Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Malam 1 Muharram di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tirakat

Ali Sodiqin • Senin, 15 Juni 2026 | 16:00 WIB
Pemkab Situbondo menggelar pawai 1 Muharram menyambut Tahun Baru Islam, Selasa (18/7) malam.
INI TAHUN LALU: Pemkab Situbondo menggelar pawai 1 Muharram menyambut Tahun Baru Islam, tahun lalu.

RADARBANYUWANGI.ID – Saat matahari terbenam dan kalender Hijriah berganti, suasana berbeda terasa di berbagai daerah di Indonesia. Tidak ada pesta kembang api atau hingar-bingar perayaan. Sebaliknya, masyarakat menyambut malam 1 Muharram dengan pawai obor, pengajian, doa bersama, hingga tirakat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus introspeksi diri.

Malam 1 Muharram atau Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah. Momen ini menjadi pengingat peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah perjalanan besar yang mengubah sejarah peradaban Islam.

Karena itu, peringatan Tahun Baru Islam lebih banyak diisi dengan kegiatan bernuansa religius dan budaya yang sarat makna spiritual.

Pawai Obor, Tradisi yang Selalu Dinanti

Salah satu tradisi yang paling populer adalah pawai obor.

Di berbagai daerah, mulai Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan hingga Sulawesi, masyarakat berbondong-bondong turun ke jalan membawa obor bambu.

Anak-anak, remaja hingga orang tua berjalan mengelilingi kampung sambil melantunkan salawat, takbir dan doa bersama.

Pawai obor bukan sekadar atraksi budaya.

Obor yang menyala menjadi simbol cahaya iman dan ilmu, sekaligus harapan agar kehidupan di tahun yang baru menjadi lebih baik.

Karena itu, tradisi ini hampir selalu menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat.

Pengajian dan Doa Bersama

Selain pawai obor, malam 1 Muharram juga identik dengan pengajian dan doa bersama.

Masjid, mushala, pondok pesantren hingga majelis taklim biasanya dipenuhi jamaah yang ingin mengisi malam pergantian tahun dengan ibadah.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan beragam, mulai pembacaan Al-Qur'an, zikir dan istighfar, tausiyah tentang makna hijrah, hingga pembacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun.

Tak sedikit pula yang menjadikan malam tersebut sebagai momentum muhasabah atau introspeksi diri.

Mereka merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir, sekaligus menyusun harapan dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Malam 1 Suro, Tradisi Khas Tanah Jawa

Di Pulau Jawa, malam 1 Muharram memiliki makna yang lebih luas karena bertepatan dengan Malam 1 Suro dalam kalender Jawa.

Penanggalan Jawa tersebut disusun oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada 1633 Masehi dengan memadukan kalender Saka dan kalender Hijriah.

Sejak saat itu, awal tahun Jawa selalu bertepatan dengan awal tahun Hijriah.

Bagi masyarakat Jawa, Malam 1 Suro merupakan malam yang sakral.

Malam tersebut dimanfaatkan untuk melakukan introspeksi diri, tirakat, mengendalikan hawa nafsu, hingga memperbanyak doa.

Karena itu, suasana malam 1 Suro cenderung hening dan khidmat, jauh dari kesan pesta ataupun hiburan.

Tapa Bisu Mubeng Beteng di Yogyakarta

Tradisi yang paling terkenal di Yogyakarta adalah Tapa Bisu Mubeng Beteng.

Ribuan peserta berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa berbicara sepatah kata pun.

Sebagian peserta bahkan tidak makan, minum maupun merokok selama prosesi berlangsung.

Tradisi tersebut melambangkan pengendalian diri, perjalanan spiritual manusia, serta refleksi atas perjalanan hidup selama satu tahun.

Heningnya suasana justru menjadi ruang untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kirab Pusaka dan Kebo Bule di Solo

Sementara itu, masyarakat Surakarta atau Solo memiliki tradisi Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta.

Pusaka-pusaka keraton diarak mengelilingi kota setelah terlebih dahulu menjalani ritual pembersihan atau jamasan.

Yang paling menarik perhatian adalah kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet, kerbau putih yang dianggap sebagai hewan pusaka keraton.

Kerbau tersebut berjalan di bagian depan rombongan kirab dan selalu menjadi pusat perhatian ribuan warga.

Sebagian masyarakat percaya Kebo Bule Kyai Slamet membawa berkah dan keselamatan.

Meski demikian, para budayawan menilai makna utama kirab adalah penghormatan terhadap tradisi dan sarana refleksi spiritual.

Jamasan Pusaka hingga Minum Susu Putih

Malam 1 Muharram juga identik dengan tradisi Jamasan Pusaka, yakni membersihkan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, kereta kencana maupun benda warisan leluhur lainnya.

Ritual ini tidak hanya dilakukan di lingkungan keraton, tetapi juga masyarakat yang memiliki pusaka keluarga.

Maknanya bukan semata membersihkan benda secara fisik, melainkan simbol penyucian diri dan harapan memulai tahun baru dengan hati yang bersih.

Di sejumlah daerah dan lingkungan pesantren, terdapat pula tradisi minum susu putih.

Tradisi yang dikaitkan dengan amalan ulama Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, itu dimaknai sebagai simbol kesucian hati, keberkahan, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun baru.

Ziarah dan Tirakat

Sebagian masyarakat juga mengisi malam 1 Muharram dengan ziarah makam leluhur.

Ada pula yang menjalani tirakat dengan berpuasa, berdiam diri, memperbanyak doa, dan istighfar.

Tradisi tersebut dilandasi keyakinan bahwa malam 1 Muharram merupakan momentum yang tepat untuk membersihkan hati dan memperkuat spiritualitas.

Momentum Hijrah Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Pada akhirnya, Tahun Baru Islam tidak identik dengan pesta maupun kemeriahan.

Perayaan ini berakar pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam.

Karena itu, makna utama 1 Muharram adalah semangat berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga meningkatkan kepedulian sosial, mempererat persaudaraan, dan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Di tengah perkembangan zaman, berbagai tradisi malam 1 Muharram itu terus bertahan. Sebab di balik setiap obor yang menyala, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap langkah tirakat yang dijalani, tersimpan harapan agar tahun yang baru membawa keberkahan serta kehidupan yang lebih baik. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#malam 1 Muharram #pawai obor #tradisi islam #tahun baru islam #malam 1 suro