RADARBANYUWANGI.ID - Jawa kembali mengalami pemadaman listrik bergilir pada pertengahan Juni 2026. Gangguan yang menjalar dari Jabodetabek hingga sejumlah kota di Jawa Timur itu sempat dijelaskan sebagai persoalan teknis pembangkit.
Namun, beberapa hari kemudian muncul pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mengakui adanya tantangan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik nasional.
Perbedaan narasi inilah yang kini memunculkan pertanyaan publik: apa sebenarnya penyebab gangguan listrik yang terjadi di Pulau Jawa?
Pemadaman berlangsung pada 10–12 Juni 2026 dan dirasakan pelanggan di berbagai wilayah. Sejumlah kawasan Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Depok, Sukabumi, hingga kota-kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, Kediri, Madiun, dan Bojonegoro dilaporkan mengalami pemadaman bergilir selama sekitar satu hingga tiga jam.
PLN saat itu mengambil langkah manajemen beban untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan Jawa-Bali. Langkah tersebut dilakukan setelah kemampuan pasokan listrik berkurang akibat gangguan operasional pada pembangkit.
Dalam holding statement yang disampaikan PLN, perusahaan menjelaskan bahwa terdapat kendala teknis operasional pada pembangkit dan dua unit pembangkit besar mengalami gangguan sehingga tidak dapat beroperasi sementara.
Kondisi itu menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik dan memaksa operator melakukan pengaturan beban secara terbatas di sejumlah wilayah.
Penjelasan serupa juga disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Pada tahap awal, dia secara tegas membantah anggapan bahwa pemadaman dipicu kelangkaan batu bara.
"Kalau dikatakan bahwa masalah batu bara itu langka, enggak benar," tegas Bahlil.
Menurut dia, pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit masih aman karena pemerintah telah menetapkan alokasi Domestic Market Obligation (DMO) sekitar 170 juta ton. Bahlil bahkan menyebut penyebab utama gangguan listrik berasal dari masalah teknis pada sejumlah mesin pembangkit milik PLN.
Pernyataan itu menjadi pegangan publik ketika Kementerian ESDM memanggil jajaran PLN untuk mengusut penyebab pasti pemadaman. Investigasi difokuskan pada unit-unit pembangkit yang mengalami gangguan operasional guna memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Namun, perkembangan berikutnya menghadirkan dimensi baru.
Dalam pernyataan yang dimuat jaringan media Jawa Pos beberapa hari setelah insiden, Bahlil mengungkapkan bahwa PLN masih menghadapi kekurangan pasokan batu bara sekitar 18–20 juta ton untuk memenuhi kebutuhan tahun 2026. Dia juga mengakui batu bara kalori menengah sekitar 5.200 kcal semakin sulit diperoleh di pasar.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian karena berbeda dengan penjelasan awal yang menegaskan bahwa batu bara bukan penyebab pemadaman.
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menyimpulkan bahwa pemadaman listrik di Jawa pada Juni 2026 terjadi akibat kekurangan batu bara. PLN tetap menyatakan gangguan dipicu persoalan teknis pada dua unit pembangkit besar yang mengurangi kemampuan pasokan sistem Jawa-Bali.
Di sisi lain, pengakuan mengenai tantangan pasokan batu bara kalori menengah membuka diskusi lebih luas mengenai ketahanan energi nasional. Sebab, batu bara jenis tersebut merupakan salah satu bahan bakar utama sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menopang kebutuhan listrik Jawa-Bali.
Pertanyaannya kini bukan hanya soal mengapa listrik sempat padam, melainkan apakah sistem kelistrikan nasional memiliki cadangan pasokan energi yang cukup kuat ketika gangguan teknis dan tantangan rantai pasok terjadi secara bersamaan.
Publik menunggu hasil investigasi yang dilakukan pemerintah dan PLN. Sebab, kejelasan penyebab gangguan menjadi penting untuk memastikan peristiwa yang sempat mengganggu aktivitas jutaan pelanggan di Pulau Jawa itu tidak kembali terulang di masa mendatang. (*)
Editor : Ali Sodiqin