Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Antrean ke Ketapang Banyuwangi Tembus 7,7 Kilometer, Cuaca Buruk Jadi Biang Keladi

Fredy Rizki Manunggal • Kamis, 25 Juni 2026 | 07:00 WIB
Antrean kendaraan pengangkut logistik masih memadati jalan raya depan markas Polairud Banyuwangi, tadi malam. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Antrean kendaraan pengangkut logistik masih memadati jalan raya depan markas Polairud Banyuwangi, tadi malam. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Arus kendaraan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang masih tersendat. Antrean panjang kendaraan dari arah utara pelabuhan terus mengular hingga mencapai sekitar 7,7 kilometer, membuat jalur menuju gerbang penyeberangan Jawa-Bali dipenuhi kendaraan logistik berukuran besar.

Hingga Selasa sore (24/6), kepadatan lalu lintas masih terlihat hingga kawasan Grand Watu Dodol (GWD). Deretan truk dan kendaraan angkutan barang mendominasi antrean yang bergerak lambat menuju area pelabuhan.

General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, mengatakan kondisi cuaca yang kurang bersahabat dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya kepadatan kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Menurutnya, potensi lonjakan kendaraan masih cukup besar karena periode puncak pergerakan penumpang dan kendaraan menuju Bali diperkirakan berlangsung mulai 29 Juni hingga 13 Juli mendatang.

“Kita juga mengantisipasi kedatangan bus pariwisata dan travel yang berdatangan. Peningkatan volume kita prediksi masih terus terjadi,” ujarnya.

Selain lonjakan volume kendaraan, gangguan cuaca di perairan Selat Bali turut memengaruhi kelancaran proses bongkar muat kapal. Pengawas Keselamatan dan Keamanan Pelayaran Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Satuan Pelayanan Pelabuhan Ketapang, Rahut Sianturi, menjelaskan arus bawah laut yang cukup kencang membuat sejumlah kapal kesulitan melakukan sandar, terutama di Pelabuhan LCM.

“Beberapa kapal tidak bisa bersandar di Pelabuhan LCM karena arus bawah laut,” katanya.

Rahut menyebutkan volume kendaraan yang masuk ke kawasan pelabuhan masih tergolong tinggi. Bahkan, kapasitas area penampungan kendaraan di dalam pelabuhan telah terisi sekitar 90 persen.

“Intensitas kendaraan di dalam area pelabuhan juga telah terisi sekitar 90 persen,” imbuhnya.

Untuk mengurangi dampak kepadatan, para pemangku kepentingan pelabuhan menerapkan berbagai strategi percepatan layanan. Salah satunya melalui skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) yang bertujuan mempercepat proses bongkar muat dan mempersingkat waktu sandar kapal.

Hingga pukul 16.25 WIB, skema tersebut masih diberlakukan di Dermaga IV, Dermaga LCM, dan Dermaga Bulusan. Beberapa kapal dioperasikan dengan sistem penuh, sementara lainnya menerapkan pola bergantian sesuai kondisi di lapangan.

“Penerapan TBB kita berlakukan dengan full dua kapal. Ada juga yang kita berlakukan selang-seling,” jelas Rahut.

Meski kepadatan kendaraan terus terjadi, operasional penyeberangan saat ini masih mengandalkan 29 kapal yang melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk dengan pola delapan trip perjalanan.

Namun, kondisi cuaca yang belum stabil membuat kapasitas pengangkutan kendaraan belum bisa dimaksimalkan. Akibatnya, laju pengurangan antrean berjalan lebih lambat dibanding volume kendaraan yang terus berdatangan ke pelabuhan.

“Kondisi cuaca ini semakin membuat parah kepadatan karena kita tidak bisa menaikkan kendaraan,” tegasnya.

Dengan prediksi puncak pergerakan penumpang yang masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan, seluruh pihak terkait kini terus melakukan antisipasi agar antrean kendaraan tidak semakin panjang dan layanan penyeberangan tetap berjalan optimal di tengah tantangan cuaca di Selat Bali. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#antrean kendaraan #pelabuhan ketapang #Grand Watu Dodol #cuaca buruk #selat bali