RADARBANYUWANGI.ID – Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, kembali menjadi magnet bagi masyarakat yang ingin menjalani ritual, refleksi diri, hingga tirakat pada malam Satu Suro. Meski jumlahnya menurun dibanding tahun lalu, kawasan yang dikenal sarat nuansa mistis dan spiritual itu tetap dipadati 1.334 pengunjung dalam semalam.
Ribuan orang tersebut datang pada Senin malam (15/6) hingga Selasa dini hari (16/6), bertepatan dengan momentum pergantian Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, sejumlah wilayah Pulau Jawa, bahkan luar pulau.
Malam yang biasanya sunyi dan gelap di kawasan hutan Alas Purwo mendadak berubah ramai. Tenda-tenda berdiri di sejumlah titik, terutama di kawasan Pantai Pancur. Sebagian pengunjung memilih berdiam diri untuk berdoa dan bermeditasi, sementara lainnya melakukan tradisi melekan hingga menjelang pagi.
Berdasarkan data TNAP, jumlah pengunjung pada malam Satu Suro tahun ini mencapai 1.334 orang. Angka tersebut memang lebih rendah dibanding perayaan serupa pada 2025 yang mampu menembus sekitar 2.000 pengunjung.
Petugas TNAP, Bagio, menjelaskan bahwa penurunan jumlah pengunjung diduga dipengaruhi adanya dua versi perhitungan pergantian tahun yang dipercaya masyarakat.
“Total pengunjung yang datang dalam satu malam sebanyak 1.334 orang berdasarkan data masuk. Kemungkinan jumlahnya lebih sedikit dibanding tahun lalu karena ada perbedaan pandangan mengenai malam pergantian tahun, yakni antara Senin malam dan Selasa malam,” ujarnya.
Menurut Bagio, puncak kepadatan terjadi sekitar pukul 00.00. Setelah itu sebagian pengunjung memilih beristirahat di area perkemahan Pantai Pancur, sementara sebagian lainnya langsung meninggalkan kawasan Alas Purwo.
Pengamanan Diperketat
Membludaknya pengunjung membuat aparat gabungan melakukan pengamanan khusus di kawasan hutan konservasi tersebut. Personel Polsek Tegaldlimo bersama TNI, petugas TNAP, Polhut, Satpol PP, pemerintah kecamatan, hingga tim medis disiagakan sepanjang malam.
Kapolsek Tegaldlimo AKP Sadimun mengatakan, petugas melakukan patroli rutin hingga ke lokasi-lokasi perkemahan yang ditempati pengunjung.
“Kami bersama petugas gabungan melakukan pengamanan dan siaga di kawasan hutan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung. Anggota juga berkeliling ke tenda-tenda yang didirikan masyarakat di sekitar pantai,” katanya.
Selain menjaga keamanan, petugas juga memberikan sejumlah imbauan kepada pengunjung. Mereka diminta menjaga barang bawaan, tidak bermain atau mandi di laut, serta berhati-hati saat menyalakan api unggun agar tidak memicu kebakaran hutan.
Pengunjung juga dianjurkan membawa senter mengingat kondisi kawasan Alas Purwo yang minim penerangan pada malam hari. Selain itu, setiap pengunjung diminta melapor dan mendata diri di Pos Rowobendo sebelum memasuki kawasan.
“Selama kegiatan malam Suro berlangsung situasi aman dan terkendali. Tidak ada kejadian menonjol yang mengganggu keamanan maupun keselamatan pengunjung,” tegas Sadimun.
Tetap Ramai Meski Menurun
Salah satu pengunjung, Dodik, mengaku suasana malam Satu Suro di Alas Purwo tahun ini tetap terasa ramai meskipun jumlah pelaku ritual tidak sebanyak tahun sebelumnya.
Menurut dia, sebagian masyarakat masih berbeda pandangan mengenai penentuan malam pergantian tahun sehingga kedatangan pengunjung terpecah dalam dua malam berbeda.
“Kalau dibandingkan tahun lalu memang lebih sedikit yang datang untuk ritual. Tapi suasananya tetap ramai dan terasa khidmat karena banyak orang yang melakukan tirakat dan refleksi diri,” ungkapnya.
Alas Purwo sendiri selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu lokasi yang kerap menjadi tujuan masyarakat saat malam Satu Suro. Selain memiliki nilai spiritual bagi sebagian kalangan, kawasan taman nasional ini juga menjadi tempat pelaksanaan berbagai bentuk ritual dan perenungan yang diyakini membawa ketenangan batin.
Tahun ini, meski jumlah pengunjung turun hampir 700 orang dibandingkan 2025, angka 1.334 pengunjung dalam satu malam tetap menunjukkan bahwa Alas Purwo masih menjadi destinasi spiritual favorit masyarakat saat memasuki tahun baru dalam kalender Hijriah maupun penanggalan Jawa. (why)
Editor : Ali Sodiqin