RADARBANYUWANGI.ID – Malam pergantian Tahun Baru Hijriah selalu menghadirkan suasana yang berbeda di Banyuwangi. Ada yang menggelar selamatan, doa bersama, pawai obor, hingga jamasan pusaka. Namun, satu tradisi yang selalu menyita perhatian adalah ritual tirakatan Malam 1 Suro di kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP).
Sejak Senin sore (15/6), ribuan orang mulai berdatangan ke kawasan yang berada di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama: menjalani ritual spiritual dan tirakatan pada malam yang diyakini sakral oleh masyarakat Jawa.
Malam 1 Suro memang bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa. Bagi sebagian masyarakat, malam tersebut menjadi momentum untuk introspeksi diri, memanjatkan doa, hingga menjalani laku spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Goa Istana Jadi Pusat Ritual Spiritual
Di antara sejumlah lokasi yang menjadi tujuan para peziarah, Goa Istana menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi.
Goa yang berada di sebelah timur Pantai Pancur, sekitar satu kilometer dengan akses jalan setapak itu, telah lama dikenal sebagai tempat sakral bagi para pelaku spiritual.
Banyak orang dari berbagai aliran kepercayaan, perguruan, maupun pelaku ilmu kejawen datang ke lokasi tersebut untuk melakukan ritual.
Sebagian menjalani semedi, sebagian lainnya melakukan tapa brata atau laku prihatin sebagai bentuk pengendalian diri dan pencarian ketenangan batin.
Suasana di sekitar Goa Istana tampak berbeda dari hari biasanya. Aroma dupa bercampur semilir angin pantai menciptakan suasana hening yang sarat nuansa spiritual.
Pengunjung Mulai Berdatangan Sejak Sore
Petugas TNAP mencatat, pengunjung mulai berdatangan sejak pukul 15.00.
Mereka tidak hanya berasal dari kalangan spiritual, tetapi juga anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang datang bersama keluarga maupun rombongan.
Puncak kegiatan ritual berlangsung di kawasan Pantai Pancur dan Pantai Triangulasi.
Setelah menjalani ritual di berbagai lokasi, para pengunjung biasanya beristirahat di tenda-tenda yang didirikan di sekitar kawasan Pantai Pancur.
"Setelah melakukan ritual di berbagai tempat seperti Goa Istana, Parang Ireng hingga Goa Mayangkara, mereka melekan di tendanya masing-masing. Untuk tenda kami arahkan ke area Pancur," ujar petugas TNAP, Sugiyo.
Hingga pukul 17.00, jumlah pengunjung diperkirakan telah melampaui 500 orang.
Namun, angka tersebut diyakini masih akan terus bertambah.
"Semakin malam semakin ramai, puncaknya pukul 12 malam," terangnya.
Diperkirakan Lebih Sedikit dari Tahun Sebelumnya
Meski begitu, jumlah pengunjung Malam 1 Suro tahun ini diperkirakan sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya.
Hal itu disebabkan adanya perbedaan pandangan mengenai penentuan malam pergantian tahun.
Sebagian masyarakat meyakini Malam 1 Suro jatuh pada Senin malam (15/6), sementara sebagian lainnya meyakini berlangsung pada Selasa malam (16/6).
"Tapi masih belum diketahui, datanya nunggu rekap. Ada kemungkinan menurun sebab ada dua kepercayaan," beber Sugiyo.
Perbedaan tersebut tidak mengurangi kekhusyukan masyarakat dalam menjalani ritual maupun doa yang mereka yakini.
PCNU Banyuwangi Gelar Refleksi dan Doa Bersama
Di tempat lain, suasana religius juga terasa di halaman Kantor PCNU Banyuwangi.
Sejak pukul 17.00, organisasi keagamaan tersebut menggelar refleksi akhir tahun Hijriah yang diisi pembacaan doa bersama.
Tak hanya itu, acara juga dimeriahkan dengan penampilan musikalisasi puisi dan musik gambus yang dibawakan para seniman dari Lesbumi.
Puisi-puisi bernuansa religius mengalun syahdu berpadu dengan iringan musik, menghadirkan suasana khidmat sekaligus hangat.
Ketua PCNU Banyuwangi Achmad Turmudzi mengatakan, malam 1 Muharram merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi diri.
"Malam 1 Muharam 1448 H adalah momen pergantian tahun umat Islam berdasarkan kalender Hijriah. Malam ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, memperbanyak ibadah, dan memanjatkan doa agar diberikan keberkahan di tahun yang akan datang," ujarnya.
Momentum Introspeksi dan Harapan Baru
Bagi masyarakat Banyuwangi, Malam 1 Suro dan Tahun Baru Hijriah bukan sekadar tradisi tahunan.
Di balik ritual tirakatan di Alas Purwo, doa-doa yang dipanjatkan di musala, hingga refleksi yang digelar organisasi keagamaan, tersimpan harapan agar tahun yang baru membawa keberkahan dan kehidupan yang lebih baik.
Karena itulah, meski zaman terus berubah, tradisi menyambut Malam 1 Suro tetap hidup dan menjadi bagian penting dari denyut spiritual masyarakat Banyuwangi. (why/aif)
Editor : Ali Sodiqin