RADARBANYUWANGI.ID – Sebanyak 1.810 perlintasan sebidang kereta api di Indonesia hingga kini masih belum dijaga. Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan pengguna jalan dan perjalanan kereta api, sehingga pemerintah mempercepat program penutupan perlintasan sebidang di berbagai daerah.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan, pemerintah telah menutup 172 perlintasan sebidang dan saat ini tengah memproses penutupan 490 titik lainnya. Sementara itu, masih terdapat 1.148 lokasi yang masuk dalam daftar penanganan berikutnya.
Perkembangan tersebut telah dilaporkan Menhub kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/6).
"Presiden kami informasikan mengenai progres percepatan penanganan perlintasan sebidang yang sedang dijalankan pemerintah," ujar Dudy kepada wartawan, dikutip Antara.
Ribuan Perlintasan Masih Menyimpan Risiko
Perlintasan sebidang menjadi salah satu titik rawan kecelakaan transportasi karena mempertemukan jalur kereta api dan arus kendaraan dalam satu bidang yang sama. Risiko semakin tinggi pada lokasi yang tidak memiliki penjagaan maupun fasilitas pengamanan yang memadai.
Berdasarkan data pemerintah, terdapat 3.674 perlintasan sebidang yang terdata secara nasional. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.810 titik masih tidak dijaga.
Rinciannya, 172 perlintasan berada pada jalan dengan lebar kurang dari dua meter, sedangkan 1.638 titik lainnya berada di jalan dengan lebar lebih dari dua meter.
Meski pemerintah telah menutup 172 perlintasan, jumlah tersebut baru sekitar 4,7 persen dari total perlintasan sebidang yang terdata. Karena itu, percepatan penanganan dinilai penting untuk menekan potensi kecelakaan di masa mendatang.
Bagi masyarakat, keberadaan perlintasan tanpa penjagaan masih menjadi ancaman nyata. Pengendara dituntut lebih waspada karena kesalahan kecil saat melintas dapat berujung pada kecelakaan fatal.
Jabodetabek Jadi Prioritas Penanganan
Menhub menjelaskan kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menjadi wilayah dengan jumlah penanganan perlintasan sebidang terbanyak.
Tingginya mobilitas kendaraan dan frekuensi perjalanan kereta api membuat kawasan tersebut menjadi prioritas dalam program peningkatan keselamatan perkeretaapian nasional.
Menurut Dudy, terdapat sekitar 166 titik yang menjadi fokus penanganan di wilayah Jabodetabek.
KAI Siapkan Teknologi Keselamatan Baru
Selain penutupan perlintasan sebidang, pemerintah juga mendorong peningkatan sistem keselamatan berbasis teknologi.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebelumnya menyampaikan rencana penerapan teknologi automatic train protection (ATP) pada jaringan kereta api konvensional.
Teknologi tersebut berfungsi meningkatkan keselamatan dan keamanan perjalanan kereta dengan membantu pengawasan operasional serta meminimalkan risiko kesalahan yang dapat memicu kecelakaan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya modernisasi sistem perkeretaapian nasional yang diharapkan mampu meningkatkan perlindungan bagi penumpang maupun pengguna jalan.
Stasiun Gambir Akan Direvitalisasi
Dalam pertemuan dengan Presiden, Menhub juga melaporkan rencana renovasi Stasiun Gambir yang ditargetkan berlangsung dalam dua tahun ke depan.
Revitalisasi tersebut akan dilakukan dengan konsep integrasi bersama layanan KRL Commuter Line sehingga memudahkan perpindahan moda transportasi bagi masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan penguatan fungsi Stasiun Manggarai sebagai hub utama transportasi berbasis kereta api di kawasan perkotaan.
Pengembangan infrastruktur tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem transportasi yang lebih terintegrasi, efisien, dan aman seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat.
Percepatan penutupan perlintasan sebidang menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. Pemerintah berharap kombinasi penataan infrastruktur dan pemanfaatan teknologi keselamatan dapat menciptakan perjalanan kereta api yang lebih aman bagi seluruh pengguna transportasi.
Editor : Lugas Rumpakaadi