RADARBANYUWANGI.ID – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah organisasi mahasiswa lintas kampus bergerak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Jumat (12/6). Mereka membawa sederet kritik terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Aksi tersebut menjadi sorotan karena massa memilih berangkat menggunakan transportasi umum berupa angkutan kota (angkot) dan bus dari Kampus Universitas Indonesia di Depok menuju pusat ibu kota. Selain menyuarakan aspirasi, cara keberangkatan itu sekaligus menjadi simbol kedekatan mahasiswa dengan realitas masyarakat sehari-hari.
Sejak pukul 11.00 WIB, massa telah berkumpul di Lapangan FISIP UI. Mayoritas mengenakan pakaian serba hitam yang dipadukan dengan jas almamater kuning khas Universitas Indonesia. Sejumlah spanduk bernada kritik juga tampak dibawa peserta aksi.
Di antaranya bertuliskan “Menuju Indonesia Bangkrut” dan “Sweet 18 Rupiahku”, yang merujuk pada kondisi ekonomi serta nilai tukar rupiah yang menjadi perhatian mahasiswa.
Dalam orasinya, mahasiswa menyampaikan kekecewaan terhadap berbagai persoalan yang mereka nilai belum mendapatkan solusi memadai dari pemerintah.
"Hari ini menunjukkan bahwa kita sudah muak, kita tidak akan diam, kita tidak sendiri," seru salah seorang orator di hadapan peserta aksi.
Simbol Pakaian Hitam dan Kekhawatiran Masa Depan
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan, menjelaskan bahwa pakaian hitam yang dikenakan peserta bukan sekadar pilihan busana, melainkan simbol atas situasi yang mereka pandang semakin mengarah pada ketidakpastian.
Menurutnya, mahasiswa ingin menunjukkan kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dianggap berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
"Karena kita menyadari bahwa harapan sudah mulai pupus dan juga akan mengarah ke kegelapan. Tapi kita tetap memakai jaket almamater supaya bisa saling mengenali," ujarnya.
Yatalathof menyebut aksi tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa UI. Sejumlah organisasi mahasiswa dari kampus lain juga turut bergabung, di antaranya BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), BEM Pancasila, BEM NF, IPB, hingga UIN.
Soroti Lapangan Kerja, Harga Naik, hingga BBM Subsidi
Dalam tuntutannya, mahasiswa menyoroti berbagai persoalan ekonomi yang dinilai semakin dirasakan masyarakat. Mereka menilai pertumbuhan ekonomi yang selama ini dipublikasikan belum sepenuhnya tercermin dalam kondisi riil di lapangan.
Menurut mereka, kesempatan kerja semakin terbatas, sementara kebutuhan hidup terus meningkat.
"Lapangan kerja makin menyempit, harga sudah naik semua, dan pajak masih diterapkan kepada rakyat menengah ke bawah, termasuk rakyat kecil," kata Yatalathof.
Selain persoalan ekonomi, mahasiswa juga menyoroti seringnya pemadaman listrik di sejumlah daerah serta keluhan masyarakat terkait distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dinilai mulai sulit diperoleh di beberapa wilayah.
Mereka meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi tersebut agar tidak menimbulkan dampak sosial yang lebih luas.
Bawa Tagar “Menuju Indonesia Bangkrut”
Tagar “Menuju Indonesia Bangkrut” menjadi tema utama dalam aksi kali ini. Namun, menurut mahasiswa, istilah tersebut tidak hanya dimaknai dari sisi ekonomi semata.
Mereka menilai ancaman yang dihadapi bangsa juga berkaitan dengan kualitas demokrasi dan moralitas publik.
"Kita menganggap jika kondisi tidak membaik, maka sesuai tagar kami, Indonesia bisa bangkrut secara ekonomi, bangkrut secara demokrasi, dan juga bangkrut secara moralitas bangsa," tegas Yatalathof.
Aksi mahasiswa di Bundaran HI diperkirakan menjadi salah satu rangkaian demonstrasi yang akan terus bergulir apabila tuntutan mereka tidak mendapatkan respons memadai. Dengan mengusung isu ekonomi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, gerakan mahasiswa kali ini berupaya menarik perhatian publik terhadap berbagai persoalan yang mereka anggap semakin mendesak untuk diselesaikan pemerintah. (*)
Editor : Ali Sodiqin