RADARBANYUWANGI.ID – Upaya besar-besaran yang dilakukan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk mengurai kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang mulai menunjukkan hasil. Setelah sempat mencapai 7,7 kilometer pada puncak kepadatan, antrean kendaraan kini berangsur menyusut menjadi sekitar 2,5 kilometer pada Kamis (25/6).
Penurunan panjang antrean tersebut terjadi setelah ASDP mengoptimalkan seluruh fasilitas pelabuhan dan mengerahkan armada secara maksimal di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Langkah percepatan dilakukan menyusul lonjakan kendaraan selama masa libur sekolah yang menyebabkan kepadatan parah sejak akhir pekan lalu.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo, mengatakan kemacetan mulai terjadi sejak Minggu (21/6) akibat meningkatnya mobilitas masyarakat yang menyeberang dari Jawa menuju Bali.
Selain lonjakan penumpang dan kendaraan, kondisi cuaca di Selat Bali turut memperlambat proses pelayanan penyeberangan.
"Kondisi angin dan gelombang yang meningkat membuat proses bongkar muat kapal harus dilakukan lebih hati-hati demi menjaga keselamatan pelayaran," ujarnya.
Lonjakan Kendaraan Capai 23 Persen
Data ASDP menunjukkan volume kendaraan yang masuk ke Pelabuhan Ketapang mengalami peningkatan signifikan dalam waktu singkat.
Pada Minggu (21/6), jumlah kendaraan yang dilayani mencapai 9.571 unit. Angka tersebut melonjak 23 persen dibanding hari sebelumnya yang tercatat sebanyak 7.769 unit.
Kenaikan paling tinggi berasal dari kendaraan pribadi roda empat yang mengalami lonjakan hingga 30 persen.
Tingginya mobilitas masyarakat selama libur sekolah menjadi faktor utama meningkatnya volume kendaraan yang hendak menyeberang ke Pulau Bali.
Operasional Kapal Terganggu
Kondisi kepadatan juga diperparah oleh terganggunya operasional dua kapal Long Distance Ferry (LDF) milik PT ALP.
Akibatnya, sebagian kendaraan logistik yang seharusnya menggunakan layanan LDF terpaksa dialihkan ke kapal reguler.
Peralihan tersebut membuat beban pelayanan di dermaga reguler meningkat dan memperpanjang waktu antrean kendaraan.
Situasi itu mendorong ASDP mengambil langkah darurat dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia.
Sebanyak 30 Kapal Dioperasikan
Untuk mempercepat normalisasi layanan, ASDP mengoperasikan sebanyak 30 kapal di Dermaga Moveable Bridge (MB).
Selain itu, Dermaga Bulusan juga diperkuat dengan tambahan layanan KMP Portlink VII guna mempercepat proses distribusi kendaraan.
Tak hanya itu, kapal-kapal yang beroperasi di Dermaga Landing Craft Machine (LCM) menjalankan pola full TBB (Tiba-Bongkar-Berangkat) agar kendaraan logistik dapat bergerak lebih cepat tanpa waktu tunggu yang panjang.
Sementara untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan roda dua, ASDP mengerahkan KMP Prathita yang beroperasi melalui dermaga ponton.
Langkah tersebut dinilai efektif mempercepat pergerakan kendaraan dan mengurangi penumpukan di area pelabuhan.
Fokus Pulihkan Kelancaran Arus Penyeberangan
Heru menegaskan seluruh jajaran ASDP bersama regulator dan pemangku kepentingan terkait terus bekerja selama 24 jam untuk memastikan arus kendaraan kembali normal.
Menurutnya, percepatan pelayanan menjadi prioritas utama mengingat lintasan Ketapang-Gilimanuk merupakan salah satu jalur transportasi dan logistik paling vital di Indonesia.
"Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia agar arus kendaraan dan penumpang kembali lancar," tegasnya.
Minta Maaf kepada Masyarakat
ASDP juga menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa penyeberangan yang terdampak kemacetan selama beberapa hari terakhir.
Kemacetan yang sempat mengular hingga beberapa kilometer tidak hanya menghambat perjalanan wisatawan, tetapi juga berdampak pada distribusi logistik dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Meski kondisi mulai membaik, ASDP memastikan langkah penguraian antrean tetap dilakukan hingga arus kendaraan benar-benar kembali normal.
Dengan antrean yang kini tersisa sekitar 2,5 kilometer, harapan untuk memulihkan kelancaran jalur penyeberangan Jawa-Bali mulai terlihat. Namun, tingginya mobilitas selama musim liburan membuat seluruh pihak tetap diminta waspada agar kepadatan serupa tidak kembali terjadi dalam beberapa hari ke depan. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin