RADARBANYUWANGI.ID – Dampak pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah Jawa Timur mulai menjalar ke sektor ekonomi riil. Di Pasuruan dan Probolinggo, pelaku usaha dari berbagai sektor mengaku mengalami kerugian akibat terganggunya aktivitas produksi, distribusi, hingga pelayanan pelanggan karena pasokan listrik yang tak lagi stabil.
Kondisi ini memicu keresahan di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mereka khawatir pemadaman yang masih berlangsung dan belum memiliki kepastian kapan berakhir akan semakin menekan omzet usaha di tengah situasi ekonomi yang sudah penuh tantangan.
Dalam beberapa hari terakhir, pemadaman listrik bergilir terjadi di berbagai wilayah Pasuruan dan Probolinggo dengan durasi rata-rata sekitar tiga jam. Meski sebagian pelanggan menerima pemberitahuan sebelumnya, gangguan tersebut tetap berdampak signifikan terhadap kegiatan usaha yang sangat bergantung pada energi listrik.
Salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah sentra industri keset di Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Desa tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi keset terbesar di wilayah Pasuruan.
Ketika listrik padam dalam waktu cukup lama beberapa hari lalu, aktivitas produksi praktis berhenti total. Mesin jahit listrik yang menjadi tulang punggung proses produksi tidak dapat dioperasikan.
“Kalau listrik padam ya produksi berhenti total,” ujar Rini Setya, salah satu pengusaha keset di Desa Karangrejo.
Menurutnya, persoalan tidak berhenti ketika listrik kembali menyala. Beberapa mesin produksi membutuhkan proses pemanasan ulang sebelum dapat digunakan kembali secara normal.
Akibatnya, waktu produksi menjadi semakin panjang dan target penyelesaian pesanan pelanggan terancam molor.
“Begitu listrik hidup lagi, mesin tidak bisa langsung digunakan. Ada proses yang harus dilakukan terlebih dahulu,” katanya.
Tidak hanya industri rumahan, pemadaman juga berdampak pada pelaku usaha berbasis digital. Ely, warga Purwosari yang menjalankan usaha melalui platform marketplace, mengaku aktivitas bisnisnya terganggu ketika listrik padam selama sekitar tiga jam.
Meski telah menerima informasi sehari sebelumnya, gangguan tersebut tetap membuat sejumlah pekerjaan tertunda. Printer yang digunakan untuk mencetak resi pengiriman tidak dapat beroperasi sehingga proses pengemasan dan pengiriman pesanan pelanggan ikut terhambat.
“Kami memang sudah dapat pemberitahuan sebelumnya. Tapi karena listrik padam cukup lama, aktivitas jualan ikut terganggu,” tuturnya.
Keluhan serupa datang dari Bangil. Bahroji, perajin kopiah yang mengandalkan mesin produksi untuk memenuhi pesanan pelanggan, mengatakan pemadaman listrik membuat ritme kerja usahanya terganggu.
Mesin yang berhenti mendadak menyebabkan proses produksi terhenti dan waktu penyelesaian pesanan menjadi lebih lama.
“Kalau mesin berhenti mendadak, pekerjaan otomatis tertunda. Produksi jadi molor dan penyelesaian pesanan ikut mundur,” ujarnya.
Di Kota Pasuruan, dampak pemadaman juga dirasakan pelaku usaha kuliner dan minuman. Yuni Arwulan, 41, warga Purutrejo, Kecamatan Purworejo, mengaku harus memutar otak setiap kali listrik padam.
Sebagai penjual jus, sebagian besar peralatan usahanya membutuhkan energi listrik untuk beroperasi. Saat listrik mati, satu-satunya alternatif adalah menggunakan generator set (genset), yang tentu menambah biaya produksi.
“Kalau memakai genset, ongkos produksi pasti lebih mahal. Sementara kami tidak mungkin menaikkan harga jual karena pelanggan bisa berpindah ke tempat lain,” katanya.
Menurut Yuni, situasi tersebut semakin berat karena harga bahan baku seperti sayuran dan buah-buahan juga terus mengalami kenaikan.
“Sudah harga sayur naik terus, sekarang ada pemadaman bergilir. Jelas merepotkan kami,” keluhnya.
Dampak yang sama juga dirasakan para pelaku usaha di Kota Probolinggo. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah mengalami pemadaman listrik bergilir dengan durasi sekitar tiga jam.
Bagi Salim, 41, pedagang ikan beku di Kecamatan Mayangan, pemadaman listrik secara langsung memengaruhi kualitas produk yang dijualnya.
Saat listrik mati, freezer penyimpanan tidak dapat bekerja optimal sehingga ikan yang disimpan mulai melunak.
Kondisi tersebut membuat kualitas produk menurun dan harga jualnya ikut terkoreksi.
“Alhasil harganya turun sekitar 10 persen karena ikan menjadi lemas dan kualitas dagingnya berpotensi menurun,” ungkapnya.
Ia berharap ada perhatian khusus dari PLN terhadap kerugian yang dialami para pelaku usaha akibat pemadaman yang berulang.
Sementara itu, Eni, 49, pedagang es jus di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, mengaku terpaksa menutup usahanya lebih cepat ketika listrik padam pada Kamis (18/6).
Pemadaman yang berlangsung dari pukul 15.00 hingga 18.00 membuat blender yang digunakan untuk melayani pelanggan tidak dapat dioperasikan.
“Karena padam, kami akhirnya tutup lebih awal. Sejumlah pelanggan juga terpaksa kami tolak,” katanya.
Menurut Eni, kehilangan waktu operasional sekitar satu setengah jam saja berpotensi menghilangkan pendapatan hingga Rp 100 ribu dalam sehari.
Gangguan listrik juga berdampak pada sektor jasa. Reni, pegawai usaha laundry di Kecamatan Kanigaran, mengatakan seluruh aktivitas pencucian dan penyetrikaan harus dihentikan saat listrik padam.
Meski pelanggan masih bisa melakukan pengantaran dan pengambilan pakaian, pekerjaan utama tidak dapat dilakukan sehingga menumpuk untuk hari berikutnya.
“Seluruh kegiatan kerja berhenti total dan harus dikerjakan keesokan harinya. Ini jadi makan waktu dan tidak efisien,” ujarnya.
Reni berharap pemadaman tidak berlangsung terlalu lama dan tidak terlalu sering terjadi karena berpotensi memicu keluhan pelanggan.
“Kalau terus seperti ini, kami bisa dikomplain pelanggan karena penyelesaian pesanan terlambat,” katanya.
Di sisi lain, PLN mengakui adanya pemadaman bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pasuruan dan Probolinggo.
Manajer PLN UP3 Pasuruan Agus Susanto menjelaskan bahwa pemadaman bergilir mulai dilakukan sejak pekan lalu sebagai bagian dari manajemen beban akibat terganggunya pasokan listrik dari pembangkit.
Menurut dia, kendala teknis operasional pada pembangkit menyebabkan kapasitas suplai listrik berkurang sehingga diperlukan pengaturan sistem untuk menjaga keandalan jaringan secara keseluruhan.
“Sehubungan dengan adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di beberapa lokasi,” jelasnya.
Agus mengatakan langkah tersebut terpaksa dilakukan agar gangguan tidak berkembang menjadi lebih luas dan mengganggu sistem kelistrikan secara keseluruhan.
PLN juga mengaku belum dapat memastikan sampai kapan pemadaman bergilir akan berlangsung.
“Kami belum bisa memastikan pemadaman bergilir ini bisa terjadi sampai kapan. Yang pasti ini dilakukan untuk memastikan listrik tetap andal,” katanya.
Meski demikian, PLN memastikan fasilitas publik dan sektor industri strategis tetap menjadi prioritas dalam pengaturan beban.
Menurut Agus, setiap rencana pemadaman selalu mempertimbangkan kondisi riil di lapangan agar dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat dapat diminimalkan.
“Bisa dibayangkan jika industri atau sekolah yang sedang melaksanakan kegiatan penting dipadamkan dalam waktu lama. Dampaknya tentu tidak kecil,” ujarnya.
Sementara itu, Manajer PLN ULP Probolinggo Ocgik Wahyu Dewanto juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Ia menjelaskan bahwa pihak distribusi hanya menjalankan kebijakan pengaturan beban akibat berkurangnya pasokan dari sisi pembangkit.
“Terkait kendala detail di sisi pembangkitnya, kami kurang tahu karena kami berada di sisi distribusi,” ujarnya.
PLN memastikan perkembangan proses pemulihan akan terus disampaikan kepada masyarakat melalui kanal komunikasi resmi perusahaan.
Di tengah belum adanya kepastian kapan pemadaman berakhir, pelaku usaha berharap proses pemulihan dapat berlangsung cepat. Sebab bagi mereka, setiap jam listrik padam bukan sekadar gangguan teknis, melainkan potensi kerugian yang secara langsung menggerus pendapatan dan mengancam keberlangsungan usaha. (*)
Editor : Ali Sodiqin