RADARBANYUWANGI.ID – Ketika malam pergantian tahun tiba, sebagian masyarakat dunia merayakannya dengan pesta dan gemerlap hiburan. Namun, suasana berbeda justru terasa di Tanah Jawa. Memasuki Malam 1 Suro, masyarakat memilih hening, berdoa, bertirakat, dan melakukan berbagai ritual yang sarat makna spiritual.
Malam 1 Suro merupakan malam pergantian tahun dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Penanggalan Jawa sendiri disusun oleh Sultan Agung dari Mataram pada 1633 Masehi dengan memadukan kalender Saka dan Hijriah.
Sejak saat itu, Malam 1 Suro menjadi momentum penting bagi masyarakat Jawa untuk melakukan introspeksi diri, menyucikan batin, sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru.
Tradisi yang dilakukan pun beragam. Mulai dari tapa bisu, kirab pusaka, jamasan, hingga ziarah makam leluhur. Semua memiliki satu benang merah: mendekatkan diri kepada Tuhan dan merefleksikan perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Malam Sakral yang Sarat Makna
Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang identik dengan pesta kembang api dan hiburan, Malam 1 Suro justru berlangsung dalam suasana yang tenang dan penuh perenungan.
Bagi masyarakat Jawa, malam tersebut bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan menyusun harapan baru.
Karena itulah, hingga kini berbagai tradisi turun-temurun masih dijaga dan terus dilestarikan.
Tapa Bisu Mubeng Beteng, Tradisi Hening di Yogyakarta
Salah satu tradisi paling terkenal adalah Tapa Bisu Mubeng Beteng yang digelar di Yogyakarta.
Dalam tradisi ini, ribuan peserta berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka juga dianjurkan tidak makan, minum, maupun merokok selama prosesi berlangsung.
Tapa bisu dimaknai sebagai bentuk pengendalian diri dan refleksi atas perjalanan hidup selama satu tahun terakhir.
Suasana hening yang menyelimuti jalanan justru menghadirkan kekhusyukan tersendiri. Setiap langkah menjadi simbol perjalanan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Selain tapa bisu, Keraton Yogyakarta juga menggelar kirab pusaka dan jamasan pusaka sebagai bagian dari rangkaian peringatan malam 1 Suro.
Kirab Pusaka dan Kebo Bule yang Legendaris
Di Surakarta atau Solo, Malam 1 Suro identik dengan Kirab Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta.
Dalam tradisi tersebut, pusaka-pusaka keraton yang telah dijamas atau dibersihkan diarak mengelilingi kota.
Yang paling menarik perhatian masyarakat adalah kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet, kerbau putih yang dianggap sebagai hewan pusaka keraton.
Kerbau tersebut berjalan di barisan terdepan dan selalu menjadi pusat perhatian ribuan warga yang memadati rute kirab.
Sebagian masyarakat meyakini Kebo Bule Kyai Slamet membawa berkah dan keselamatan. Tidak sedikit yang berebut menyentuh ataupun mengambil sisa pakan kerbau tersebut karena dianggap membawa keberuntungan.
Meski demikian, esensi kirab sebenarnya bukan pada unsur mistis, melainkan penghormatan terhadap tradisi serta momentum refleksi spiritual.
Jamasan Pusaka, Simbol Penyucian Diri
Tradisi lain yang tak kalah populer adalah Jamasan Pusaka.
Jamasan merupakan ritual membersihkan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, kereta kencana, maupun benda warisan leluhur lainnya.
Namun, ritual ini tidak sekadar membersihkan benda secara fisik.
Bagi masyarakat Jawa, jamasan merupakan simbol penyucian diri dari sifat-sifat buruk dan ajakan untuk memulai tahun baru dengan hati yang bersih.
Tradisi ini tidak hanya dilakukan di lingkungan keraton, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki pusaka keluarga.
Bubur Suro dan Tradisi Berbagi
Malam 1 Suro juga identik dengan sajian khas bernama Bubur Suro atau Bubur Suran.
Bubur ini terbuat dari beras yang dimasak dengan santan dan berbagai rempah, kemudian disajikan bersama lauk seperti opor ayam, telur, serta aneka kacang-kacangan.
Bagi masyarakat Jawa, Bubur Suro bukan hanya makanan.
Sajian tersebut menjadi simbol rasa syukur dan harapan agar kehidupan di tahun yang baru dipenuhi keberkahan, kesejahteraan, serta kemakmuran.
Di sejumlah daerah, Bubur Suro bahkan dibagikan kepada tetangga dan masyarakat sekitar sebagai bentuk sedekah dan mempererat tali persaudaraan.
Ziarah dan Tirakat hingga Mitos yang Masih Diyakini
Selain ritual-ritual tersebut, sebagian masyarakat Jawa juga melakukan ziarah ke makam leluhur pada malam 1 Suro.
Ada pula yang menjalani tirakat dengan berpuasa, berdiam diri, memperbanyak doa, hingga bermeditasi.
Tradisi ini didasarkan pada keyakinan bahwa Malam 1 Suro merupakan waktu yang sakral untuk membersihkan hati dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Di sisi lain, malam ini juga kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan pantangan.
Sebagian masyarakat memilih menghindari hajatan besar seperti pernikahan atau pesta karena menganggap Malam 1 Suro sebagai waktu yang sakral.
Namun para budayawan menilai, esensi Malam 1 Suro bukanlah soal mistis atau hal-hal gaib.
Lebih dari itu, Malam 1 Suro merupakan warisan budaya yang mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, melakukan introspeksi, mengendalikan diri, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan dan sesama.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, nilai-nilai itulah yang membuat tradisi Malam 1 Suro tetap bertahan dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Jawa hingga kini. (*)
Editor : Ali Sodiqin