RADARBANYUWANGI.ID – Kepadatan kendaraan yang sempat mengular hingga sekitar tujuh kilometer di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, mulai berangsur terurai. Meski kondisi lalu lintas menuju pelabuhan mulai membaik, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersama seluruh pemangku kepentingan memilih tidak lengah dengan menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan selama masa libur sekolah.
Langkah antisipatif tersebut dilakukan mengingat lintasan Ketapang–Gilimanuk merupakan jalur penyeberangan paling strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali, sekaligus menjadi urat nadi distribusi logistik nasional.
Koordinasi intensif terus dilakukan ASDP bersama Kementerian Perhubungan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Kepolisian, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, hingga operator kapal. Fokusnya tidak hanya mengurai antrean yang sempat terjadi, tetapi juga memastikan kepadatan serupa tidak kembali terulang apabila volume kendaraan meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo, mengatakan seluruh pihak bergerak cepat menjaga kelancaran layanan penyeberangan sekaligus meminimalkan dampak kepadatan terhadap pengguna jasa.
"Kami memahami ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna jasa dan menyampaikan permohonan maaf atas kondisi yang terjadi. Sejak awal, seluruh pemangku kepentingan bekerja bersama untuk memastikan layanan tetap berjalan aman, lancar, dan andal," ujarnya.
Di lapangan, ASDP menerapkan pola operasi yang lebih adaptif dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia. General Manager ASDP Cabang Ketapang Arief Eko Kurniansjah menjelaskan, sebanyak 28 hingga 30 kapal kini dioperasikan setiap hari untuk melayani lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Seluruh fasilitas sandar dimanfaatkan secara maksimal, mulai Dermaga Moveable Bridge (MB), Landing Craft Machine (LCM), Dermaga Bulusan hingga ponton. Selain itu, pola tiba-bongkar-berangkat (TBB) terus diterapkan untuk memangkas waktu sandar sehingga siklus pelayaran menjadi lebih cepat.
"Kami mengoperasikan 28 hingga 30 kapal setiap hari, mengoptimalkan layanan di Dermaga MB, LCM, Bulusan, dan ponton, serta menerapkan pola TBB untuk mempercepat siklus pelayaran. Bersama seluruh stakeholder, kami juga melakukan pengaturan lalu lintas, pengelompokan kendaraan, dan pemanfaatan kantong parkir Bulusan agar antrean dapat terurai secara bertahap," jelas Arief.
Untuk memperlancar arus kendaraan, ASDP juga menerapkan pola pengelompokan berdasarkan jenis kendaraan. Kendaraan pribadi diprioritaskan melalui Dermaga MB I, MB II, MB III, dan ponton. Sementara kendaraan logistik berukuran besar diarahkan melalui MB IV dan tiga dermaga LCM sehingga proses bongkar muat menjadi lebih efisien.
Di sisi darat, ASDP bersama Satlantas Polresta Banyuwangi tetap mengaktifkan kantong parkir Bulusan sebagai buffer zone. Kawasan tersebut mampu menampung sekitar 400 kendaraan logistik.
Melalui sistem delaying, truk golongan VI ke atas diarahkan menunggu di kawasan Bulusan sebelum bergerak menuju pelabuhan ketika dermaga telah siap menerima muatan. Kebijakan ini dinilai efektif mengurangi penumpukan kendaraan di kawasan pelabuhan.
Selain itu, kendaraan kecil maupun mobil pribadi dari arah selatan Banyuwangi tetap diarahkan melalui Jalan Lingkar Ketapang untuk mengurangi kepadatan pada akses utama menuju pelabuhan.
ASDP juga terus memantau perkembangan cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Apabila kondisi cuaca berubah dan berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran, pola operasi akan segera disesuaikan agar layanan tetap berjalan optimal.
Masyarakat yang akan menyeberang diimbau merencanakan perjalanan lebih awal serta membeli tiket melalui aplikasi Ferizy sebelum tiba di pelabuhan guna mempercepat proses keberangkatan dan mengurangi antrean.
Selama masa libur sekolah, pengguna jasa juga masih dapat memanfaatkan program insentif berupa diskon 100 persen tarif jasa kepelabuhanan, yang secara rata-rata setara dengan pengurangan sekitar 21,9 persen dari total tarif tiket penyeberangan di tujuh lintasan strategis nasional, termasuk Ketapang–Gilimanuk.
"Dengan berbagai langkah tersebut, kami berharap potensi kepadatan pada hari-hari mendatang dapat diantisipasi sejak dini sehingga arus penyeberangan Jawa-Bali tetap lancar," harap Arief. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin