Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pemadaman Listrik Tanpa Pemberitahuan Dikeluhkan Pelaku Usaha Malang, Kerugian Mulai Mengintai

Ali Sodiqin • Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:31 WIB
TIGA JAM PEMADAMAN: Zunaida, pemilik toko kelontong di Jalan Ikan Piranha, Kecamatan Blimbing menyalakan lilin untuk membantu penerangan, kemarin siang (19/6). (Darmono/Radar Malang)
TIGA JAM PEMADAMAN: Zunaida, pemilik toko kelontong di Jalan Ikan Piranha, Kecamatan Blimbing menyalakan lilin untuk membantu penerangan, kemarin siang (19/6). (Darmono/Radar Malang)

RADARBANYUWANGI.ID – Pemadaman listrik bergilir yang masih terjadi di sejumlah wilayah Malang Raya mulai menimbulkan dampak nyata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktivitas produksi terganggu, penyelesaian pesanan tertunda, hingga potensi penurunan omzet menjadi konsekuensi yang kini harus ditanggung para pelaku usaha.

Keluhan bermunculan dari berbagai sektor usaha yang selama ini bergantung pada pasokan listrik untuk menjalankan operasional harian. Mulai dari jasa jahit, laundry, pangkas rambut hingga pedagang ritel mengaku mengalami kerugian akibat pemadaman yang berlangsung tanpa kepastian waktu.

Salah satu yang terdampak adalah Yuliati, pemilik Rumah Vermak Malang (RVM) di Jalan Puntodewo, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing. Pemadaman listrik yang terjadi pada Kamis pagi (19/6) membuat pekerjaan yang seharusnya selesai tepat waktu terpaksa tertunda.

Listrik padam sejak sekitar pukul 08.45 hingga menjelang siang. Akibatnya, mesin jahit dan peralatan pendukung tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan pesanan pelanggan.

“Padahal ada 16 pesanan jahitan yang harus saya selesaikan,” ujar Yuliati.

Karena pekerjaan sebelumnya belum selesai, dia bahkan terpaksa menolak dua pelanggan yang datang membawa pesanan baru. Situasi tersebut membuat dirinya kehilangan potensi pendapatan sekaligus harus menjelaskan keterlambatan kepada pelanggan yang sudah menunggu.

Menurut Yuliati, pemadaman listrik di wilayahnya bukan hanya terjadi sekali. Dalam sepekan terakhir, listrik sudah dua kali padam. Bahkan pada pekan sebelumnya, wilayah tersebut mengalami tiga kali pemadaman.

Yang membuat pelaku usaha semakin kecewa, pemadaman disebut terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Pemadamannya itu juga mendadak, tidak ada pemberitahuan,” keluhnya.

Padahal, dalam kondisi normal, Rumah Vermak Malang rata-rata melayani tiga pelanggan setiap hari. Satu pelanggan bahkan bisa membawa lebih dari satu pesanan jahitan.

“Kadang satu pelanggan membawa tiga jahitan, bahkan ada yang sampai belasan. Dengan kondisi seperti ini pelanggan ya harus maklum,” katanya.

Tidak hanya usaha jahit, dampak pemadaman listrik juga dirasakan Sulistyoningsih, pemilik usaha laundry yang lokasinya tidak jauh dari tempat usaha Yuliati.

Dalam sehari, Sulis dapat menerima hingga 50 kilogram pakaian pelanggan untuk dicuci dan disetrika. Namun ketika listrik padam, seluruh proses produksi terhenti karena mesin cuci dan peralatan pengering tidak dapat dioperasikan.

Saat pemadaman terjadi, terdapat sekitar lima kilogram pakaian pelanggan yang belum bisa diproses.

“Saya sedang ada lima kilogram pesanan. Biasanya pesanan-pesanan itu saya selesaikan dalam dua hari, tapi sekarang jadi terlambat. Saya minta pelanggan menunggu,” tuturnya.

Keterlambatan penyelesaian pesanan menjadi risiko yang sulit dihindari. Jika kondisi pemadaman terus berulang, kepercayaan pelanggan juga dikhawatirkan dapat menurun.

Gangguan operasional juga dialami usaha jasa potong rambut. Assegaf Potong Rambut yang berlokasi di Jalan Ikan Piranha, Kecamatan Blimbing, sempat menghentikan layanan beberapa saat karena alat cukur listrik tidak dapat digunakan.

Pemilik usaha, Saiful, mengaku beruntung masih memiliki alat cukur portable yang baterainya sudah terisi penuh sebelum pemadaman terjadi.

“Untung saja sudah saya isi penuh baterainya. Kalau dayanya habis dan listrik tak kunjung menyala, nanti tidak bisa potong rambut lagi,” ujarnya.

Meski masih dapat melayani pelanggan, penggunaan alat cadangan hanya menjadi solusi sementara. Jika pemadaman berlangsung lebih lama, aktivitas usaha tetap berpotensi berhenti total.

Dampak lain juga dirasakan sektor perdagangan. Toko Kelontong Dutra Jaya yang berada di kawasan yang sama mengaku mengalami kekhawatiran terhadap produk yang membutuhkan pendingin.

Pemilik toko, Zunaida, mengatakan listrik padam selama berjam-jam membuat es krim yang dijual mulai mencair.

“Sudah tiga jam mati lampunya,” katanya.

Menurutnya, semakin lama pemadaman berlangsung maka semakin besar pula risiko kerusakan barang dagangan yang membutuhkan suhu dingin untuk menjaga kualitas produk.

Pemadaman listrik juga sempat melanda kawasan Pasar Gadang pada Kamis malam (18/6) sekitar pukul 19.00. Kondisi pasar sempat gelap gulita selama beberapa menit sebelum sejumlah pedagang menyalakan genset secara mandiri.

Akibat minimnya penerangan, aktivitas jual beli sempat terganggu. Beberapa pedagang terpaksa melayani pembeli dalam kondisi gelap karena generator cadangan mereka tidak dapat digunakan.

Koordinator listrik Pasar Gadang, Sabar, menyayangkan tidak adanya pemberitahuan rinci terkait jadwal pemadaman.

“Yang disayangkan tidak ada pemberitahuan sebelumnya,” ujarnya.

Menurut dia, PLN sebelumnya hanya menyampaikan bahwa terdapat potensi pemadaman bergilir selama bulan ini. Namun tidak dijelaskan secara detail lokasi maupun waktu pelaksanaannya.

Saat pemadaman terjadi, pihak pengelola pasar sempat berkoordinasi dengan vendor PLN yang bertugas di kawasan tersebut. Namun listrik baru kembali normal sekitar pukul 22.00.

Menanggapi banyaknya keluhan masyarakat dan pelaku usaha, PLN UP3 Malang menjelaskan bahwa pemadaman bergilir masih berpotensi terjadi karena adanya gangguan pada sistem pembangkit listrik.

PLN mengakui belum dapat memastikan kapan kondisi tersebut akan sepenuhnya berakhir. Selain itu, perusahaan juga belum bisa memprediksi secara pasti wilayah mana yang akan terdampak maupun waktu terjadinya pemadaman.

Assistant Manager Komunikasi dan Umum PLN UP3 Malang Yudianti mengatakan, masyarakat yang mengalami gangguan dapat menyampaikan laporan melalui kanal resmi PLN.

Pelanggan dapat memanfaatkan fitur pengaduan pada aplikasi PLN Mobile maupun melalui grup WhatsApp yang dikelola masing-masing Unit Layanan Pelanggan (ULP).

“Atau bisa melalui WA Group masing-masing ULP, minta penanggung jawab ULP untuk mengarahkan,” jelasnya.

Di tengah ketidakpastian jadwal pemadaman, pelaku UMKM berharap PLN dapat mempercepat pemulihan sistem sekaligus meningkatkan transparansi informasi kepada pelanggan. Sebab bagi pelaku usaha kecil, listrik bukan hanya fasilitas pendukung, melainkan faktor utama yang menentukan kelancaran produksi dan keberlangsungan usaha.

Jika pemadaman terus berulang tanpa kepastian, dampaknya bukan hanya keterlambatan pesanan dan penurunan omzet. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi daya saing UMKM yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kota Malang dan sekitarnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#listrik bergilir #PLN Malang #Pemadaman listrik Malang #UMKM Malang #dampak pemadaman