Setahun terakhir, jalur penyeberangan Jawa–Bali lewat Pelabuhan Ketapang kian tersumbat oleh antrean truk logistik yang tak kunjung terurai. Kemacetan yang bahkan meluber hingga kawasan wisata Grand Watudodol itu membuat para sopir harus rela terjebak berhari-hari, menguras biaya operasional, hingga mengganggu distribusi barang ke Pulau Dewata.
RADARBANYUWANGI.ID - Antrean truk logistik di kawasan Pelabuhan ASDP Ketapang kembali memuncak. Kemarin (23/6), kemacetan belum juga terurai dan bahkan memanjang hingga kawasan wisata Grand Watudodol (GWD). Kondisi ini membuat arus logistik Jawa–Bali tersendat parah.
Para sopir mengaku situasi tersebut sudah berlangsung hampir setahun. Jika sebelumnya penyeberangan hanya memakan waktu sekitar satu jam, kini mereka harus menunggu hingga satu–dua hari untuk bisa naik kapal.
“Masuk Senin pagi, sampai Selasa siang belum berangkat. Sudah sehari semalam,” keluh Yanto (54), sopir truk logistik.
Ia menilai jalur penyeberangan saat ini terlalu berbelit karena truk harus melalui kantong parkir Bulusan sebelum masuk ke kapal. Kondisi itu memperpanjang antrean dan menambah beban operasional.
Hal senada disampaikan Maman (47), sopir asal Jakarta. Ia menyebut dirinya sudah dua hari terjebak antrean bersama rekan-rekannya di Bulusan.
“Selebihnya padat terus. Kita harus siap bekal lebih banyak. Kalau telat, barang juga ikut terlambat,” ujarnya.
Untuk mengurangi beban para sopir, Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) membagikan ratusan nasi bungkus dan air minum di area dermaga Bulusan. Bantuan itu langsung diserbu para sopir yang sudah menunggu lebih dari dua hari.
Pembina ASLI, Slamet Barokah, menyebut peningkatan volume kendaraan logistik menjadi pemicu utama. Ia juga menyoroti ketidakseimbangan kapasitas dermaga antara Ketapang dan Gilimanuk.
“Dulu maksimal dua jam, sekarang bisa dua hari. Biaya sopir naik, bisa Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per hari,” tegasnya.
Sementara itu, KMP Portlink VII mulai dioperasikan untuk membantu mengurai kepadatan. Kapal tersebut menerapkan sistem tiba bongkar berangkat (TBB) dari dermaga Bulusan guna mempercepat arus kendaraan logistik.
General Manager ASDP Indonesia Ferry Ketapang, Arief Eko Kurniansyah, menyebut langkah ini sebagai upaya percepatan layanan penyeberangan di tengah lonjakan kendaraan.
“Portlink sudah kita operasikan dengan sistem TBB dari Bulusan,” ujarnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin