi CNG 3 kilogram dikembangkan bersama Pertamina sebagai alternatif pengganti LPG.
Menurut Bahlil, teknologi valve yang sedang diuji memungkinkan masyarakat tetap menggunakan kompor gas yang telah dimiliki tanpa perlu mengganti peralatan dapur.
Selain memudahkan pengguna, valve tersebut juga dirancang memiliki sistem pengaman tinggi.
Bahlil menyebut komponen itu diklaim mampu menahan risiko kebakaran maupun ledakan bahkan saat terpapar suhu ekstrem hingga sekitar 1.000 derajat Celsius.
CNG Sudah Digunakan di Sektor Komersial
Sebenarnya penggunaan CNG bukan hal baru di Indonesia.
Saat ini tabung CNG berkapasitas 12 kilogram dan 50 kilogram telah digunakan di berbagai sektor komersial, seperti dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, restoran, dan berbagai pelaku usaha horeka.
Keberhasilan penggunaan di sektor komersial menjadi salah satu dasar pemerintah memperluas pemanfaatan CNG ke sektor rumah tangga melalui tabung berukuran 3 kilogram.
Apabila seluruh tahapan pengujian selesai sesuai jadwal, kehadiran Tabung CNG Merah Putih diharapkan menjadi alternatif energi rumah tangga yang lebih aman, efisien, sekaligus mendukung pemanfaatan gas bumi dalam negeri. (*)
Editor : Ali Sodiqin