RADARBANYUWANGI.ID – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar mulai memukul aktivitas transportasi di wilayah Banyuwangi Barat. Sudah sepekan terakhir, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kalibaru tidak menerima pasokan solar dari Pertamina. Akibatnya, para sopir truk, terutama armada pengangkut pekerja perkebunan, harus menempuh perjalanan belasan kilometer ke Kecamatan Glenmore hanya untuk mengisi tangki.
Kondisi tersebut menciptakan pemandangan kontras di dua SPBU yang berada di kecamatan bertetangga itu, Senin (15/6).
Di SPBU Krikilan, Kecamatan Glenmore, antrean kendaraan tampak mengular hingga ke tepi jalan raya. Sebagian besar kendaraan yang mengantre merupakan truk-truk perkebunan yang datang dari Kalibaru sejak pagi hari.
Sebaliknya, suasana lengang justru terlihat di SPBU Kalibaru.
Area pengisian solar tampak kosong. Tak ada satu pun kendaraan yang mengantre. Nozzle atau kran pengisian solar terlihat terparkir rapi tanpa aktivitas.
Sopir Terpaksa Cari Solar ke Kecamatan Sebelah
Kelangkaan solar ini menjadi beban tambahan bagi para sopir yang setiap hari menggantungkan aktivitasnya pada ketersediaan BBM bersubsidi.
Salah seorang pengemudi armada truk perkebunan yang meminta namanya tidak disebutkan mengaku harus mengubah pola kerja demi menjaga operasional tetap berjalan.
"Sudah lebih dari lima hari ini solar di Kalibaru kosong sama sekali. Kami terpaksa ke Glenmore," keluhnya.
Menurut dia, perjalanan menuju Glenmore untuk mengisi solar tentu menambah biaya operasional.
Padahal, sebelum mengangkut pekerja perkebunan, truk sudah lebih dulu menghabiskan bahan bakar untuk berpindah lokasi pengisian.
Situasi tersebut memaksanya lebih cermat mengatur penggunaan BBM.
"Harus pintar-pintar menghemat bahan bakar. Ritme kerja diatur ketat supaya solar yang ada cukup untuk mengangkut para pekerja pulang-pergi," imbuhnya.
Bagi para sopir, solar bukan sekadar bahan bakar.
Ketersediaannya menentukan kelancaran aktivitas ekonomi, terutama di wilayah perkebunan yang bergantung pada armada angkutan untuk mobilitas pekerja maupun distribusi hasil panen.
SPBU Kalibaru Tak Terima Pasokan Selama Tujuh Hari
Penyebab kelangkaan solar di Kalibaru akhirnya terungkap.
Perwakilan SPBU Kalibaru, Dori, membenarkan bahwa SPBU tempatnya bekerja sudah tidak menerima kiriman solar dari Pertamina selama tujuh hari terakhir.
Menurut dia, penghentian pasokan itu terjadi karena SPBU sedang menjalani masa sanksi.
"Benar, SPBU Kalibaru saat ini tengah mendapat sanksi, sehingga tidak mendapat kiriman solar sejak tujuh hari lalu," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Namun, Dori belum bersedia menjelaskan lebih rinci terkait pelanggaran yang menyebabkan sanksi tersebut dijatuhkan.
Ia hanya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan pelanggan yang terdampak akibat terhentinya pasokan solar.
"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pelanggan atas ketidaknyamanan ini," tuturnya.
Belum diketahui hingga kapan penghentian distribusi solar ke SPBU Kalibaru akan berlangsung.
Masyarakat berharap pasokan dapat kembali normal mengingat kebutuhan solar di kawasan tersebut cukup tinggi.
Konsumsi Pertamax Turun, Pertalite Justru Meningkat
Di tengah persoalan solar, SPBU Kalibaru juga mencatat perubahan pola konsumsi BBM nonsubsidi.
Dori mengungkapkan, sejak harga Pertamax mencapai Rp 16.250 per liter, terjadi penurunan konsumsi yang cukup signifikan.
Sebagian pengguna kendaraan yang sebelumnya rutin menggunakan Pertamax mulai beralih ke Pertalite.
Fenomena tersebut membuat volume penjualan Pertamax menurun dibandingkan periode sebelumnya.
"Ada kenaikan pembelian Pertalite yang cukup tajam sejak harga Pertamax naik. Yang biasanya 20 ribu liter per hari, sekarang jadi 16 ribu liter saja," ungkapnya.
Harapan Pasokan Segera Normal
Kelangkaan solar di Kalibaru menjadi pengingat bahwa distribusi BBM memiliki peran vital dalam menjaga roda perekonomian masyarakat.
Bagi para sopir truk, terutama yang melayani sektor perkebunan, ketersediaan solar bukan hanya soal mengisi tangki, tetapi juga menyangkut keberlangsungan pekerjaan dan pendapatan mereka.
Kini, mereka hanya berharap pasokan solar segera kembali normal sehingga aktivitas angkutan di Banyuwangi Barat dapat berjalan seperti sediakala tanpa harus mengantre jauh hingga ke kecamatan sebelah. (sas/aif)
Editor : Ali Sodiqin