Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kenaikan Pertamax Ubah Pola BBM, Pertalite Diserbu Pengendara Mobil

M Ksatria Raya • Jumat, 12 Juni 2026 | 06:30 WIB
BEREBUT PERTALITE: Antrean mobil dan sepeda motor di jalur Pertalite di SPBU Karangente, Jalan Brawijaya Banyuwangi, Kamis (11/6). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
BEREBUT PERTALITE: Antrean mobil dan sepeda motor di jalur Pertalite di SPBU Karangente, Jalan Brawijaya Banyuwangi, Kamis (11/6). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Kenaikan harga Pertamax yang mendekati Rp 4.000 per liter di Banyuwangi langsung memicu pergeseran besar pola konsumsi bahan bakar di lapangan.

Dalam hitungan hari, antrean yang biasanya didominasi kendaraan roda dua di jalur Pertalite kini berubah menjadi deretan mobil yang mengular, sementara jalur Pertamax justru tampak lengang meski di jam sibuk.

Fenomena ini terpantau di sejumlah SPBU di Banyuwangi, mulai dari Sukowidi, Kelurahan Penataban, Karangente, hingga Kampung Melayu, sejak Rabu (10/6) hingga Kamis (11/6).

Perubahan paling mencolok terlihat pada jam-jam sibuk pagi dan sore, ketika mobil pribadi kini ikut berebut antrean Pertalite bersama sepeda motor.

Jika sebelumnya jalur Pertalite identik dengan dominasi sepeda motor, kondisi kini berubah signifikan. Mobil-mobil pribadi mulai dari kendaraan harian hingga jenis LCGC terlihat memenuhi antrean, memperpanjang barisan hingga ke bahu jalan di beberapa titik SPBU.

Sebaliknya, jalur Pertamax justru menunjukkan kondisi sepi. Di sejumlah SPBU, hanya terlihat dua hingga tiga kendaraan yang mengisi, baik mobil maupun sepeda motor. Mayoritas kendaraan yang masih menggunakan Pertamax merupakan mobil dengan spesifikasi mesin yang direkomendasikan untuk bahan bakar beroktan tinggi, seperti Honda HR-V, Mitsubishi Xpander, hingga Nissan Livina.

Pengawas SPBU Karangente, Anis Fauriyah, membenarkan adanya perubahan pola konsumsi tersebut sejak kenaikan harga Pertamax dalam beberapa hari terakhir.

“Sejak naiknya BBM Pertamax dua hari lalu, pengendara yang antre untuk mengisi Pertamax lumayan sepi dibandingkan minggu sebelumnya,” ujar Anis.

Ia menambahkan, meski Pertalite selama ini memang selalu ramai oleh sepeda motor, namun kini terjadi peningkatan signifikan pada jumlah mobil yang ikut mengantre. Kondisi ini berbeda dari pekan sebelumnya yang masih didominasi kendaraan roda dua.

“Kalau Pertalite memang selalu ramai terutama sepeda motor, tetapi minggu sebelumnya masih ada antrean mobil, sekarang justru lebih banyak lagi yang ikut antre,” katanya.

Meski terjadi pergeseran pola konsumsi, Anis memastikan stok Pertamax maupun Pertalite di SPBU tetap normal seperti minggu-minggu sebelumnya. Tidak ada perubahan distribusi yang signifikan di tengah lonjakan antrean tersebut.

Berdasarkan data aplikasi MyPertamina, harga Pertamax kini naik menjadi Rp 16.250 per liter, atau naik sekitar Rp 3.950 dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Kenaikan yang hampir menyentuh Rp 4.000 ini menjadi pemicu utama perubahan perilaku konsumen BBM di lapangan.

Di sisi lain, dampak kenaikan harga ini langsung dirasakan pengguna kendaraan pribadi. Buang, warga Kelurahan Kebalenan yang menggunakan Honda Brio Satya, mengaku memilih beralih ke Pertalite untuk menekan biaya operasional harian.

“Saya ikut antre di Pertalite karena Pertamax naiknya tidak masuk akal sampai hampir Rp 4 ribuan,” ujarnya.

Menurutnya, lonjakan harga Pertamax sangat berpengaruh terhadap pengeluaran rutin, terutama bagi pengguna kendaraan yang setiap hari bergantung pada mobil untuk mobilitas kerja dan aktivitas keluarga.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan harga BBM dalam waktu singkat mampu menggeser perilaku konsumsi masyarakat secara langsung, sekaligus mengubah wajah antrean SPBU di Banyuwangi dalam hitungan hari. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#BBM Naik #SPBU Banyuwangi #antrean Pertalite #MyPertamina #harga pertamax