RADARBANYUWANGI.ID - Kepadatan yang nyaris menjadi pemandangan harian di jalur menuju Pelabuhan Ketapang dalam sebulan terakhir ternyata bukan semata dipicu tingginya mobilitas menuju Bali. Beroperasinya sebagian ruas Tol Probolinggo-Banyuwangi (Prosiwangi) hingga Besuki, Situbondo, disebut ikut mempercepat kedatangan kendaraan logistik ke Banyuwangi dan menambah tekanan pada lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Fenomena itu terungkap dari evaluasi yang dilakukan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi bersama operator penyeberangan. Dalam beberapa pekan terakhir, antrean kendaraan, khususnya truk logistik, kerap mengular di akses menuju pelabuhan penyeberangan tersibuk yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali tersebut.
Kepala KSOP Tanjung Wangi, Capt Purgana, mengatakan kepadatan yang terjadi dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan. Selain meningkatnya volume kendaraan yang menuju Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB), kondisi tersebut juga diperparah oleh keterbatasan kapasitas infrastruktur pelabuhan serta berkurangnya armada pada lintasan tertentu.
Menurutnya, Pelabuhan Ketapang hingga kini masih menjadi simpul utama distribusi kendaraan dan logistik menuju Bali maupun NTB. Seiring pertumbuhan ekonomi dan aktivitas distribusi barang, jumlah kendaraan yang melintas terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Semakin hari, semakin minggu, semakin bulan bahkan tahun, volume kendaraan yang mengarah ke Bali dan NTB terus meningkat. Apalagi saat terjadi pengurangan kapal dari lintasan Tanjung Wangi,” ujarnya.
Purgana menilai mulai beroperasinya akses Tol Prosiwangi hingga wilayah Besuki memberikan dampak signifikan terhadap kecepatan distribusi kendaraan menuju Banyuwangi. Kendaraan logistik kini dapat menempuh perjalanan lebih singkat dibanding sebelumnya sehingga tiba di Pelabuhan Ketapang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Data yang dihimpun menunjukkan adanya peningkatan volume kendaraan sekitar 2 hingga 3 persen sejak sebagian ruas tol mulai difungsikan.
“Dari perhitungan ASDP peningkatan di angka 2 sampai 3 persen. Padahal tol belum sepenuhnya selesai. Jadi ini sangat berpengaruh,” katanya.
Dermaga Belum Seimbang, Kendaraan Menumpuk di Titik Tertentu
Di tengah meningkatnya arus kendaraan, kapasitas pelayanan pelabuhan dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah perbedaan kapasitas moveable bridge (MB) atau jembatan bergerak di masing-masing dermaga.
Saat ini Pelabuhan Ketapang memiliki sembilan dermaga ditambah satu dermaga landing craft, sementara Pelabuhan Gilimanuk memiliki tujuh dermaga. Namun tidak seluruh fasilitas memiliki kemampuan yang sama dalam melayani kendaraan berbobot besar.
Akibatnya, kendaraan logistik cenderung terkonsentrasi pada dermaga tertentu yang memiliki kapasitas lebih besar seperti Landing Craft Machine (LCM) dan MB 4. Kondisi ini memicu antrean panjang meski masih tersedia dermaga lain.
“Sebenarnya faktor paling utama adalah meng-upgrade MB menjadi 50 ton semuanya. Kalau semua sama kapasitasnya, konsentrasi kendaraan tidak hanya menumpuk di LCM atau MB4, tetapi bisa terbagi merata ke seluruh dermaga,” jelas Purgana.
Menurutnya, peningkatan kapasitas dermaga menjadi langkah strategis yang dapat memberikan dampak langsung terhadap kelancaran arus kendaraan tanpa harus menambah lahan baru dalam waktu dekat.
InaPortnet Dievaluasi, Keselamatan Tetap Prioritas
Selain persoalan fisik pelabuhan, sistem digital InaPortnet juga sempat menjadi sorotan sejumlah pihak. Namun KSOP menegaskan sistem tersebut merupakan platform nasional yang diterapkan di berbagai pelabuhan Indonesia sehingga perubahan tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh otoritas daerah.
Purgana menjelaskan InaPortnet hadir untuk meningkatkan transparansi administrasi dan transaksi kepelabuhanan. Meski demikian, pihaknya tetap membuka ruang evaluasi berdasarkan masukan dari operator lapangan.
“Kami akan cari bagian mana yang bisa dipersingkat menjadi shortcut, kemudian diusulkan ke pusat. Tapi aspek keselamatan tetap tidak boleh dikurangi,” tegasnya.
ASDP Siapkan Tambahan Kapasitas Dermaga
Sementara itu, General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, mengakui keberadaan tol baru membuat arus kendaraan logistik menuju Banyuwangi menjadi lebih cepat dibanding sebelumnya.
Jika dulu kendaraan membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk mencapai Pelabuhan Ketapang dari wilayah tertentu di Jawa Timur, kini waktu tempuh bisa jauh lebih singkat. Dampaknya, volume kendaraan yang datang dalam satu periode menjadi lebih besar.
“Jadi kendaraan yang biasanya butuh waktu enam jam untuk sampai di Ketapang, kini bisa lebih cepat. Ditambah lagi ini merupakan lintasan sibuk yang mayoritas merupakan kendaraan logistik,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka pendek, ASDP saat ini tengah mengupayakan peningkatan kapasitas salah satu dermaga agar setara dengan fasilitas berkapasitas 50 ton yang sudah ada.
“Kita upayakan dalam jangka pendek bisa meningkatkan kapasitas dermaga. Jadi ada satu lagi dermaga dengan kapasitas setara LCM dan MB 4,” pungkasnya.
Dengan tren pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat dan proyek Tol Prosiwangi yang belum sepenuhnya rampung, tekanan terhadap lintasan Ketapang-Gilimanuk diperkirakan masih akan terus berlangsung. Karena itu, peningkatan kapasitas dermaga dan optimalisasi sistem operasional menjadi langkah mendesak untuk menjaga kelancaran distribusi logistik antara Pulau Jawa dan Bali. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin