Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tanjungwangi Tersendat, Dua Kapal LDF Aktif Bikin Logistik Menumpuk di Pelabuhan Ketapang

Fredy Rizki Manunggal • Selasa, 23 Juni 2026 | 16:00 WIB
MUSIM LIBURAN SEKOLAH: Penumpang kapal berjalan kaki menuju kapal melewati selasar di Pelabuhan ASDP Ketapang, Senin (22/6). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MUSIM LIBURAN SEKOLAH: Penumpang kapal berjalan kaki menuju kapal melewati selasar di Pelabuhan ASDP Ketapang, Senin (22/6). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Kepadatan arus logistik di jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dalam beberapa pekan terakhir tidak terjadi tanpa sebab. Berkurangnya armada Long Distance Ferry (LDF) di Pelabuhan Tanjungwangi diduga menjadi pemicu utama meningkatnya antrean kendaraan barang di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Sejak awal Juni, jumlah kapal LDF yang melayani rute penyeberangan menuju Lombok melalui Tanjungwangi menyusut drastis dari empat kapal menjadi hanya dua armada aktif. Kondisi ini membuat distribusi kendaraan logistik terganggu dan memaksa sebagian truk beralih jalur melalui Ketapang menuju Bali.

Dua kapal yang masih beroperasi saat ini adalah Mutiara Ferindo 2 dan Mutiara Barat. Sementara dua kapal lainnya tidak dapat melayani pelayaran. Mutiara Berkah 2 mengalami kerusakan, sedangkan Mutiara Sentosa 3 tengah menjalani proses docking rutin.

Kasi Lalu Lintas KSOP Tanjungwangi, Budi Sanjoyo, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut sejak awal Juni layanan penyeberangan memang hanya mengandalkan dua kapal yang aktif beroperasi.

“Sejak awal Juni memang tinggal dua kapal yang beroperasi, sehingga pelayanan penyeberangan saat ini hanya dilayani dua armada,” ujarnya.

Dampak dari berkurangnya armada ini langsung terasa di lapangan. Arus kendaraan logistik yang biasanya terserap di lintasan Tanjungwangi kini beralih ke Pelabuhan Ketapang. Alhasil, volume truk yang masuk ke jalur Ketapang–Gilimanuk meningkat signifikan dan memicu antrean panjang di kawasan pelabuhan.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, menyebut pergeseran arus logistik tersebut menjadi salah satu faktor utama kepadatan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Menurutnya, kendaraan logistik yang biasanya terbagi di beberapa lintasan kini terkonsentrasi di Ketapang, sehingga menambah beban operasional pelabuhan.

“Hal itu terlihat dari laporan di dermaga ASDP Padang Bai yang juga mengalami peningkatan kendaraan logistik. Untuk Ketapang saat ini berada di angka 1.000–1.500 kendaraan per hari,” kata Arief.

Meski angka tersebut relatif stabil, persoalan muncul ketika kedatangan kendaraan tidak terjadwal merata. Truk-truk logistik kerap datang bersamaan, sehingga menumpuk di area pelabuhan dan memperpanjang antrean hingga ke jalur arteri.

“Angkanya selalu di rentang itu, tapi kedatangannya seringkali bersamaan jadi berdampak pada kepadatan,” tambahnya.

Kondisi ini membuat jalur Ketapang–Gilimanuk menjadi salah satu titik krusial pergerakan logistik Jawa–Bali dalam beberapa pekan terakhir. Selain faktor volume kendaraan, keterbatasan armada di lintasan lain turut memperbesar tekanan pada pelabuhan utama penyeberangan tersebut.

Dengan situasi ini, distribusi logistik lintas pulau kini menghadapi tantangan baru. Ketergantungan pada beberapa armada aktif membuat sistem penyeberangan rentan mengalami penumpukan ketika terjadi gangguan teknis maupun perawatan kapal.

Pihak operator berharap normalisasi armada LDF di Tanjungwangi dapat segera terjadi agar beban di Ketapang kembali terbagi dan arus logistik lebih stabil. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#kapal LDF #antrean logistik #Pelabuhan Tanjungwangi #asdp ketapang #ketapang gilimanuk